KPA Papua ingatkan mahasiswa di Papua bahaya HIV AIDS
Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Papua menggelar sosialisasi dan edukasi HIV AIDS pada mashasiswa di Asrama Mahasiswa Biak Numfor yang berada Jayapura.

Sumber foto: Aman Hasibuan/elshinta.com.
Sumber foto: Aman Hasibuan/elshinta.com.
Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Papua menggelar sosialisasi dan edukasi HIV AIDS pada mashasiswa di Asrama Mahasiswa Biak Numfor yang berada Jayapura. Kegiatan ini dihadiri volunteer peduli AIDS, dan mahasiswa PKL FKM Universitas Cenderawasih yang diikuti oleh sebanyak 35 orang mahasiswa penghuni Asrama Biak Numfor.
Koordinator Umum Volunteer Peduli AIDS Provinsi Papua, Amanda Frilanda Wally menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, khususnya para mahasiswa, yang telah membuka ruang dialog dan pembelajaran melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi HIV AIDS ini.
“Mahasiswa adalah agen perubahan, generasi terdidik yang memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran, membentuk perilaku hidup sehat, serta melawan stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA),” ujar Amanda Wally, Minggu (1/3/2026).
Ia menjelaskan, sosialisasi dan edukasi HIV AIDS ini menjadi sangat penting bagi mahasiswa, bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk membangun sikap dan kepedulian sosial. Sebab, HIV AIDS bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.
“Hingga hari ini, HIV AIDS masih menjadi tantangan serius di Papua, termasuk di wilayah pesisir dan kepulauan seperti Biak Numfor dengan jumlah kasus HIV AIDS sebanyak 3.630 kasus per 31 Desember 2025,” katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Aman Hasibuan, Senin (2/3).
Amanda Wally berharap setelah kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi penyampai pesan kebaikan, baik di lingkungan asrama, kampus, maupun di tengah masyarakat.
Menurutnya, bahwa KPA Provinsi Papua terbuka untuk bekerja sama dengan mahasiswa, termasuk mahasiswa asrama Biak, dalam kegiatan edukasi dan sosialisasi HIV/AIDS. Program study tour ke Biak Numfor dapat menjadi momentum strategis untuk menyisipkan kegiatan edukasi HIV/AIDS, pelatihan kader sebaya, serta kampanye pencegahan HIV yang berbasis komunitas mahasiswa.
Ia menjelaskan, penyakit HIV tidak selalu menimbulkan gejala pada tahap awal, karena HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Gejala biasanya muncul ketika HIV sudah berkembang menjadi AIDS, yang ditandai dengan penyakit penyerta seperti: demam berkepanjangan, diare kronis, TB, malaria berulang, ruam kulit, infeksi jamur.




