Top
Begin typing your search above and press return to search.

Sanksi menanti Petugas Haji pelanggar aturan seragam

Sanksi menanti Petugas Haji pelanggar aturan seragam
X

Kedatangan jemaah haji di Madinah, Rabu (22/4/2026) disambut para petugas Haji

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengambil langkah tegas demi menjamin kelancaran Sukses Ritual pada momen ibadah Jumat perdana di Masjid Nabawi. Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah, Khalilurrahman, menegaskan bahwa seluruh petugas haji wajib mengenakan seragam resmi dan akan ada sanksi bagi yang melanggar. Kedisiplinan petugas adalah tulang punggung pelayanan bagi puluhan ribu jemaah Indonesia yang berada di Madinah.

"Wajib menggunakan seragam petugas seperti ini, tidak ada petugas yang menggunakan baju koko kemudian pakai sarung," tegas Khalilurrahman, di Madinah, Kamis (23/4/2026).

Aturan ini dibuat semata-mata agar jemaah dapat dengan mudah mengenali pahlawan mereka di tengah keramaian. "Agar memudahkan jemaah mengenali petugas ketika mereka membutuhkan bantuan kepada petugas PPIH Arab Saudi ataupun PPIH kloter," jelasnya.

Inspektorat Jenderal Kemenhaj akan turun langsung memantau tingkat kepatuhan para pelayan tamu Allah ini. "Petugas yang melanggar kode etik, melanggar pakta integritas petugas di antaranya tidak menggunakan seragam nanti akan ada tindakan," ancamnya tegas.

Kehadiran petugas berseragam ini sangat vital mengingat cuaca Madinah yang menuntut kewaspadaan penuh. "Karena cuaca di Madinah cukup ekstrem, bisa mencapai siang hari bisa mencapai 35 derajat celcius," ungkapnya mengingatkan potensi bahaya.

Petugas wajib proaktif mengawasi jemaah yang mungkin mengalami disorientasi akibat kelelahan atau suhu tinggi. "Jika melihat jemaah yang sendirian agar didampingi, atau melihat gejala jemaah bingung agar segera didekati," perintahnya.

Selain disiplin petugas, jemaah juga diberikan instruksi ketat terkait pengamanan barang bawaan, khususnya alas kaki. "Sandal supaya dimasukkan dalam kresek kantong plastik kemudian dimasukkan dalam tas dan dibawa, jangan ditinggal," imbaunya.

Petugas sektor telah dibekali logistik untuk mengantisipasi jemaah yang kehilangan alas kaki di area masjid. "Bisa minta kepada petugas yang berada di area sektor khusus Masjid Nabawi untuk minta sandal," terangnya memberikan solusi pasti.

Kemenhaj juga menerapkan strategi pergerakan berkelompok untuk meminimalisasi risiko jemaah tersesat. "Upayakan beregu 10 orang supaya nanti ketika mereka keluar tidak lupa hotelnya, ada yang membantu," instruksinya.

Kelengkapan dokumen identitas menjadi prosedur wajib yang tidak boleh dilupakan saat keluar pemondokan. "Jemaah juga jangan lupa membawa kartu identitas dalam hal ini adalah kartu nusuk, kemudian juga jangan lupa membawa kartu hotel," tegasnya.

Untuk menghindari kepadatan ekstrem, Kemenhaj mengatur ritme pergerakan jemaah dari hotel menuju masjid. "Bagi jemaah yang akan melakukan salat di Masjid Nabawi perdana, himbauan kami berangkat mungkin sekitar jam 10 atau 10.30," urainya.

Edukasi preventif mengenai tata cara bersuci dan minum turut disampaikan demi kenyamanan ibadah. "Sebaiknya wudhunya di hotel ya, minum tiga sekali teguk dikit-dikit setiap 20 sampai 30 menit agar tidak dehidrasi," sarannya.

Bagi jemaah lansia, Kemenhaj telah menyiapkan skema layanan khusus yang komprehensif bersama petugas kloter. "Bisa berkoordinasi dengan layanan lansia atau disabilitas yang ada di sektor," paparnya.

Meski demikian, Khalilurrahman kembali menegaskan bahwa memaksakan diri bagi yang sakit sangat tidak dianjurkan. "Untuk jemaah yang memang secara fisik tidak memungkinkan untuk salat, cukuplah salat di hotel masing-masing," tutupnya

Bhery Hamzah/Ter

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire