SPTN Wilayah I hentikan pendakian Gunung Kerinci
Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) menghentikan pendakian Gunung Kerinci di tengah meningkatnya aktivitas kegempaan yang terekam oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Minggu (4/1).

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) menghentikan pendakian Gunung Kerinci di tengah meningkatnya aktivitas kegempaan yang terekam oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Minggu (4/1).
"Berdasarkan surat dan informasi ini, besok kita minta tidak ada pendaki yang melakukan pendakian ke Gunung Kerinci," kata Kepala SPTN Wilayah I BBTNKS David di Kerinci, Senin.
Menurut David, terhitung Selasa (6/1) pihak pengelola menghentikan aktivitas pendakian. Sejak terjadi peningkatan, pihaknya telah memberikan imbauan agar masyarakat atau pengunjung tidak melakukan pendakian hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
"Saat ini kami menghimbau untuk tidak melakukan pendakian Gunung Kerinci dulu, sampai ada pemberitahuan selanjutnya," jelas dia.
Berdasarkan laporan khusus yang dikeluarkan Badan Geologi Kementerian ESDM melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (4/1), telah terjadi peningkatan aktivitas kegempaan Gunungapi Kerinci, di Provinsi Sumatera Barat dan Jambi.
Dalam laporan itu dijelaskan, pada 4 Januari 2026, mulai pukul 11.33 WIB telah terjadi peningkatan jumlah Gempa Vulkanik Dalam dan Gempa Vulkanik Dangkal.
Hingga pukul 15.06 WIB di hari yang sama, terekam sebanyak 101 kejadian Gempa Vulkanik Dangkal dan 14 kali Gempa Vulkanik Dalam.
Jenis dan jumlah gempa lainnya yang terekam pada periode yang sama terdiri dari: 27 Kali Gempa Hembusan, 26 kali Gempa Frekuensi Rendah, 21 kali Gempa Hybrid, 1 kali Gempa Tektonik Jauh, 21 kali Gempa Tektonik Lokal, dan 1 kali Gempa Terasa dengan intensitas II MMI.
Pengamatan visual ke arah kawah puncak G. Kerinci pada pagi hari hingga pukul 15.19 WIB terlihat jelas dan tidak teramati adanya hembusan gas yang melewati dinding kawah puncak.
Dalam grafik Real-time Seismic Amplitude Measuremen (RSAM), yang menggambarkan energi gempa, fluktuatif dan menunjukkan pola kenaikan drastis (non gradual) pada akhir periode pengamatan, diduga terkait kejadian Gempa Terasa.
Perhitungan nilai (S-P) gempa Vulkanik Dalam menunjukkan nilai 1 – 2.3 detik, nilai ini mengecil dibanding (S-P) pada kenaikan gempa-gempa vulkanik di 31 Desember 2025.
Hal ini mengindikasikan aktivitas fluida dominan gas pada kedalaman yang relatif besar telah mulai bermigrasi ke permukaan.
Pengamatan lebih intensif akan dilakukan untuk antisipasi kenaikan jumlah Gempa Vulkanik Dalam dan Vulkanik Dangkal yang lebih signifikan terutama jika disertai dengan pemendekan nilai (S-P), peningkatan gradual pada grafik RSAM, kemunculan Getaran Tremor dengan nilai amplituda membesar dan/atau perubahan/anomali visual.
Tingkat aktivitas Gunung Kerinci saat ini adalah Level II (Waspada) dengan rekomendasi agar masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati dan beraktivitas di dalam
radius 3 km dari kawah puncak G. Kerinci.
Potensi bahaya G. Kerinci saat ini berupa gas vulkanik konsentrasi tinggi serta lontaran batuan (pijar) jika terjadi erupsi.
Sehubungan dengan peningkatan kegempaan G. Kerinci, masyarakat agar mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi, serta tidak terpancing oleh berita-berita yang tidak benar dan tidak bertanggungjawab mengenai aktivitas Gunung Kerinci.
Serta mengikuti arahan dari Instansi yang berwenang yakni Badan Geologi yang akan terus melakukan koordinasi dengan BNPB, BMKG, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dan instansi terkait lainnya.




