Tiga bulan pascabencana, 12.194 warga Aceh masih di tenda pengungsian
Tiga bulan pascabencana ekologis yang menghantam 18 kabupaten/kota di Aceh, hingga saat ini tidak ada perubahan yang signifikan. Sebanyak 12.194 orang, masyarakat Aceh masih tinggal di tenda-tenda pengungsian tanpa ada kepastian rumah pengganti.

Sumber foto: Fitri Juliana/elshinta.com.
Sumber foto: Fitri Juliana/elshinta.com.
Tiga bulan pascabencana ekologis yang menghantam 18 kabupaten/kota di Aceh, hingga saat ini tidak ada perubahan yang signifikan. Sebanyak 12.194 orang, masyarakat Aceh masih tinggal di tenda-tenda pengungsian tanpa ada kepastian rumah pengganti.
Huntara yang dibangun belum semuanya rampung, bahkan dana tunggu hunian juga belum diterima korban hingga saat ini.
Ernawati, warga Gampong Meunasah Raya, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh harus merasakan Ramadhan tahun ini di pengungsian tanpa ada kejelasan sampai kapan mereka harus hidup di tenda. Kondisi tersebut jauh berbeda dari Ramadhan sebelumnya.
Hingga saat ini belum ada kejelasan nasib mereka dari pemerintah, bantuan dana rehab atau bantuan rumah yang dijanjikan tak kunjung ada hinggga saat ini. Hanya bantuan berupa sembako yang mereka terima selama ini dari pemerintah dan relawan yang datang ke desa mereka.
“Yang ada cuma bantuan sembako selama ini, berupa beras, telur, minyak yang lain tidak ada, itu yang saya alami. Bahkan untuk alas tidur di tenda kami pakai tikar beli sendiri,” jelas Ratna Wati seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Fitri Juliana, Rabu (25/2).
Begitu juga untuk membersihkan rumah yang tertimbun lumpur mereka harus merogoh kocek sendiri untuk membayar upah pekerja sehari Rp200 ribu dan itu sangat memberatkan bagi warga yang tidak mampu. Sehingga masih banyak rumah warga di Kabupaten Pidie Jaya yang masih tertutup lumpur sehingga tidak bisa untuk ditempati.
Hari ini genap tiga bulan pascabanjir melanda Pidie Jaya, Erna dan warga lainnya tinggal di tenda darurat yang didirikan di pekarangan meunasah atau mushala desa setempat. Di lokasi itu, mereka berkumpul dan saling menguatkan agar tetap tabah menjalani musibah sekaligus menunaikan ibadah puasa Ramadhan.
Mereka merasa kehidupannya terhenti tanpa ada aktivitas, mata pencaharian hilang, dan masyarakat belum bisa kembali ke rumah masing-masing karena bangunan masih tertimbun lumpur.
“Ya mau bagaimana lagi, keadaan yang memasak kami untuk tetap tinggal di tenda pengungsian yang panas saat siang, kebanjiran saat hujan dan menjalani Ramadhan di pengungsian. Mungkin lebaranpun kami harus di tenda,” ucapnya sambil menahan tangis.
Selama bulan puasa, menu berbuka di pengungsian juga tidak ada yang istimewa. Mereka memasak seadanya, asalkan seluruh anggota keluarga bisa makan dan tidak kelaparan.
Saat ini untuk bisa bertahan hidup selama di pengungsian, warga hanya bisa bekerja serabutan sebagai kuli bangunan, buruh cuci dan setrika hingga buruh angkut, karena kehilangan mata pencaharian. Mereka tidak lagi bisa turun ke sawah karena tertimbun lumpur.
Erna menuturkan, luka akibat banjir yang mereka alami juga belum sepenuhnya sembuh. Khususnya anak-anaknya, yang selalu menangis jika hujan deras karena takut banjir datang lagi. Karena saat hujan turun, air naik hingga masuk ke area tenda pengungsian dan mereka harus pindah ke mushala.
Erna dan beberapa warga meunasah Raya mengaku sudah berhenti berharap banyak kepada pemerintah, karena mereka sudah sering dikecewakan dan hanya bisa menunggu dan menungggu saja. Sudah tiga bulan pasca bencana mereka hanya menerima janji-janji saja tanpa ada realisasinya.




