Top
Begin typing your search above and press return to search.

Psikolog: Pilah informasi di tengah isu perang untuk kesehatan mental

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi mengingatkan pentingnya mencari sumber yang tepat dalam memilah informasi di tengah maraknya isu perang dunia, guna mencegah overthinking untuk menjaga kesehatan mental.

Psikolog: Pilah informasi di tengah isu perang untuk kesehatan mental
X

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi mengingatkan pentingnya mencari sumber yang tepat dalam memilah informasi di tengah maraknya isu perang dunia, guna mencegah overthinking untuk menjaga kesehatan mental.

“Carilah sumber yang tepat, benar, untuk pemberitaan mengenai adanya perang dan sebagainya atau serangan. Jangan diambil dari semua sosial media yang mungkin bukan intinya lagi tapi dimasukin oleh informasi-informasi tambahan yang membuat kita makin bingung,” kata Prof Rose ini kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Psikolog yang akrab disapa Romi itu mengatakan overthinking bisa muncul karena berbagai faktor, seperti kondisi tertekan, stres, hingga kondisi sosial ekonomi yang memengaruhi kehidupan seseorang.

Menurut dia, karakter perfeksionis dan tidak percaya diri turut memicu overthinking. Ketika situasi terasa mencekam dan rasa takut memicu pikiran berlebihan berbagai kekhawatiran.

“Tiap manusia punya rencana, pada waktu rencananya itu kemungkinan akan gagal bila terjadi sesuatu, maka dia bisa berpikir sehingga membuat menjadi was-was. Apabila hal ini terjadi, maka informasi-informasi yang sifatnya sampah itu akan memperparah situasi dan memperparah tentang kesehatan mental seseorang,” tuturnya.

Tanda stres atau kecemasan yang perlu diwaspadai, lanjut Prof Romi, seperti mulai sulit fokus, mudah takut, hingga kebiasaan mempersiapkan segala sesuatu yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Bahkan, kecemasan ini memicu gejala fisik seperti jantung berdebar serta perilaku menghindar, misalnya takut keluar rumah atau melakukan aktivitas rutin.

Prof Romi menyarankan pentingnya peran keluarga dan orang terdekat untuk memberikan dukungan emosional agar tidak terjebak dalam pikiran negatif yang berlebihan.

“Kalau ada seperti ini, maka orang-orang di sekelilingnya, significant others-nya, itu harus memberikan satu dukungan untuk bisa dia kembali kepada realita. Jadi jangan terlalu berpikir negatif tentang segala macamnya,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Prof Romi menyampaikan cara mengatasi rasa cemas dengan belajar mengenali kemampuan diri dan pendekatan spiritual.

”Kita harus belajar untuk melihat kemampuan diri kita, membaca memang sedikit tentang apa yang ada di lingkungan. Tapi yang paling penting, percaya pada Allah atau Tuhan dengan cara dan ibadah dari tiap agama masing-masing,” kata dia.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire