AS percepat program Golden Dome untuk tingkatkan pertahanan
Direktur program Golden Dome for America Jenderal Michael Guetlein menilai Amerika Serikat belum memiliki perlindungan yang memadai terhadap serangan rudal dan perlu segera memperkuat kemampuan pertahanannya.

Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) mendukung penerapan teknologi inovatif asal AS untuk meningkatkan pengolahan mineral kritis litium dari operasi energi panas bumi di Indonesia. (ANTARA/HO-Kedubes AS Jakarta).
Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) mendukung penerapan teknologi inovatif asal AS untuk meningkatkan pengolahan mineral kritis litium dari operasi energi panas bumi di Indonesia. (ANTARA/HO-Kedubes AS Jakarta).
Direktur program Golden Dome for America Jenderal Michael Guetlein menilai Amerika Serikat belum memiliki perlindungan yang memadai terhadap serangan rudal dan perlu segera memperkuat kemampuan pertahanannya.
“Kita memiliki ‘Golden Dome’ karena negara ini relatif belum terlindungi. Kita harus segera mengubah kondisi tersebut. Perkembangan global menunjukkan betapa berbahayanya situasi saat ini,” ujar Guetlein dalam konferensi yang diselenggarakan McAleese and Associates, Selasa.
Pada Mei 2025, Presiden AS Donald Trump meluncurkan proyek Golden Dome yang diperkirakan menelan biaya hampir 175 miliar dolar AS. Sistem pertahanan berlapis tersebut akan mengintegrasikan teknologi darat, laut, dan luar angkasa guna melindungi wilayah AS dari ancaman rudal.
Uji coba besar pertama dari sistem tersebut dilaporkan dijadwalkan berlangsung pada akhir 2028.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bahwa proyek pembangunan sistem pertahanan rudal global Golden Dome oleh Amerika Serikat dapat menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas strategis.
Sumber: Sputnik




