Kasus Super Flu diantisipasi, Dinkes Bekasi perkuat kewaspadaan
Pemerintah Kota Bekasi mengeluarkan Surat Edaran (SE) imbauan kewaspadaan kasus super flu sebagai langkah pencegahan dan pengendalian penularan penyakit pernapasan di wilayah Kota Bekasi, menyusul tren kasus Influenza-Like Illness (ILI) yang terus dipantau pada musim hujan.

Sumber foto: Hamzah Aryanto/elshinta.com.
Sumber foto: Hamzah Aryanto/elshinta.com.
Pemerintah Kota Bekasi mengeluarkan Surat Edaran (SE) imbauan kewaspadaan kasus super flu sebagai langkah pencegahan dan pengendalian penularan penyakit pernapasan di wilayah Kota Bekasi, menyusul tren kasus Influenza-Like Illness (ILI) yang terus dipantau pada musim hujan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, meminta masyarakat untuk disiplin dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai upaya utama menekan risiko penularan.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat Kota Bekasi untuk konsisten menerapkan PHBS. Apabila mengalami gejala flu seperti demam, batuk, dan pilek lebih dari tiga hari tidak membaik, segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” kata Satia kepada Elshinta Selasa (6/1/2026).
Ia juga menekankan pentingnya etika kesehatan individu dalam mencegah penularan.
Ia menyebut ada beberapa kriteria kelompok masyarakat yang rentan seperti anak-anak dan lansia disarankan memperoleh imunisasi influenza apabila memungkinkan.
“Bagi warga yang baru kembali dari perjalanan luar daerah maupun luar negeri, kami minta untuk memantau kondisi kesehatan secara mandiri. Gunakan masker ketika merasa sakit,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari pengendalian, Dinas Kesehatan Kota Bekasi melakukan pelacakan kasus terhadap pasien dengan gejala ILI yang terdeteksi di wilayah kerja puskesmas.
"Langkah ini dilakukan untuk memastikan deteksi dini serta mencegah peningkatan kasus yang tidak terkendali," paparnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hamzah Aryanto, Selasa (6/1).
Berdasarkan data epidemiologi Kementerian Kesehatan RI per Desember 2025 lalu, kasus influenza secara nasional didominasi kelompok usia anak-anak 1–10 tahun dan perempuan.
"Sekitar 35 hingga 40 persen kasus terkonfirmasi menyerang anak-anak, dengan gejala khas berupa demam tinggi mendadak, batuk kering, serta penurunan nafsu makan secara drastis," ujarnya.
Ia menerangkan, di Kota Bekasi, pemantauan dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) terhadap tren ILI dan SARI (Severe Acute Respiratory Infection).
"Hingga saat ini, belum ditemukan lonjakan ekstrem yang mengarah pada wabah besar. Namun demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat tingginya mobilitas warga Bekasi-Jakarta yang berpotensi mempercepat penularan," tuturnya.
Bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dinkes fokus pada tatalaksana klinis anak agar infeksi tidak berkembang menjadi pneumonia berat, sekaligus memastikan ketersediaan obat simtomatis dan logistik oksigen di rumah sakit dalam kondisi aman.
"Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Pendidikan Kota Bekasi, mengingat sebagian besar kasus menyerang usia sekolah. Upaya yang dilakukan antara lain penguatan PHBS di lingkungan sekolah, kampanye cuci tangan pakai sabun, serta penerapan kebijakan sakit = izin tidak masuk sekolah untuk mencegah terbentuknya klaster penularan," imbuhnya.
Ia juga menjelaskan paparan super flu disebabkan oleh virus Influenza A(H3N2) subclade K, yang merupakan mutasi dari virus flu musiman dengan kemampuan menular lebih cepat.
Penularan terjadi melalui droplet saat batuk atau bersin serta kontak tidak langsung melalui benda yang terkontaminasi.
“Potensi penyebaran tetap ada dengan risiko rendah hingga sedang. Virus ini tidak seganas COVID-19 varian Delta, namun pada musim hujan dengan tingkat kelembapan tinggi, virus dapat bertahan lebih lama di udara sehingga risiko penularan di ruang tertutup seperti kantor dan ruang kelas meningkat,” pungkasnya.




