Denny JA rilis 8 buku puisi esai tentang luka sejarah
Delapan buku puisi esai Denny JA mengangkat luka sejarah Indonesia dan dunia melalui kisah manusia.

Elshinta/ Rizky Rian Saputra
Elshinta/ Rizky Rian Saputra
Delapan buku puisi esai karya Denny JA kembali dipublikasikan untuk memperkenalkan perjalanan sejarah Indonesia dan dunia melalui karya sastra. Karya-karya tersebut menghadirkan berbagai peristiwa sejarah, pengalaman manusia, serta refleksi sosial melalui pendekatan sastra yang memadukan puisi dengan penjelasan historis.
“Sejarah acapkali ditulis oleh pemenang. Tapi puisi esai justru merekam sejarah dari mereka yang kalah dan menjadi korban,” kata Denny JA.
Menurut keterangan Penerbit CBI, delapan buku tersebut tidak sekadar kumpulan puisi, melainkan rangkaian karya yang merekam luka sejarah, pengalaman manusia, serta perjalanan batin masyarakat dalam menghadapi konflik, diskriminasi, tragedi politik, hingga bencana ekologis.
Melalui puisi esai, sejarah yang sering tampil sebagai angka dan kronologi dalam buku pelajaran dihadirkan kembali sebagai kisah manusia yang hidup.
Kisah yang Membuka Luka Sejarah
Salah satu kisah yang diangkat menggambarkan sosok Lina yang menunggu suaminya yang hilang sejak kerusuhan Mei 1998. Setiap Kamis ia datang dengan selendang kuning yang sama, menanti janji yang tak pernah kembali.
Kisah tersebut terinspirasi dari aksi keluarga korban pelanggaran HAM berat yang setiap Kamis berdiri di depan Istana Negara membawa payung hitam. Gerakan yang dikenal sebagai Aksi Kamisan itu menjadi simbol perjuangan moral keluarga korban penghilangan paksa.
Dalam puisi esai, tragedi nasional tidak lagi sekadar statistik dalam buku sejarah, tetapi hadir melalui pengalaman manusia: penantian, kehilangan, dan harapan.
Genre Puisi Esai
Puisi esai adalah bentuk sastra yang memadukan bahasa puitis dengan refleksi esai. Genre ini diperkenalkan Denny JA melalui buku Atas Nama Cinta pada 2012. Bentuk karya ini menghadirkan kisah manusia yang berakar pada peristiwa nyata, dilengkapi catatan kaki yang menjelaskan konteks sejarahnya.
Sejak diperkenalkan, puisi esai berkembang menjadi gerakan sastra lintas negara, termasuk melalui penyelenggaraan Festival Puisi Esai ASEAN yang melibatkan penulis dari berbagai negara Asia Tenggara.
Delapan Buku Puisi Esai
Menurut Penerbit CBI, delapan buku tersebut membentuk peta sejarah yang luas, mulai dari diskriminasi sosial di Indonesia hingga tragedi global.
Mengangkat kisah cinta yang hancur akibat diskriminasi ras, agama, dan identitas sosial.
2. Kutunggu di Setiap Kamisan (2018)
Terinspirasi oleh Aksi Kamisan yang memperjuangkan keadilan bagi korban pelanggaran HAM berat.
3. Jeritan Setelah Kebebasan (2015)
Mengangkat konflik sosial dan kekerasan yang terjadi setelah Reformasi.
4. Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024)
Mengisahkan kelompok yang sering terabaikan dalam sejarah, seperti romusha dan jugun ianfu.
5. Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024)
Menghadirkan tokoh awal pergerakan nasional seperti Raden Ajeng Kartini, Tirto Adhi Soerjo, Soetomo, hingga Sukarno sebagai manusia yang bergulat dengan gagasan kemerdekaan.
6. Mereka yang Tak Bisa Pulang di Tahun 1960-an (2024)
Berkisah tentang para eksil Indonesia setelah tragedi politik 1965.
7. Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025)
Membawa pembaca menelusuri tragedi dunia seperti Holocaust, Atomic bombings of Hiroshima and Nagasaki, French Revolution, dan Vietnam War.
Merekam tragedi ekologis di Sumatra melalui puisi esai yang dipadukan dengan lukisan.
Mengingat Luka sebagai Tugas Bangsa
Delapan buku puisi esai tersebut menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya milik para pemenang, tetapi juga milik mereka yang terluka dan terlupakan.
Melalui puisi esai, angka berubah menjadi manusia, peristiwa berubah menjadi pengalaman, dan sejarah berubah menjadi suara.
Bagi Denny JA, karya sastra menjadi cara untuk merawat ingatan kolektif tentang perjalanan bangsa dan kemanusiaan. (Rizki Rian Saputra)




