Kesepakatan AS–Iran gagal, Indonesia dorong dialog diplomasi berlanjut

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, di Jakarta, Kamis (16/4/2026)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, di Jakarta, Kamis (16/4/2026)
Pemerintah Indonesia menyesalkan belum tercapainya kesepakatan dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, serta mendorong agar dialog antara kedua negara tetap dilanjutkan demi menjaga stabilitas global.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, mengatakan Indonesia menghargai upaya fasilitasi yang dilakukan Pakistan dalam mempertemukan kedua pihak, meski hasil yang diharapkan belum tercapai.
“Indonesia menyesalkan belum tercapainya kesepakatan dalam perundingan antara AS dan Iran. Namun demikian, perundingan ini merupakan langkah awal yang tepat dan penting untuk terus dilanjutkan,” ujar Yvonne saat jumpa pers di Kantor Kemenlu RI, Jakarta, Kamis (16/4/2026)
Ia menegaskan, di tengah proses yang masih berlangsung, semua pihak diharapkan dapat menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Indonesia juga kembali menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara, serta kepatuhan terhadap hukum internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Indonesia menyerukan agar seluruh pihak menghindari tindakan yang dapat memperluas dampak konflik terhadap stabilitas dan perdamaian dunia,” katanya.
Seperti diketahui Amerika Serikat dan Iran telah melakukan negosiasi putaran pertama di Islamabad, Pakistan, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Teheran terkait gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, Minggu (12/4/2026) waktu setempat, Wakil Presiden AS J. D. Vance, selaku ketua delegasi AS, menyatakan bahwa Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan tersebut dan delegasi AS kembali tanpa hasil.
Kemudian, Trump pun mulai memblokade Selat Hormuz dan meminta Angkatan Laut AS mengejar dan mencegat kapal-kapal yang membayar untuk melewati selat tersebut.
Sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia secara konsisten mendorong penyelesaian konflik melalui dialog, serta menolak penggunaan kekuatan yang dapat mengancam stabilitas kawasan maupun global.
Awaluddin Marifatullah/Ter




