Top
Begin typing your search above and press return to search.

Menelusuri kembali Jalur Pantura, jejak lama di tengah arus mudik

Menelusuri kembali Jalur Pantura, jejak lama di tengah arus mudik
X

Kondisi Alas Roban pada Jumat (20/3/2026). ANTARA/Farika Nur Khotimah.

Di tengah arus mudik Lebaran yang kini didominasi jalan tol, dua wajah perjalanan darat di Pulau Jawa masih memperlihatkan kontras yang jelas. Jalur selatan menghadirkan perjalanan yang relatif lengang dengan panorama pesisir yang menenangkan, sementara jalur Pantura tetap ramai dan menjadi nadi utama pergerakan kendaraan sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.

Tim kami menelusuri kedua jalur tersebut, dari Cilacap menuju Yogyakarta hingga berlanjut ke Cirebon, guna melihat secara langsung kondisi lalu lintas serta dinamika yang berlangsung di sepanjang rute perjalanan.

Singgah di Semarang, jejak kopi dan kuliner lokal

Setelah melalui Yogyakarta, perjalanan dilanjutkan dari Semarang menuju Cirebon pada Rabu pagi sekitar pukul 10.30 WIB melalui jalur Pantura. Rute ini menjadi kontras dengan jalur selatan yang sebelumnya dilalui, dengan arus kendaraan yang mulai meningkat di sejumlah titik.

Sebelum melanjutkan perjalanan, tim terlebih dahulu singgah di Dharma Boutique Roastery yang berlokasi di Jalan Wotgandul Barat No. 14, kawasan Pecinan, Semarang. Kedai ini menempati bangunan lama bergaya kolonial dan dikenal sebagai salah satu rumah kopi tertua di kota tersebut.

Dharma Boutique Roastery merupakan kelanjutan dari pabrik kopi Margo Redjo yang telah berdiri sejak 1915. Hingga kini, usaha tersebut masih mempertahankan proses penyangraian kopi secara tradisional, dengan mesin lama yang tetap digunakan untuk menjaga cita rasa.

Perjalanan kemudian berlanjut ke kawasan kuliner dengan mencicipi tahu gimbal di warung Tahu Gimbal Pak Edy yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno, Semarang. Hidangan ini terdiri dari tahu goreng, lontong, kol, tauge, dan bakwan udang yang disajikan dengan bumbu kacang bercampur petis.

Warung tersebut tetap melayani pembeli, meski tidak seramai hari biasa. Sejumlah pengunjung terlihat datang untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Alas Roban yang Sepi dan Berubah

Dari Semarang, perjalanan dilanjutkan menuju Pekalongan dengan melintasi kawasan Alas Roban. Jalur ini dikenal dengan kontur jalan yang berkelok serta naik turun, sehingga kendaraan cenderung melaju lebih lambat. Saat melintasi kawasan tersebut, kondisi lalu lintas terpantau relatif sepi. Situasi ini berbeda dengan kondisi pada masa ketika jalur ini menjadi salah satu titik padat kendaraan, terutama bagi bus dan truk antarkota.

Di beberapa titik, terlihat kawanan monyet berada di tepi hingga badan jalan. Sementara itu, sejumlah warung dan tempat singgah yang dahulu ramai tampak tidak beroperasi, bahkan terkesan terbengkalai. Tim juga menjumpai sisa kendaraan di pinggir jalan yang diduga merupakan bekas kecelakaan dan belum dievakuasi. Pemandangan tersebut menjadi pengingat karakter Alas Roban sebagai jalur dengan tingkat kerawanan yang cukup tinggi.

Batang hingga Pekalongan, aktivitas yang mulai bergerak

Setelah keluar dari kawasan Alas Roban dan memasuki wilayah Batang, suasana di sepanjang jalur Pantura mulai berubah. Deretan restoran besar yang biasanya menjadi tempat singgah bus antarkota antarprovinsi terlihat di sisi jalan.

Namun, kondisi di lokasi terpantau relatif sepi. Area parkir yang umumnya dipenuhi bus jarak jauh tampak lengang, dengan hanya beberapa kendaraan yang berhenti. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan pergeseran arus kendaraan ke jalan tol, terutama menjelang H-1 Lebaran.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Pekalongan. Memasuki kawasan Pasar Grosir Batik Setono, aktivitas mulai terlihat dengan sejumlah pemudik yang berbelanja batik sebagai oleh-oleh, meski belum terlalu ramai.

Kuliner Pantura dan lesunya penjualan telur asin

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Tegal. Salah satu titik kuliner yang disambangi adalah Sate Kambing Muda Cempe Lemu yang terletak tidak jauh dari pintu keluar tol. Lokasi ini terpantau ramai oleh pengunjung yang memanfaatkan momen perjalanan untuk beristirahat sekaligus makan.

Dari Tegal, perjalanan dilanjutkan ke Brebes. Tim menyempatkan singgah di salah satu toko telur asin di jalur utama Pantura, yang telah lama dikenal sebagai pusat oleh-oleh khas daerah sebelum keberadaan jalan tol. Namun, suasana di lokasi terpantau berbeda. Deretan toko yang sebelumnya ramai oleh pemudik kini terlihat lebih lengang. Hanya beberapa kendaraan yang berhenti, sementara sebagian toko tampak sepi tanpa pembeli.

Seorang penjual telur asin, Nanda, mengaku penurunan jumlah pembeli mulai dirasakan sejak beroperasinya jalan tol yang mengalihkan arus kendaraan dari jalur Pantura.

“Dulu sebelum ada tol, ramai sekali. Sekarang pembeli jauh berkurang, paling hanya yang sengaja keluar tol atau warga sekitar,” ujarnya, Jumat (20/3).

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan pedagang yang tidak lagi sebesar sebelumnya. Meski tetap berjualan, mereka harus beradaptasi dengan perubahan pola perjalanan masyarakat.

Menuju Cirebon, arus mulai padat

Selanjutnya, perjalanan menuju Cirebon dengan arus kendaraan yang mulai padat meskipun masih bergerak. Kendaraan dari berbagai daerah mulai terakumulasi di jalur utama Pantura. Setibanya di Cirebon, tim mengunjungi Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang menjadi salah satu tujuan wisata religi sekaligus ikon sejarah di kota tersebut.

Perjalanan dari jalur selatan hingga Pantura memperlihatkan perubahan pola mobilitas masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Jalan tol kini menjadi pilihan utama, sementara jalur lama tetap digunakan sebagai alternatif dan ruang aktivitas ekonomi warga.

Jalur selatan menghadirkan perjalanan yang lebih tenang dengan interaksi yang terasa dekat, sedangkan Pantura tetap bergerak sebagai jalur utama dengan arus kendaraan dan aktivitas perdagangan, meski sebagian titik mulai terdampak pergeseran arus.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire