Mitos-fakta mecin yang perlu kamu ketahui
Mitos dan fakta mecin: keamanan konsumsi, efek pada otak, klaim kesehatan, serta penjelasan ilmiah tentang micin yang harus diketahui.

Mitos dan fakta MSG atau mecin. (Sumber: Vecteezy/Bigc Studio)
Mitos dan fakta MSG atau mecin. (Sumber: Vecteezy/Bigc Studio)
Monosodium Glutamat atau MSG sering disebut micin dalam obrolan sehari-hari. Banyak orang mengakuinya sebagai penyedap rasa yang membuat makanan lebih gurih. Di sisi lain bahan ini masih dipandang kontroversial bagi sebagian masyarakat karena rasa takut atas dampak buruknya pada kesehatan. Artikel ini akan membahas berbagai mitos dan fakta tentang MSG, serta meninjau bukti terkait efeknya terhadap tubuh manusia.
Apa itu MSG?
MSG adalah garam natrium dari asam glutamat, salah satu jenis asam amino yang berkontribusi memberi rasa umami. Rasa gurih khas yang sering disebut sebagai “rasa dasar kelima.” MSG dibuat melalui fermentasi karbohidrat seperti tebu atau molase sehingga menghasilkan kristal putih halus yang mudah larut dalam makanan. Asam glutamat juga ditemukan secara alami dalam banyak bahan makanan seperti tomat, jamur, hingga keju parmesan.
Sejarah singkat
Rasa umami pertama kali diidentifikasi oleh profesor Kikunae Ikeda di Universitas Tokyo pada awal abad ke-20. Ia menemukan bahwa asam glutamat dalam kaldu rumput laut kombu memberikan sensasi rasa gurih yang khas. Kolaborasi penemuan ini kemudian dikembangkan menjadi produk MSG komersial pertama pada tahun 1909.
Mitos dan fakta yang sering muncul
1. Mitos: MSG bikin bodoh
Fakta: Tidak ada bukti yang kuat bahwa konsumsi MSG dalam takaran biasa menyebabkan kekurangan kecerdasan atau gangguan otak. Bahkan, glutamat adalah neurotransmitter alami yang penting dalam fungsi saraf normal. Selain itu, mekanisme blood-brain barrier menjaga agar glutamat dari makanan tidak mudah memasuki otak sehingga tidak memengaruhi fungsi saraf secara langsung.
2. Mitos: MSG menyebabkan hipertensi atau tekanan darah tinggi
Fakta: Kandungan natrium dalam MSG sekitar sepertiga dari natrium dalam garam meja biasa. Karena itu, penggunaan MSG sebagai penyedap bisa membantu mengurangi konsumsi garam total tanpa mengorbankan rasa. Tidak ada bukti kuat bahwa MSG langsung memicu hipertensi bila dikonsumsi moderat.
3. Mitos: MSG memicu kanker
Fakta: Hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa MSG menyebabkan kanker. Klaim ini sering muncul dari salah tafsir terhadap gejala ringan seperti mual atau sakit kepala yang terkadang dilaporkan beberapa orang setelah makan makanan ber-MSG. Namun, gejala tersebut sering disebut MSG symptom complex yang belum terbukti secara konsisten sebagai efek langsung MSG.
Siapa yang perlu waspada?
Beberapa orang memang melaporkan gejala seperti sakit kepala, kemerahan pada wajah, atau mual setelah mengonsumsi makanan tinggi MSG. Kelompok gejala ini dikenal sebagai MSG symptom complex, tetapi penelitian ilmiah belum membuktikan hubungan sebab-akibat yang kuat. Dan prevalensi kondisi ini diperkirakan sangat rendah (kurang dari 1% populasi).
MSG dalam konsumsi sehari-hari: Aman atau tidak?
Badan pengawas pangan seperti U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan MSG dalam kategori “Generally Recognized as Safe” (GRAS), artinya aman dikonsumsi dalam jumlah biasa di makanan sehari-hari. Selain itu, organisasi seperti World Health Organization (WHO) dan Food and Agriculture Organization (FAO) juga tidak menganggap MSG berbahaya bila dikonsumsi sesuai kebutuhan.
Potensi manfaat MSG
Selain fungsinya sebagai penyedap, MSG juga memiliki beberapa manfaat yaitu, membantu mengurangi konsumsi garam. MSG dapat meningkatkan rasa gurih, ini membantu menurunkan kebutuhan natrium dari garam biasa. selain itu MSG mampu menjaga kenikmatan makanan tanpa berlebih lemak atau garam, Ini dapat membantu pola makan yang lebih sehat jika digunakan dengan bijak.
Risiko Bila Dikonsumsi Berlebihan
Meskipun MSG aman dalam jumlah biasa, semua zat bisa menjadi tidak baik bila dikonsumsi secara berlebihan. Beberapa studi model hewan menunjukkan bahwa paparan dosis sangat tinggi dapat berpotensi menyebabkan gangguan metabolisme atau efek organ tertentu. Namun, dosis dalam studi-studi tersebut jauh melebihi konsumsi manusia sehari-hari, sehingga relevansinya masih diperdebatkan.
MSG telah lama dipandang dengan kecurigaan, tetapi bukti ilmiah yang kredibel menunjukkan bahwa bahan ini aman dikonsumsi dalam batas wajar. Banyak mitos seperti “membuat bodoh,” “menyebabkan kanker,” atau “hipertensi langsung” tidak didukung oleh bukti kuat dari penelitian ilmiah. Pada populasi umum, MSG bukanlah musuh kesehatan asalkan tidak dikonsumsi secara berlebihan dan tetap dalam konteks pola makan yang sehat.




