Keluarga serahkan rambut ibu Deden ke tim DVI
Keluarga Deden Maulana, salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), menyerahkan rambut ibunya ke tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk digunakan dalam tes asam deoksiribonukleat (DNA).

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Keluarga Deden Maulana, salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), menyerahkan rambut ibunya ke tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk digunakan dalam tes asam deoksiribonukleat (DNA).
"Karena menurut tim DVI dari sana, harus ada yang sedarah. Jadi, yang diminta di antaranya, satu rambut ibunya dibawa," kata ayah Deden, Mukhsin kepada wartawan di Jakarta, Senin.
Mukhsin mengatakan adik korban dan suaminya juga diminta untuk pergi ke Makassar guna diperiksa dan memberikan sejumlah data yang dibutuhkan.
Dia berharap dari data-data tersebut bisa mempercepat untuk menemukan Deden yang hilang.
"Data di antaranya ijazah, kartu keluarga (KK), tanda-tanda di badan, baju yang dipakai dan foto yang lagi tersenyum kelihatan gigi. Itu saja yang diminta," ucapnya.
Dia menambahkan, keluarga tidak merasakan tanda apa-apa saat interaksi terakhir dengan Deden.
Kini, keluarga sedang berduka dan menanti adanya kabar dari pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut.
"Ya, harapan kami sekeluarga itu, semoga cepat ditemukan dan mendapatkan berita yang menggembirakan," ucapnya.
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dinyatakan hilang kontak di wilayah pegunungan Bulusaraung daerah perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, Sulsel saat hendak mendarat di Bandara Hasanuddin pada Sabtu (17/1) siang.
Pesawat ini ditumpangi 10 orang, tujuh orang kru pesawat dan tiga orang penumpang. Ketiganya adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yakni Ferry Irawan, Deden Maulana dan Yoga Naufal.
Sedangkan kru pesawat, tujuh orang, pilot Captain Andi Dahananto, copilot Muhammad Farhan Gunawan, kru pesawat Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther Aprilita.




