Survei: Tiga perempat usaha keluarga di Asia belum siapkan penerus
Survei terbaru Sun Life Asia menunjukkan meski sebagian besar pemilik usaha berniat menyiapkan pengaturan warisan, hanya 27 persen responden yang sudah memiliki rencana penerus usaha yang lengkap.

Ilustrasi - Seorang ayah dari keluarga di Asia membimbing anaknya. Surve Sun Life Asia menunjukkan tiga perempat usaha keluarga di Asia belum menyiapkan penerus. (Antara/HO/Sun Life).
Ilustrasi - Seorang ayah dari keluarga di Asia membimbing anaknya. Surve Sun Life Asia menunjukkan tiga perempat usaha keluarga di Asia belum menyiapkan penerus. (Antara/HO/Sun Life).
Survei terbaru Sun Life Asia menunjukkan meski sebagian besar pemilik usaha berniat menyiapkan pengaturan warisan, hanya 27 persen responden yang sudah memiliki rencana penerus usaha yang lengkap, sedang hampir tiga perempat usaha keluarga masih belum siap.
Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, Maika Randini mengatakan, peralihan kekayaan lintas generasi dalam skala besar sudah berlangsung di Asia, sehingga penting bagi para pemilik usaha untuk mempersiapkan masa depan usaha mereka.
"Rencana penerus usaha belum memadai, meski warisan menjadi prioritas utama. Hanya sedikit pemilik usaha yang memiliki rencana penerus usaha yang jelas, meskipun mayoritas ingin memastikan kekayaan mereka terjaga untuk generasi berikutnya," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Kesenjangan tersebut, lanjutnya, menegaskan perlunya langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan usaha dan kesejahteraan yang dihasilkannya.
Dia mengatakan, Sun Life Asia melakukan survei terhadap 1.823 pemilik usaha keluarga di Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam pada Oktober 2025.
Survei ini menggambarkan pandangan para pemilik usaha keluarga serta persepsi mereka mengenai tantangan dalam meneruskan usaha kepada generasi berikutnya.
Dari survei tersebut terlihat hanya 27 persen keluarga pemilik usaha memiliki rencana penerus usaha yang sepenuhnya tersusun, lebih dari dua pertiga (68 persen) ingin kekayaan yang ditinggalkan digunakan untuk pertumbuhan jangka panjang.
Sementara itu di generasi berikutnya, kurang dari sepertiga (31 persen) benar-benar bersedia melanjutkan usaha keluarga, sementara separuh (50 persen) menyatakan enggan mengambil alih usaha keluarga karena ingin tetap mandiri.
Menurut dia, usaha keluarga di Asia berada pada titik krusial akibat perbedaan generasi yang semakin lebar. Generasi muda kini mengutamakan kemandirian, tujuan, dan keseimbangan hidup sehingga pemilik usaha perlu memperkuat rencana penerus usaha dan membuka ruang dialog mengenai masa depan.
"Temuan kami menunjukkan bahwa pemilik usaha keluarga membutuhkan wawasan profesional yang mendalam dan pendekatan jangka panjang yang disesuaikan," ujarnya.
Baik layanan ahli individual maupun family office memiliki tempatnya masing-masing, lanjutnya nasihat yang proaktif dapat membantu pemilik usaha mencapai tujuan penerus usaha, mencegah konflik, dan menjaga warisan keluarga.




