Area terdampak pergerakan tanah di Bantargadung Sukabumi tak bisa dihuni lagi
Bupati Sukabumi Asep Japar menyatakan area terdampak bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe RT 05/07, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, sudah tidak bisa lagi ditempati.

Sumber foto: Andri Somantri/elshinta.com.
Sumber foto: Andri Somantri/elshinta.com.
Bupati Sukabumi Asep Japar menyatakan area terdampak bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe RT 05/07, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, sudah tidak bisa lagi ditempati. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sukabumi sedang menyiapkan rencana relokasi bagi warga terdampak.
Asep mengatakan dirinya telah meninjau langsung lokasi pergerakan tanah tersebut. Berdasarkan hasil peninjauan, pergerakan tanah masih terus terjadi dan dinilai berbahaya bagi warga.
“Melihat kondisi yang hari ini, tanah terus bergerak. Ini kelihatannya akan lama, karena kan saya melihat langsung kondisi rumah yang ada disini, hari ke hari ini terus bergerak dan ini perlu penanganan yang serius dan kelihatannya ini tidak bisa dihuni lagi, dari pemerintah harus segera mempersiapkan untuk relokasi,” ujar Asep.
Ia menjelaskan bahwa lahan untuk relokasi sebenarnya sudah tersedia. Namun, lokasi tersebut masih perlu dilakukan pengecekan dan pengujian terlebih dahulu untuk memastikan keamanannya dari potensi pergerakan tanah.
“Tanah memang ada di daerah sini, tapi akan dicek, diuji dulu, apakah itu aman dari pergerakan tanah. Kalau misalkan disini aman, kita akan lakukan disini,” ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Andri Somantri, Jumat (6/3).
Selain itu, Asep menegaskan bahwa keselamatan dan kenyamanan warga terdampak menjadi prioritas utama, khususnya bagi mereka yang saat ini masih berada di posko pengungsian. Sehingga Pemkab Sukabumi mempersiapkan anggaran untuk sewa rumah bagi para korban bencana.
Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah menetapkan pergerakan tanah di Kecamatan Bantargadung berstatus tanggap darurat bencana selama 7 hari mulai 4 Maret hingga 10 Maret.
Sementara itu, Camat Bantargadung Syarifudin Rahmat menyampaikan bahwa bencana pergerakan tanah yang terjadi sejak 22 Februari telah mengakibatkan 101 rumah terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 36 rumah mengalami kerusakan berat, 18 rumah rusak sedang, 20 rumah rusak ringan, dan 27 rumah lainnya berada dalam kondisi terancam.
Rahmat menjelaskan bahwa peristiwa tersebut juga memaksa ratusan warga mengungsi. Secara keseluruhan terdapat 112 kepala keluarga (KK) atau 367 jiwa yang terdampak bencana tersebut.
“Dari jumlah itu terdapat 10 ibu menyusui, 1 ibu hamil, 38 lansia, 8 penyandang disabilitas, dan 51 balita. Untuk pengungsian, sebagian warga mengungsi secara mandiri sebanyak 44 KK, kemudian 1 KK mengontrak secara mandiri, dan 63 KK terdiri dari 191 jiwa berada di posko pengungsian,” ujarnya.




