7 tradisi unik Iduladha di Indonesia
7 tradisi unik Iduladha di Indonesia, mulai dari Manten Sapi di Pasuruan, Meugang di Aceh, hingga Grebeg Gunungan di Yogyakarta yang penuh makna syukur.

Grebeg gunungan di Yogyakarta. (Sumber: Freepik)
Grebeg gunungan di Yogyakarta. (Sumber: Freepik)
Indonesia punya banyak hari besar atau perayaan yang sarat akan makna. Setiap hari besar ini berangkat dari berbagai ide, mulai dari keagamaan, kultural, hingga asimilasi keduanya ketika hari besar keagamaan melahirkan tradisi atau kebiasaan unik di berbagai wilayah. Fenomena ini membuktikan bahwa nilai-nilai spiritual dapat berjalan beriringan dengan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. pada hari raya Iduladha pun sama, setiap wilayah di Indonesia punya kebiasaan uniknya sendiri. Berikut tujuh tradisi tersebut:
Tradisi Manten Sapi di Pasuruan
Masyarakat di Desa Wates tani, Kecamatan Rejoso, Pasuruan, Jawa Timur, memiliki cara tersendiri dalam memuliakan hewan yang akan disembelih. Tradisi ini dikenal dengan sebutan Manten Sapi, di mana hewan kurban dirias layaknya sepasang pengantin sebelum diserahkan kepada panitia masjid. Sapi-sapi ini akan dikalungi bunga tujuh rupa dan dibalut dengan kain kafan, sorban, serta sajadah sebagai simbol kesucian niat orang yang berkurban.
Pelaksanaan ini biasanya dilakukan satu hari sebelum lebaran haji. Sapi yang telah didandani kemudian diarak oleh ratusan warga menuju masjid setempat dalam sebuah pawai yang meriah. Proses ini merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan terakhir kepada makhluk ciptaan Tuhan yang akan memberikan manfaat bagi banyak orang melalui dagingnya.
Ritual Meugang di Aceh
Di serambi Mekkah, Iduladha disambut dengan tradisi Meugang yang telah eksis sejak zaman Kesultanan Aceh pada abad ke-16. Meugang adalah kegiatan memasak daging sapi atau kerbau dalam jumlah besar untuk dinikmati bersama keluarga dan dibagikan kepada anak yatim serta fakir miskin. Tradisi ini bermula sebagai wujud rasa syukur sultan atas kemakmuran rakyatnya menjelang hari raya besar Islam.
Pada hari pelaksanaan Meugang, harga daging di pasar-pasar tradisional Aceh seperti Pasar Lambaro dapat mencapai rentang Rp140.000 hingga Rp170.000 per kilogram. Meskipun harga melonjak, warga tetap antusias karena bagi masyarakat Aceh, merayakan hari raya tanpa sajian daging Meugang dianggap kurang lengkap secara adat. Tradisi ini dilakukan serentak di seluruh kabupaten dan kota di Aceh mulai dari satu hingga dua hari sebelum penyembelihan kurban.
Perayaan Grebeg Gunungan di Yogyakarta
Keraton Yogyakarta mengadakan upacara Grebeg Besar untuk memperingati hari raya Iduladha. Inti dari tradisi ini adalah pengarakan "gunungan" yang terdiri dari tumpukan hasil bumi seperti kacang panjang, cabai merah, telur asin, dan ketan. Gunungan tersebut melambangkan kemakmuran serta sedekah dari Raja kepada rakyatnya sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa.
Puncak acara terjadi saat Gunungan Jaler dan Gunungan Wadon dibawa dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman. Ratusan masyarakat biasanya akan berkumpul untuk memperebutkan bagian dari gunungan tersebut setelah didoakan oleh para abdi dalem. Mereka percaya bahwa membawa pulang ubarampe atau bagian dari gunungan dapat memberikan berkah dan keselamatan bagi keluarga di rumah.
Tradisi Kaul dan Abda'u di Maluku Tengah
Masyarakat Negeri Tulehu di Maluku Tengah melaksanakan tradisi unik yang disebut Kaul dan Abda'u. Ritual ini diawali dengan prosesi Kaul, yakni mengarak kambing kurban mengelilingi desa oleh para pemuka adat dan agama sambil melantunkan dzikir dan takbir. Setelah itu, hewan kurban akan dimandikan dengan air bunga sebagai simbol penyucian sebelum disembelih.
Setelah prosesi penyembelihan, acara dilanjutkan dengan Abda'u yang melibatkan ratusan pemuda setempat. Mereka berkumpul untuk melakukan atraksi saling rebut bendera hijau yang diperebutkan di tengah kerumunan. Kegiatan ini merupakan simbol keberanian dan semangat gotong royong warga dalam menjaga keutuhan serta keamanan wilayah mereka.
Budaya Mepe Kasur warga Osing di Banyuwangi
Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, memiliki tradisi unik bernama Mepe Kasur atau menjemur kasur secara massal menjelang Iduladha. Uniknya, kasur yang dijemur memiliki warna seragam yakni kombinasi merah dan hitam. Warna merah melambangkan semangat kerja keras dalam mencari nafkah, sementara warna hitam melambangkan kelanggengan dalam membina rumah tangga.
Tradisi ini dilakukan sejak pagi hari saat matahari mulai terik. Warga percaya bahwa dengan menjemur kasur secara bersamaan, mereka dapat membersihkan diri dari hal-hal negatif serta menolak bala. Tradisi ini juga menjadi momen berkumpulnya para ibu rumah tangga untuk saling bercengkerama, sehingga memperkuat solidaritas sosial di lingkungan desa.
Tradisi Ngejot sebagai simbol toleransi di Bali
Di tengah mayoritas masyarakat Hindu, seluruh umat beragama pada setiap hari raya melakukan tradisi ngejot sebagai bagian dari toleransi. Termasuk umat Muslim di Bali pada hari raya Iduladha. Tradisi ini berupa pembagian makanan atau hantaran kepada tetangga sekitar yang berbeda keyakinan. Hantaran biasanya berisi makanan siap saji atau buah-buahan sebagai tanda kasih sayang dan kerukunan antarumat beragama yang sudah terjalin sangat lama di Pulau Dewata.
Ngejot mencerminkan prinsip "Menyama Braya" atau persaudaraan tanpa memandang perbedaan agama. Melalui pemberian ini, ketegangan sosial dapat diminimalisir dan rasa saling menghargai semakin diperkuat.
Tradisi Toron di Madura
Masyarakat Madura memiliki tradisi mudik yang dikenal dengan istilah Toron. Meskipun mudik identik dengan Idulfitri, bagi orang Madura, pulang kampung saat Iduladha memiliki nilai sakral yang hampir setara. Puluhan ribu warga Madura yang merantau di berbagai kota besar di Indonesia akan kembali ke tanah kelahiran mereka untuk melakukan ziarah dan berkumpul dengan keluarga besar.
Tradisi Toron ini biasanya menyebabkan kepadatan di Jembatan Suramadu dan pelabuhan penyeberangan menuju Pulau Madura. Bagi mereka, merayakan Iduladha di tanah rantau terasa kurang bermakna jika tidak dilakukan bersama orang tua dan kerabat di desa. Semangat ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan kekeluargaan dan penghormatan terhadap akar budaya mereka.
Keberagaman atas tujuh tradisi unik Iduladha di Indonesia ini menunjukan kekayaan budaya yang berharga dan patut dilestarikan. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, nilai-nilai tentang berbagi, keberanian, dan toleransi dapat tersampaikan dengan cara yang lebih bermakna.




