Dimulai dari keluarga, Menteri Wihaji ajak masyarakat optimistis di tengah tantangan global
Dalam konteks global yang penuh tantangan, Menteri Wihaji mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap optimistis. Ia mengakui bahwa kondisi ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja, namun Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk bertahan dan bangkit.

Sumber foto: Ivan Iskandaria/elshinta.com.
Sumber foto: Ivan Iskandaria/elshinta.com.
Dalam konteks global yang penuh tantangan, Menteri Wihaji mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap optimistis. Ia mengakui bahwa kondisi ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja, namun Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk bertahan dan bangkit.
“Kalau kita membangun negara dengan keyakinan dan optimisme, insyaallah akan baik-baik saja. Kuncinya adalah kerja sama,” ujar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji pada kegiatan Bincang Keluarga bertajuk “Sucikan Hati dalam Kebersamaan, Bersinergi Mewujudkan Keluarga Sejahtera dan Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045” di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, kolaborasi dimulai dari keluarga sebagai unit paling dasar. Penguatan peran keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa menjadi fokus utama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dalam momentum pasca-Ramadan ini.
“Unit terkecil dalam negara adalah keluarga. Kalau keluarga baik-baik saja, insyaallah negara akan baik-baik saja,” tambahnya seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Ivan Iskandaria.
Menteri Wihaji juga menegaskan kekuatan bangsa berakar dari ketahanan keluarga. Pentingnya membangun keluarga melalui delapan fungsi utama, yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Delapan fungsi ini menjadi kompas bagi keluarga Indonesia agar tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh di tengah perubahan zaman.
Menguatkan perspektif tersebut, Aisah Dahlan hadir sebagai narasumber dalam sesi bincang keluarga mengajak peserta menyelami makna “menyucikan hati” melalui pendekatan ilmiah dan spiritual.
Menurutnya, dalam diri manusia terdapat qalbu, pusat kendali yang menentukan baik buruknya perilaku. Mengutip hadis yang populer, ia mengingatkan bahwa ketika qalbu baik, maka seluruh kehidupan akan ikut baik. Ramadan pun menjadi momentum untuk melatih kebersihan hati yang perlu terus dijaga, termasuk dalam membangun relasi yang sehat di dalam keluarga.
Tak hanya itu, Aisah juga mengulas pentingnya memahami lima bahasa cinta dalam pengasuhan anak, yakni kata-kata pendukung, pelayanan, sentuhan fisik, hadiah, dan waktu berkualitas. Ia menekankan bahwa anak, terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan, membutuhkan seluruh bentuk ekspresi cinta tersebut.
“Ketika baterai cinta anak kosong, di situlah potensi penyimpangan muncul. Maka orang tua perlu belajar bahasa cinta agar anak tetap terlindungi dari berbagai pengaruh negatif,” jelasnya.
Sejalan dengan pesan optimisme yang disampaikan Menteri Wihaji, Aisah mengingatkan pentingnya menjaga prasangka baik di tengah situasi sulit.
Ia memperkenalkan konsep “dialog jiwa” dan “dialog gelombang”, di mana setiap pikiran, doa, dan niat yang dipancarkan seseorang akan kembali dalam bentuk realitas kehidupan. Karena itu, menjaga hati tetap bersih dan penuh harapan menjadi kunci dalam membangun keluarga yang tangguh.
Melalui kegiatan ini Kemendukbangga/BKKBN menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari ruang-ruang kecil bernama keluarga. Ketika hati disucikan, cinta dikuatkan, dan nilai-nilai keluarga dijaga, maka harapan menuju Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan bersama.




