Top
Begin typing your search above and press return to search.

Dokter: Hindari kalimat yang meremehkan saat anak hadapi masalah

Dokter psikiatri konsultan anak-remaja dari RS Marzoeki Mahdi Bogor dr. Widi Primaciptadi Sp.KJ Subsp. AR(K) mengingatkan pada orang dewasa sebaiknya menghindari mengucapkan kalimat yang meremehkan saat anak sedang menghadapi masalah.

Dokter: Hindari kalimat yang meremehkan saat anak hadapi masalah
X

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Dokter psikiatri konsultan anak-remaja dari RS Marzoeki Mahdi Bogor dr. Widi Primaciptadi Sp.KJ Subsp. AR(K) mengingatkan pada orang dewasa sebaiknya menghindari mengucapkan kalimat yang meremehkan saat anak sedang menghadapi masalah.

“Karena seringkali orang dewasa ini suka meresponsnya dengan kalimat yang rasional ‘itu cuma masalah kecil aja, nanti juga lupa, jangan lebay’ Padahal buat anak itu bukan kecil, itu bisa terasa sangat nyata dan sangat besar,” kata Widi dalam acara webinar yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Widi mengatakan orang dewasa tidak bisa menyamakan persepsi mereka melihat masalah dengan cara anak menyikapi masalah.

Bisa jadi yang dianggap orang dewasa sebuah masalah ringan, namun pada anak dengan sistem regulasi emosi yang belum matang akan bisa terasa sangat berat dan menghancurkan.

Dia mengatakan kesulitan regulasi emosi terhadap masalah bukan pada kejadian apa yang menimpa anak, namun bagaimana mereka memaknai kejadian tersebut yang bisa meningkatkan risiko keinginan mengakhiri nyawa sendiri.

“Masalah teman sebaya, konflik keluarga, tuntutan akademik kadang kala terlihat kecil bagi orang dewasa tapi jika tekanan bertemu dengan sistem regulasi yang belum matang dan identitas diri yang masih berkembang dampaknya bisa menjadi sangat besar,” kata Widi.

Widi menjelaskan stres pada anak juga muncul tidak secara dramatis namun akumulasi dengan perkembangan yang perlahan. Anak yang mengalami tekanan atau stres biasanya muncul perubahan perilaku mulai dari lebih pendam, mulai sering menyalahkan dirinya, mudah marah dan tersinggung.

Perubahan kecil itu muncul secara konsisten sebelum muncul keinginan untuk percobaan bunuh diri, di sini peran orang dewasa sangat penting dalam mencegah risiko tekanan stres pada anak meledak.

Adanya dukungan yang menahan tekanan tersebut melalui pemahaman, keputusan bunuh diri diharapkan bisa ditekan dan memperkuat sistem perlindungan bagi anak.

“Pada anak yang lebih muda, tanda-tandanya justru bisa lebih halus lagi seperti gangguan tidur, sulit konsentrasi, menarik diri dari teman-teman, tidak lagi menikmati aktivitas yang dulu disukai. Seringkali orang dewasa menganggap, ‘oh ini memang lagi fasenya saja’, ‘Namanya juga anak-anak lagi capek saja, lagi sensitif’. Padahal yang penting bukan satu kejadian, yang penting adalah pola dan konsistensi,” jelasnya.

Tugas orang tua dalam mendampingi emosi anak adalah tidak paranoid dalam menyikapi perubahan sikap, cukup peka melihat perubahan yang konsisten, membangun percakapan rutin, memvalidasi perasaan anak, tidak membandingkannya dengan anak lain, dan jadikan rumah serta sekolah ruang yang aman, katanya.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire