Prabowo: Integrasi perdagangan bukan ancaman bagi kedaulatan
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memandang integrasi perdagangan global bukan sebagai ancaman terhadap kedaulatan negara, melainkan instrumen penting untuk mendorong kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Sumber foto: Antara/elshinta.com
Sumber foto: Antara/elshinta.com
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memandang integrasi perdagangan global bukan sebagai ancaman terhadap kedaulatan negara, melainkan instrumen penting untuk mendorong kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Penyataan itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis waktu setempat. Menurut Prabowo, Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai negara perdagangan dan secara konsisten menjalin kerja sama ekonomi internasional berdasarkan prinsip saling menguntungkan.
"Kami meyakini bahwa integrasi perdagangan jika dilakukan secara adil, bukanlah ancaman bagi kedaulatan. Kami percaya perdagangan adalah alat untuk mencapai kemakmuran," ujar Prabowo.
Presiden menjelaskan bahwa Indonesia menyepakati perjanjian perdagangan dan kemitraan ekonomi bukan karena tren global, melainkan sebagai kebutuhan strategis.
Sepanjang tahun lalu, Indonesia telah menandatangani sejumlah perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) dan kemitraan ekonomi komprehensif atau comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan berbagai kawasan dan serta seperti Eropa, Eurasia, Uni Emirat Arab, Kanada, Peru, dan lainnya.
Menurut Prabowo, integrasi perdagangan mampu meningkatkan produktivitas, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan sektor swasta di Indonesia, ASEAN, dan kawasan global.
Lebih lanjut, Prabowo menekankan Indonesia bertekad menjadi negara modern yang terintegrasi dengan perekonomian global. Oleh karena itu, Indonesia terbuka dengan untuk investasi asing maupun domestik untuk mendukung kesejahteraan rakyat tanpa meninggalkan prinsip kedaulatan dan keadilan.
"Indonesia sekarang dan selamanya terbuka bagi investasi asing maupun domestik. Kami menyadari bahwa prasyarat utama investasi adalah stabilitas politik dan ekonomi," jelas Presiden.




