Intip perayaan Tabaski: Tradisi kurban yang penuh harmoni
Intip perayaan Tabaski, tradisi kurban di Afrika yang sarat makna Iduladha, lengkap dengan sejarah, budaya, dan praktik dalam menghidupi perayaannya.

Intip perayaan Tabaski: Tradisi kurban yang penuh harmoni. (Sumber: YouTube/Peloka)
Intip perayaan Tabaski: Tradisi kurban yang penuh harmoni. (Sumber: YouTube/Peloka)
Hari Raya Iduladha diperingati setiap 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah sebagai bentuk penghormatan atas kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Peristiwa ini menjadi simbol ketaatan dan bentuk ibadah kepada Allah SWT, ketika Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya sebelum akhirnya digantikan dengan hewan sembelihan. Peristiwa yang terjadi antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut kemudian menjadi dasar ibadah kurban yang dijalankan umat Muslim di seluruh dunia.
Iduladha dirayakan oleh lebih dari 1,9 miliar Muslim setiap tahunnya di seluruh dunia, dengan praktik utama berupa penyembelihan hewan kurban dan daging yang didapat dibagikan kepada masyarakat luas. Daging dibagi menjadi tiga bagian ayitu, untuk keluarga, kerabat, dan mereka yang membutuhkan, sebagai solidaritas sosial dan kepedulian pada sesama hamba tuhan.
Tabaski: Wajah Iduladha di Afrika Barat
Di kawasan Afrika Barat, Iduladha dikenal dengan nama Tabaski, terutama di Senegal dan negara sekitarnya. Istilah ini berasal dari bahasa Wolof yang digunakan masyarakat lokal untuk menyebut hari raya kurban. Tabaski tetap merujuk pada hari pengorbanan yang sama dengan apa yang dimaknai pada Iduladha di wilayah lain.
Tabaski menjadi hari libur nasional di Senegal dan dirayakan selama beberapa hari, biasanya sekitar 4 hari, dimulai dari salat Id hingga rangkaian jamuan keluarga.
Tradisi kurban yang masif
Dalam perayaan tabaski, setiap keluarga umumnya menyembelih minimal satu domba sebagai bentuk kurban. Di Senegal atau wilayah Afrika barat lainnya skala kurban yang dilakukan bisa saja lebih besar, diperkirakan sekitar 3 hingga 4 juta hewan disembelih setiap tahunnya selama Tabaski.
Fenomena menarik terjadi menjelang hari raya, yaitu domba dijual hampir di seluruh penjuru kota dari pinggir jalan dan berbagai ruang terbuka lainnya. Bahkan, tidak jarang satu keluarga memiliki lebih dari satu hewan kurban, tergantung kemampuan ekonomi.
Harmoni budaya: Musik, fesyen, dan kebersamaan
Perayaan tabaski berkembang menjadi lebih hidup dan grounded. Di kota seperti Dakar, Ibu kota Senegal, suasana berubah menjadi perayaan budaya yang hidup. Masyarakat mengenakan pakaian terbaik sering kali dibuat khusus oleh penjahit lokal menjelang hari raya dan berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan.
(Perayaan Tabaski di Mali yang penuh keceriaan dan dendangan. Sumber: YouTube/FELOKA)
Musik, tarian, dan aktivitas sosial menjadi bagian dari rangkaian perayaan ini. Setelah proses kurban selesai dan makan bersama, masyarakat saling mengunjungi, berbagi hidangan, serta menikmati hiburan tradisional. Dalam banyak kasus, suasana ini dikenal sebagai “Tabaski party”.
Perayaan lintas agama dan identitas sosial
Salah satu aspek paling khas dari tabaski di Senegal adalah keterlibatan lintas komunitas. Meski mayoritas penduduk beragama Islam, perayaan ini juga diikuti oleh masyarakat non-Muslim. Sangat umum apabila keluarga non-Muslim turut membeli dan menyembelih hewan kurban serta berpartisipasi dalam jamuan bersama.
Fenomena ini menjadikan Tabaski juga sebagai hari raya nasional yang memperkuat identitas sosial. Bahkan, perayaan ini kerap disandingkan dengan momen besar lain seperti Natal dalam konteks kebersamaan keluarga dan perjalanan pulang kampung.
Tidak ada bagian yang terbuang
Dalam tradisi Tabaski, pembagian daging diatur dengan format sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk kerabat, dan sepertiga untuk masyarakat yang membutuhkan, sebagaimana Iduladha pada umumnya.
Menariknya, hampir tidak ada bagian hewan yang terbuang. Kulit digunakan untuk produk kulit, tanduk dijadikan kerajinan, bahkan bagian lain dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga atau simbol kebudayaan.
Tabaski sebagai bagian dari harmoni spiritual dan budaya
Perayaan tabaski memperlihatkan bagaimana sebuah ritual keagamaan berkembang menjadi perayaan kolektif yang inklusif. Dari kurban yang dilakukan dengan massal dan masif, keterlibatan lintas komunitas kegamaan, hingga ekspresi budaya melalui musik dan fesyen, semuanya membentuk identitas unik dalam perayaan ini.
Melalui tradisi yang terus hidup di Afrika Barat, khususnya Senegal, perayaan Tabaski sebagai tradisi kurban yang penuh harmoni menggambarkan bahwa nilai pengorbanan, kebersamaan, dan solidaritas dapat terwujud dalam bentuk yang kaya budaya sekaligus bermakna.




