Top
Begin typing your search above and press return to search.

Bali Ocean Days 2026, momentum kebangkitan pariwisata Indonesia

Event internasional bertajuk Bali Ocean Days (BOD) berlangsung di InterContinental Bali Resort yang berada di Kecamatan Kuta Selatan, Kabuoaten Badung, Bali yang diselenggarakan selama dua hari, pada 30 hingga 31 Januari 2026.

Bali Ocean Days 2026, momentum kebangkitan pariwisata Indonesia
X

Sumber foto: Eko Sulestyono/elshinta.com.


Event internasional bertajuk Bali Ocean Days (BOD) berlangsung di InterContinental Bali Resort yang berada di Kecamatan Kuta Selatan, Kabuoaten Badung, Bali yang diselenggarakan selama dua hari, pada 30 hingga 31 Januari 2026.

Diharapkan dengan adanya pertemuan internasional ini maka akan mampu menghadirkan hasil nyata, mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor dan juga merupakan momentum kebangkitan pariwisata Bali dan Indonesia di mata dunia.

Selain itu juga diharapkan akan mampu mendorong kepemimpinan Indonesia dalam menjaga dan mengelola kelestarian laut di tingkat global.

Pertemuan internaional ini diantaranya dihadiri oleh Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Republik Indonesia, Ni Luh Puspa Ermawati dan Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KKP) Republik Indonesia, Didit Herdiawan Ashaf beserta sejumlah perwakilan utusan negara internasional lainnya yang juga hadir di Bali.

Bali Ocean Days 2026 mengusung tema Navigating Solutions for a Regenerative Ocean Future dan menghadirkan lebih dari 40 pembicara dari 11 negara.

Forum ini diselenggarakan oleh Sky Blue Sea Foundation bekerja sama dengan Darmawan & Associates, dengan dukungan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE).

Wamenpar, Ni Luh Puspa Ermawati kepada wartawan menegaskan pentingnya peran Pulau Dewata Bali sebagai etalase transformasi pariwisata Indonesia di mata internasional.

“Bali bukan hanya destinasi pariwisata saja, namun tetapi wajah Indonesia. Cara kita mengelola Bali akan menentukan bagaimana dunia melihat keseriusan Indonesia dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan,” kata Ni Luh Puspa Ernawati, Jumat (30/1).

Menurut Ni Luh Puspa Ernawati, pariwisata bisa menjadi insentif untuk menjaga alam jika dikelola dengan benar. Tetapi jika salah kelola, dampaknya bisa bersifat permanen.

Kondisi tersebut juga dirasakan di sejumlah destinasi bahari unggulan, mulai dari Bali dan Nusa Penida, Labuan Bajo dan Komodo, hingga Raja Ampat, Bunaken, Wakatobi, Alor, Derawan, dan Banda.

Acara ini adalah konferensi dan showcase tahunan yang diselenggarakan oleh Yayasan Laut Langit Biru (Sky Blue Sea Foundation) bekerja sama dengan kementerian, korporasi, NGO, inovator, dan akademisi.

Dirancang sebagai platform aksi untuk mendukung SDG14 (Life Below Water), BOD menghadirkan hasil nyata, mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, serta mendorong kepemimpinan Indonesia dalam menjaga dan mengelola kelestarian laut di tingkat internasional.

Sementara itu, sejumlah negara kepulauan menyerukan aksi nyata dan kolaborasi global untuk menghadapi krisis laut dan dampak perubahan iklim yang kian mengancam wilayah pesisir.

Perwakilan dari Fiji, Papua Nugini, dan Seychelles menegaskan bahwa negara kepulauan berada di garis depan dampak kenaikan muka laut, kerusakan ekosistem pesisir, dan tekanan terhadap sumber daya kelautan.

Sementara itu, Ketua Panitia Bali Ocean Days 2026, Yoke Darmawan, mengatakan bahwa showcase inovasi di Bali Ocean Days dikurasi secara ketat agar yang ditampilkan adalah solusi yang sudah berjalan dan siap diperluas dampaknya.

Ia juga menegaskan peran Bali Ocean Days sebagai ruang dialog strategis bagi negara-negara yang berada di garis depan krisis laut.

“Bali Ocean Days mempertemukan solusi nyata dengan para pengambil kebijakan, pelaku industri, dan investor agar dampaknya bisa diperbesar melalui kolaborasi,” pungkas Yoke Darmawan seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Sabtu (31/1).

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire