Musim semi dan panen: Saat Lichun Tiongkok bertemu musim panen Indonesia

Ketika gagang Bintang Biduk menunjuk ke arah "寅"(Yin), Tiongkok menyambut "Lichun" - awal harapan di mana es mencair dan tunas merekah. Sementara di kepulauan tropis Indonesia, musim panen emas padi awal justru tiba. Terpisah oleh gunung dan laut, dua peradaban ini sama-sama menghormati ritme alam: masyarakat Tiongkok merayakan kehidupan baru dengan ritual "menggigit musim semi", sementara rakyat Indonesia mensyukuri panen melalui upacara "Melasti".
Ini bukan sekadar kebetulan waktu, tetapi gema kebijaksanaan Timur. Sistem 24 musim Tiongkok dan penanggalan pertanian "Pranata Mangsa" Indonesia sama-sama menyimpan filosofi kuno dalam mengamati langit-bumi dan menyesuaikan diri dengan siklus alam. Di tengah perubahan iklim saat ini, tradisi penghormatan kepada alam justru menemukan makna baru: dari pertanian musim semi cerdas di Lembah Sungai Yangtze hingga siklus ekologis persawahan teras Bali, kedua negara melanjutkan kearifan leluhur melalui teknologi modern.
Kelahiran musim semi dan panen adalah dua sisi dari siklus kehidupan yang sama. Mari, di musim segala sesuatu bangkit ini, kita menyaksikan resonansi peradaban dalam perbedaan, dan melihat potensi tangan yang tergandeng untuk membina masa depan bersama.




