Hangatnya sarapan tradisional Turki di Balat
Mengunjungi Balat bukan hanya tentang berburu foto rumah warna-warni. Pengalaman menikmati sarapan tradisional Turki di Velvet Cafe menawarkan nilai sentimental yang jarang ditemukan di kota besar.

Awal Februari di Istanbul diselimuti langit mendung dan gerimis tipis. Di tengah suasana kelabu itu, kawasan Balat tampil mencolok dengan rumah-rumah warna-warni dan anak tangga penuh rona. Balat bukan sekadar destinasi wisata. Selama berabad-abad, kawasan ini menjadi rumah bagi komunitas Muslim, Armenia, Yahudi, dan Yunani. Keberagaman budaya tersebut hidup dalam keseharian warganya — termasuk di meja sarapan.
Velvet Cafe dan Jejak Kenangan Keluarga
Di salah satu sudut Balat berdiri Velvet Cafe, kafe rumahan bernuansa vintage yang terasa seperti mesin waktu. Begitu pintu dibuka, deretan piring antik, taplak berenda, telepon analog, hingga buku klasik menyambut pengunjung. Suasana ini mengingatkan pada film drama Eropa seperti Amour.
Pemiliknya, Yuksel Kukul, membuka kafe keluarga ini pada 2018 untuk mengenang sang nenek. Ikatan keluarga menjadi fondasi utama berdirinya tempat tersebut.
“Alasan pertama kami membuka kafe ini adalah untuk mengenang nenek saya,” ujar Yuksel.
Apa Itu Sarapan Tradisional Turki?
Berbeda dengan sarapan praktis ala Barat, sarapan tradisional Turki adalah perayaan kebersamaan.
Di atas meja tersaji:
Empat jenis keju
Dua jenis zaitun
Aneka selai manis dan asin
Mentega dan krim
Sayuran segar
Telur orak-arik (menemen)
Sucuk (sosis pedas khas Turki)
Roti, simit (bagel Turki), dan pisi hangat
Semua dibuat dengan resep turun-temurun dan bahan pilihan dari berbagai wilayah Turki. Rasanya? Perpaduan asin, asam, gurih, dan sedikit pedas yang terasa seperti “pesta kecil” di setiap gigitan.
Menurut Aret, pemandu lokal yang mendampingi perjalanan media, keluarga modern Turki kini semakin jarang mengadakan sarapan bersama. Kesibukan dan perubahan gaya hidup membuat tradisi ini perlahan memudar. Namun di Velvet Cafe, tradisi itu tetap dijaga.
Sarapan bukan sekadar makan, melainkan ritual berbagi cerita, tawa, dan kenangan. Ditutup dengan segelas chai hangat atau kopi Turki serta manisnya Turkish delight, pengalaman ini menjadi lengkap.
Di tengah gerimis Istanbul, meja sarapan di Balat menghadirkan kehangatan yang melampaui rasa. Kenangan keluarga Yuksel tersimpan di perabot tua, gaun pernikahan nenek yang dipigura, dan di setiap roti yang disajikan. Matahari yang malu-malu muncul dari balik awan seakan menjadi simbol bahwa tradisi dan kebersamaan selalu menemukan jalannya.




