China sebut keinginan AS blokade Selat Hormuz tak selesaikan masalah

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun. /ANTARA/Desca Lidya Natalia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun. /ANTARA/Desca Lidya Natalia.
Pemerintah China menyebut langkah Amerika Serikat (AS) untuk memblokade kapal-kapal yang akan melewati Selat Hormuz pascaperundingan di Islamabad yang gagal menghasilkan kesepakatan, tidak akan menyelesaikan masalah.
"Akar penyebab gangguan di Selat Hormuz adalah konflik militer. Untuk menyelesaikan masalah ini, konflik harus dihentikan sesegera mungkin," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing.
Pada Minggu (12/4), Komando Pusat (CENTCOM) AS mengatakan akan mulai memblokade jalur maritim tersebut pada Senin (13/4) pukul 14:00 waktu setempat atau pukul 10.00 Eastern Time (21.00 WIB), melaksanakan arahan Trump, setelah perundingan antara Washington dan Teheran gagal dicapai.
Menurut pernyataan yang diunggah di platform media sosial X tersebut, blokade itu akan diberlakukan "secara tidak memihak" terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan area pesisir Iran, termasuk seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman, sesuai dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump.
"Selat Hormuz adalah jalur perdagangan internasional yang penting untuk barang dan energi. Menjaga keamanan dan stabilitas wilayah tersebut serta memastikan jalur yang tidak terhalang melayani kepentingan bersama komunitas internasional," tambah Guo Jiakun.
Ia pun meminta agar semua pihak perlu tetap tenang dan menahan diri dan China disebut akan terus memainkan peran konstruktif. Terkait dengan pembelian minyak dari negara lain, Guo Jiakun menyebut Tiongkok siap bekerja sama dengan negara manapun.
"Kami siap bekerja sama dengan pihak lain untuk bersama-sama menjaga keamanan energi global dan menjaga rantai pasokan tetap stabil. Namun, untuk menyelesaikan masalah ini secara mendasar, yang perlu dilakukan pertama dan terutama adalah memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk dan Timur Tengah," ungkap Guo Jiakun.
Presiden AS Donald Trump juga memberikan peringatan bahwa kapal-kapal Iran akan 'dimusnahkan' jika mereka mendekati wilayah yang diblokade oleh AS di Selat Hormuz.
"Peringatan: Jika ada kapal (Iran) yang mendekati BLOKADE kami, mereka akan segera DIELIMINASI, menggunakan sistem pembunuhan yang sama yang kami gunakan terhadap pengedar narkoba di kapal-kapal yang berada di laut," tulis Trump di Truth Social.
Hal tersebut menyusul kegagalan kesepakatan antara AS dan Iran pada Sabtu (11/4) di Islamabad sehingga delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden AS J.D. Vance kembali ke negara mereka tanpa membawa hasil kesepakatan. Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan, tuntutan maksimalis dan ancaman blokade Angkatan Laut (AL) AS menggagalkan tercapainya kesepakatan.
"Dalam pembicaraan intensif di tingkat tertinggi selama 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Namun, ketika hanya tinggal selangkah lagi dari 'MoU Islamabad', kami justru menghadapi maksimalisme, tuntutan yang berubah-ubah, dan blokade. Tidak ada pelajaran yang dipetik. Niat baik akan dibalas dengan niat baik. Permusuhan akan melahirkan permusuhan," kata Araghchi dalam unggahan di platform media sosial X, Senin (13/4).
Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Senin (13/4) pun memperingatkan "tidak ada pelabuhan di Teluk dan Laut Oman yang akan aman" setelah AS memberlakukan blokade lalu lintas kapal ke dan dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz. Keamanan pelabuhan di kawasan Teluk dan Laut Oman harus berlaku "bagi semua pihak atau tidak sama sekali," kata IRGC.
"Kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh" akan dilarang melintasi Selat Hormuz, sementara kapal lain dapat melintas sesuai peraturan yang ditetapkan Iran.
Pengiriman melalui Selat Hormuz pun langsung terhenti setelah Trump mengumumkan blokade tersebut. Lalu lintas yang sebelumnya sudah beroperasi pada tingkat terbatas tiba-tiba berhenti total karena kapal-kapal mulai berbalik arah di Selat Hormuz. Selat Hormuz diketahui menjadi jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak, produk petroleum/minyak bumi, dan gas alam cair (LNG) dunia.




