Gerhana Bulan Merah 3 Maret saat Ramadan? Ini alasan ilmiahnya
Gerhana Bulan Merah 3 Maret saat Ramadan karena posisi Bulan, Bumi, dan Matahari sejajar sempurna buat Bulan terlihat merah sebab cahaya Matahari yang terbias.

Tampilan Gerhana BUlan Merah Total atau Blood Moon. (Sumber: Freepik)
Tampilan Gerhana BUlan Merah Total atau Blood Moon. (Sumber: Freepik)
Gerhana bulan merah 3 Maret saat Ramadan menjadi fenomena langit yang menarik perhatian banyak orang karena terjadi bertepatan dengan bulan suci umat Islam. Peristiwa ini secara ilmiah dikenal sebagai gerhana bulan total atau blood moon, yang akan membuat Bulan tampak berwarna merah ketika memasuki bayangan Bumi. Fenomena satu ini punya penjelasan ilmiah yang menarik untuk dipahami.
Apa itu gerhana bulan?
Gerhana bulan adalah peristiwa astronomi yang terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya Matahari yang biasanya memantul ke permukaan Bulan terhalang oleh Bumi.
Dalam kondisi tersebut, Bulan akan memasuki bayangan Bumi yang terdiri dari dua bagian, yakni penumbra (bayangan samar) dan umbra (bayangan inti).
Umumnya dikenal tiga jenis gerhana bulan:
- Gerhana penumbra, ketika Bulan hanya memasuki bayangan luar Bumi dan hanya mengalami redup ringan.
- Gerhana sebagian, ketika sebagian permukaan Bulan berada di dalam umbra Bumi.
- Gerhana bulan total, ketika seluruh permukaan Bulan berada di dalam umbra Bumi, menghasilkan blood moon.
Gerhana bulan total adalah jenis yang langka sekaligus paling menarik karena punya ciri khas-nya yang menunjukan perubahan warna mencolok.
Kenapa Bulan tampak merah saat gerhana?
Ketika Bulan berada sepenuhnya dalam bayangan umbra Bumi, seharusnya Bulan menjadi gelap total. Namun kenyataannya Bulan tidak hilang dari pandangan. Cahaya Matahari masih mencapai permukaan Bulan, tetapi jalannya pertama kali melalui atmosfer Bumi.
Atmosfer Bumi bertindak sebagai filter. Cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru dan ungu tersebar ke segala arah oleh molekul udara dan partikel atmosfer.
Sementara itu, panjang gelombang yang lebih panjang seperti merah dan oranye lebih sedikit tersebar dan justru dibengkokkan oleh atmosfer sehingga sampai ke Bulan.
Proses fisik ini dikenal sebagai hamburan Rayleigh(Rayleigh Scattering}) dan menjadi alasan ilmiah mengapa Bulan tampak merah atau tembaga saat gerhana total.
Fenomena serupa juga terjadi saat Matahari terbit dan terbenam, di mana langit tampak kemerahan karena hamburan atmosfer yang sama.
Jadwal gerhana bulan 3 Maret 2026 saat Ramadan
Gerhana bulan total yang terjadi pada 3 Maret 2026 bertepatan dengan 14 Ramadan 1447 Hijriah dan dapat diamati dari banyak wilayah termasuk Indonesia.
Di Indonesia, fase gerhana diperkirakan akan terlihat berdasarkan wilayah waktu sebagai berikut:
- Awal gerhana parsial: sekitar 16.50 WIB
- Awal totalitas gerhana: sekitar 18.04 WIB
- Puncak gerhana: sekitar 18.34 WIB
- Akhir totalitas: sekitar 19.02–19.04 WIB
- Akhir gerhana parsial: sekitar 20.17 WIB
Karena Bulan baru terbit ketika gerhana sudah berlangsung, di beberapa wilayah Indonesia fase awal gerhana mungkin tidak bisa disaksikan secara penuh. Namun fase totalitas atau blood moon tetap bisa diamati ketika Bulan sudah muncul di ufuk timur.
Fenomena bulan merah di sisi astronomi
Gerhana bulan total seperti yang terjadi pada 3 Maret 2026 juga menjadi peristiwa penting dalam astronomi karena memberikan kesempatan untuk mempelajari atmosfer Bumi.
Warna merah yang tampak pada Bulan bisa berubah tergantung pada kondisi atmosfer, seperti jumlah partikel debu atau aerosol yang ada. Kondisi atmosfer yang lebih banyak partikel bisa membuat Bulan tampak lebih gelap atau lebih merah tua.
Selain itu, gerhana bulan total berbeda dengan gerhana matahari karena bisa dilihat di wilayah yang luas di sisi malam Bumi tanpa perlindungan mata khusus. Selama Bulan berada di atas cakrawala pada malam itu, fenomena ini dapat dilihat dengan mata telanjang.
Jadi, gerhana bulan merah yang akan muncul pada tiga Maret nanti di bulan Ramadan merupakan fenomena total lunar eclipse yang secara ilmiah dapat dijelaskan melalui posisi tiga benda langit yaitu, Matahari, Bumi, dan Bulan yang sejajar sempurna.
Cahaya Matahari yang dibiaskan oleh atmosfer Bumi akan menghasilkan warna merah pada permukaan Bulan yang terlihat dari Bumi, inilah yang memberi nama blood moon. Peristiwa indah sekaligus berpotensi membawa peluang edukasi astronomi untuk masyarakat luas.




