Pemprov Kalteng waspadai kemarau lebih awal guna antisipasi karhutla
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mewaspadai potensi kemarau yang diprediksi terjadi lebih awal pada 2026, sebagai upaya mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mewaspadai potensi kemarau yang diprediksi terjadi lebih awal pada 2026, sebagai upaya mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Sangat penting memperkuat kesiapsiagaan berbagai pihak dalam menghadapi potensi musim kemarau 2026 yang diperkirakan dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla di wilayah Kalimantan Tengah," kata Pelaksana Tugas Sekda Kalteng Leonard S Ampung di Palangka Raya, Senin.
Dia mengatakan hal itu dalam konferensi video diseminasi prediksi musim kemarau pada 2026 di Kalteng bersama pihak terkait lainnya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat beberapa kondisi yang perlu diwaspadai, di antaranya musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.
Selain itu, curah hujan yang cenderung berada di bawah kondisi normal atau lebih kering serta awal musim kemarau yang diperkirakan dimulai pada akhir Mei dengan puncak pada Agustus hingga Oktober 2026. Kondisi ini turut dipengaruhi potensi fenomena El Nino.
“Strategi penanganan harus bergeser pada mitigasi yang tepat sasaran dengan fokus pada pencegahan dini serta memperkuat sinergi antar-instansi, baik pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, dunia usaha, maupun masyarakat,” ucapnya.
Ia mengatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) perlu segera diprogramkan sebagai langkah antisipasi.
Selain itu, penetapan status kedaruratan perlu dilakukan lebih awal agar dukungan sumber daya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta mekanisme pergeseran anggaran segera diproses.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng Ahmad Toyib menambahkan tingkat bahaya karhutla pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi jika dibandingkan dengan pada 2025 dan 2024.
Hal ini dipengaruhi musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal, dimulai pada akhir Mei 2026 dengan kondisi yang lebih kering, sifat hujan di bawah normal, serta durasi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang hingga sekitar lima bulan.
“Selain itu, terdapat potensi terjadinya fenomena El Nino lemah mulai Juni 2026 yang dapat meningkatkan risiko karhutla di wilayah Kalimantan Tengah,” katanya.
Namun demikian, ia menilai pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan upaya pengendalian karhutla dapat berjalan dengan baik berkat sinergi seluruh pihak.
Keberhasilan pengendalian saat menghadapi fenomena El Nino moderat pada 2023 menjadi salah satu contoh, penguatan program dan kegiatan rutin serta ketepatan pelaksanaan operasi di lapangan melalui deteksi dini dan pemadaman dini mampu menekan dampak karhutla.




