Top
Begin typing your search above and press return to search.

Seorang anak di Sukabumi tewas dengan tubuh penuh luka diduga dianiaya ibu tiri

Seorang anak laki-laki berinisial NS, berusia 12 tahun di daerah Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi meninggal dunia dengan kondisi luka di tubuhnya. Peristiwa ini viral di media sosial dan muncul dugaan bahwa korban dianiaya ibu tirinya berinisial TR.

Seorang anak di Sukabumi tewas dengan tubuh penuh luka diduga dianiaya ibu tiri
X

Sumber foto: Andri Somantri/elshinta.com.

Seorang anak laki-laki berinisial NS, berusia 12 tahun di daerah Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi meninggal dunia dengan kondisi luka di tubuhnya. Peristiwa ini viral di media sosial dan muncul dugaan bahwa korban dianiaya ibu tirinya berinisial TR.

Ayah kandung korban, Anwar Satibi, menyatakan, kejadian tersebut telah dilaporkan ke Polres Sukabumi sehingga dia menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian.

“Urusan ini sudah saya serahkan kepada pihak kepolisian, saya sudah mempercayakan kepada pihak kepolisian sepenuhnya,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).

Dia menyatakan, telah dimintai keterangan oleh unit PPA Polres Sukabumi di Polsek Jampangkulon pada Sabtu (21/2/2026). Menurut dia, selain dia, ibu tiri korban juga saksi lainya turut diperiksa. “Saya, istri saya terus saksi-saksi,” imbuhnya.

Anwar menuturkan anaknya merupakan siswa kelas 1 SMP sekaligus santri Pondok Pesantren Darul Ma'arif, di Kecamatan Cibitung.

Menurut dia, menjelang Ramadan, korban pulang dulu ke rumahnya di Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon. Menurut Anwar, ketika itu, kondisi anaknya dalam keadaan sehat. Ia bahkan sempat mengajak putranya jalan-jalan.

Namun pada Rabu (18/2/2026) ketika Anwar sedang bekerja, istrinya menelepon dan mengabarkan bahwa anak tersebut demam. Saat tiba di rumah, Anwar terkejut melihat kondisi kulit anaknya yang melepuh di sejumlah bagian tubuh, seperti kaki, punggung, dan tangan.

“Ketika sampai rumah saya kaget melihat kondisi kulit anak saya yang kulitnya pada melepuh. Saya tanya Mah kenapa kulitnya seperti ini? dia jawab ‘ini kan sakit panas yah jadi kulitnya melepuh’,” ujar Anwar seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Andri Somantri.

Keesokan harinya, pada Kamis pagi, korban dibawa ke RSUD Jampangkulon. Di rumah sakit, Anwar mulai merasa ada kejanggalan terhadap kondisi anaknya. Ia kemudian meminta Isep Dadang Sukmana, pengurus pondok pesantren Darul Ma’arif untuk datang ke rumah sakit.

Anwar menuturkan, saat berada di ruang IGD RSUD Jampangkulon, Isep bertanya kepada korban terkait penyebab luka yang dialaminya. Kepada Isep, korban mengaku disuruh meminum air panas oleh ibu tirinya.

Percakapan tersebut terekam dalam sebuah video yang memperlihatkan Isep saat bertanya kepada korban. Rekaman berisi pengakuan korban itu kemudian beredar luas dan viral di media sosial.

“Haji isep datang, ditanyalah ini anak, yah ngaku dikasih air panas,” ujarnya.

Setelah dari IGD, korban mendapat penanganan intensif di ruang ICU karena kondisinya yang kritis. Namun, pada Kamis sore, korban dinyatakan meninggal dunia.


Atas peristiwa tersebut, Anwar meminta agar dilakukan autopsi guna memastikan penyebab kematian anaknya.

“Makanya kenapa saya mendorong untuk dilakukannya otopsi, intinya saya tidak bisa menuduh, tidak bisa memfitnah, karena saya ingin tahu, ingin memastikan. Saya tidak bisa menuduh-nuduh sembarang,” pungkasnya.

Proses otopsi dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Sukabumi pada Jumat (20/2/2026), dimulai pukul 09.00 WIB dan berlangsung selama tiga jam.


Seusai diotopsi, jenazah anak itu kemudian dimakamkan di Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade yang merupakan kampung halaman ayahnya.

Sementara itu, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Sukabumi Kombes dr Carles Siagian menyatakan dari otopsi yang dilakukan terdapat luka bakar di lengan, di kaki kanan dan kiri kemudian luka di punggung serta di area bibir dan hidung.

Carles menyatakan dokter forensik belum bisa menyimpulkan apakah luka bakar itu dari penganiayaan atau bukan.

“Luka bakar pada anggota gerak, di lengan, di kaki kanan-kiri, kemudian ada beberapa luka juga di punggung. Luka bakar juga ada di area bibir dan hidung,” ujarnya.

Meski ditemukan banyak luka bakar, Carles menyatakan bahwa secara medis luka-luka di permukaan kulit tersebut seharusnya tidak sampai menyebabkan kematian. “Penyebab kematian masih belum bisa disimpulkan, karena dari luka tersebut, seharusnya tidak menyebabkan kematian,” imbuhnya.

Oleh karena itu, tim forensik melakukan pemeriksaan mendalam terhadap organ dalam korban. Adapun terhadap sampel organ dalam akan diperiksa lebih lanjut di laboratorium di Jakarta.

Carles menambahkan organ dalam yang diperiksa meliputi jantung dan paru-paru. Menurut dia, Paru-paru diperiksa karena sedikit membengkak. “Paru-paru diperiksa karena paru-paru sedikit membengkak, belum tahu apakah memang itu karena korban punya penyakit sebelumnya atau tidak,” tuturnya.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire