Dokter: Jaga pola konsumsi saat Lebaran
Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD- KEMD, FINASIM mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola konsumsi saat dan setelah Lebaran guna mencegah sembelit, diare, serta lonjakan gula darah.

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD- KEMD, FINASIM mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola konsumsi saat dan setelah Lebaran guna mencegah sembelit, diare, serta lonjakan gula darah.
“Untuk menghindari sembelit harus diimbangi dengan sayuran dan buah. Serat penting supaya tidak terjadi gangguan buang air besar,” kata dr. Waluyo dalam Halodoc Talks bertajuk Transitioning Safely: Managing Ramadan Health Risks During Eid Festivities di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, gangguan pencernaan kerap muncul akibat perubahan pola makan selama Ramadhan hingga Idul Fitri, terutama ketika konsumsi makanan tinggi lemak meningkat dan asupan serat berkurang.
Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada tersebut menjelaskan komposisi makanan di rumah perlu dijaga agar seimbang. Sayuran dan buah harus tetap dikonsumsi meski sedang menikmati hidangan khas Lebaran.
Selain komposisi, pengendalian porsi juga menjadi faktor penting. Ia mencontohkan konsumsi makanan pelengkap seperti kerupuk yang sering dianggap ringan.
Kerupuk, lanjut dia, tetap mengandung karbohidrat sehingga perlu diperhitungkan, terutama bagi penderita diabetes.
“Sudah makan nasi, lalu tambah kerupuk. Itu tetap tambahan karbohidrat. Kalau tidak dihitung kalorinya, gula darah pasti naik,” ujarnya.
Ia menegaskan masyarakat tidak harus sepenuhnya menghindari makanan tertentu, termasuk kerupuk, namun konsumsi harus dibatasi.
“Kalau mau makan satu tidak apa-apa. Tapi jangan sampai dua atau tiga berlebihan. Semua boleh dimakan asal terukur,” kata dr. Waluyo.
Ia juga mengingatkan kapasitas lambung terbatas. Secara prinsip, lambung idealnya diisi sepertiga makanan, sepertiga cairan, dan sepertiga ruang udara agar proses pencernaan berjalan baik.
Jika seluruh kapasitas diisi makanan, risiko gangguan seperti rasa begah dan kenaikan gula darah meningkat.
Selain itu, dr. Waluyo menyoroti manfaat puasa dalam membantu pemulihan metabolik. Menurut dia, saat seseorang berpuasa selama 8 hingga 12 jam, tubuh melakukan proses detoksikasi alami terhadap sisa metabolit yang terbentuk dari aktivitas dan konsumsi makanan.
“Setelah 12 jam, tubuh seperti mengalami proses penyegaran kembali,” ujarnya.
Ia menambahkan puasa Syawal dapat dimanfaatkan sebagai salah satu cara membantu tubuh menyeimbangkan kembali metabolisme setelah periode konsumsi berlebih saat Lebaran.
“Puasa Syawal bisa membantu mendetoks kembali apa yang kita makan saat Lebaran,” kata dia.
Meski demikian, ia menekankan kesadaran diri tetap menjadi kunci utama. Pembatasan asupan dan pengendalian porsi perlu diterapkan saat bersilaturahmi agar tidak berlebihan.
“Jangan karena ditawari tambah lalu tidak enak menolak. Cukup secukupnya. Itu yang penting,” ujar dr. Waluyo.




