Puisi tak mati, generasi muda temukan cara baru membaca
Monica JR menilai puisi tetap hidup lewat inovasi pembacaan digital dan teater puisi esai.

Elshinta/ Rizky Rian Saputra
Elshinta/ Rizky Rian Saputra
Ketika orang mendengar istilah lomba membaca puisi, banyak yang langsung membayangkan sebuah panggung kecil dengan gaya deklamasi klasik: suara yang naik turun dramatis, gerak tangan yang penuh tekanan, serta ritme yang mengikuti pakem pembacaan puisi yang diajarkan di sekolah sejak lama.
Namun bagi Monica JR, Koordinator Lomba Membaca Puisi Esai 2025, gambaran itu justru menjadi titik awal sebuah pertanyaan: apakah pembacaan puisi memang harus selalu seperti itu?
Ingatan Monica kembali ke masa kecilnya di Bekasi puluhan tahun lalu. Saat itu ia mengikuti lomba deklamasi tingkat sekolah dasar dan berhasil meraih posisi runner-up. Hampir semua peserta tampil dengan gaya yang seragam, mengikuti pola pembacaan puisi yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Waktu itu saya mulai berpikir, apakah memang puisi harus selalu dibacakan dengan format yang sama,” kenangnya.
Pertanyaan itu menemukan jawabannya bertahun-tahun kemudian ketika ia mengenal puisi esai pada tahun 2012. Bentuk sastra ini merupakan gagasan Denny JA, yang pertama kali diperkenalkan melalui buku Atas Nama Cinta: Kisah-Kisah Diskriminasi.
Puisi esai menggabungkan puisi dengan narasi berbasis fakta sosial serta dilengkapi catatan kaki yang memberikan konteks sejarah atau data. Dengan format ini, puisi tidak hanya menjadi ekspresi estetika, tetapi juga ruang refleksi atas isu-isu nyata di masyarakat.
Sejak diperkenalkan, puisi esai berkembang menjadi sebuah gerakan sastra yang mencoba menjembatani dunia puisi dengan persoalan kemanusiaan kontemporer.
Bagi Monica, bentuk sastra ini membuka kemungkinan baru bagi dunia puisi.
“Puisi tidak lagi terasa kaku. Ia bisa menjadi pertunjukan yang hidup,” ujarnya.
Beberapa tokoh seni pernah membawa puisi esai ke panggung dengan pendekatan yang lebih teatrikal. Nama-nama seperti Niniek L. Karim, Sujiwo Tedjo, hingga Fatin Hamama R. Syam pernah membawakan puisi esai dengan memadukan pembacaan puisi, ekspresi dramatik, dan elemen pertunjukan.
Monica sendiri pernah terlibat dalam monolog Sapu Tangan Fang Yin bersama Olivia Zalianty yang menggabungkan pembacaan puisi dengan gerak dan tari.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa sastra harus terus menemukan cara baru untuk berbicara kepada zamannya.
Ia teringat sebuah kritik yang sering dikutip dalam konteks institusi spiritual: dunia sering merasa tidak puas dengan gereja karena gereja terlalu sibuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah ditanyakan siapa pun.
Menurut Monica, kritik itu juga relevan bagi dunia seni.
“Jika kita terlalu kaku mempertahankan pakem lama tentang cara membaca puisi, bisa jadi kita sebenarnya sedang berbicara sendiri di ruang kosong,” katanya.
Bagi Monica, relevansi sastra terletak pada kemampuan untuk membedakan antara inti pesan kemanusiaan dan cara penyampaiannya. Pesan puisi akan selalu hidup, tetapi cara menyampaikannya harus mampu mengikuti bahasa zaman.
Semangat inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Lomba Teater Puisi Esai 2025, sebuah inisiatif Denny JA bersama Universitas Kristen Indonesia dan Connection Production yang ditujukan bagi pelajar SMP dan SMA.
Meskipun promosi acara tidak dilakukan secara besar-besaran dan peserta dikenakan biaya pendaftaran, jumlah pendaftar justru cukup tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap sastra sebenarnya tidak hilang.
Evolusi ini kemudian berlanjut pada Festival Puisi Esai ke-3 tahun 2025 yang diselenggarakan secara daring. Dalam festival tersebut, Monica mengoordinasikan Lomba Membaca Puisi Esai dengan tema “Kembali Mencintai Bumi Setelah Sumatra Menangis.”
Tema yang mengangkat isu lingkungan ini menuntut pendekatan kreatif dari para peserta. Mereka diminta membuat video pembacaan puisi esai dengan kualitas audio visual yang baik. Beberapa bahkan mencoba memanfaatkan teknologi digital dan AI untuk memperkuat presentasi karya mereka.
Hasilnya melampaui ekspektasi panitia. Sebanyak 575 video terkumpul dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Bandung, Jakarta, Banjar, hingga Medan.
“Bagi saya, angka itu bukan sekadar statistik,” kata Monica.
“Itu adalah tanda bahwa sastra belum ditinggalkan generasi muda.”
Festival ini juga menunjukkan bahwa format video digital ternyata menjadi medium yang lebih dekat dengan generasi Gen Z dan Gen Alpha. Dalam format tersebut, puisi tidak hanya dibacakan, tetapi juga dipadukan dengan visual, musik, dan pendekatan sinematik.
Pada akhirnya, Monica percaya bahwa masa depan puisi tidak ditentukan oleh bentuk lama yang dipertahankan tanpa perubahan, melainkan oleh keberanian untuk menjawab kegelisahan manusia hari ini.
Pesan kemanusiaan dalam puisi akan selalu hidup. Tugas kita hanyalah memastikan pesan itu sampai kepada generasi yang baru.
Puisi tidak mati.
Yang usang hanyalah cara kita membacanya.
Video pemenang Lomba Membaca Puisi Esai (Festival Puisi Esai 2025) dapat ditonton melalui playlist berikut:
https://www.youtube.com/playlist?list=PLjLWkxJMEVUnhwPgGiMagsnUuJLkMKJx6
(Rizky Rian Saputra)




