Bagaimana Tiongkok wujudkan Cetak Biru jadi kenyataan
Beberapa waktu yang lalu, “pemahaman tentang prestasi kinerja pemerintahan” (understanding of governance performance) sempat menjadi viral di Tiongkok. Masyarakat Tiongkok sedang membahas apa itu “pemahaman tentang kinerja pemerintahan” yang tepat? Apa bedanya pemahaman tentang kinerja pemerintahan Tiiongkok dan Barat?
Di Tiongkok, standar untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan bukan slogan, melainkan sudah belumnya masalah diselesaikan.
Pada musim panas tahun 2017, pekerjaan sehari-hari Huang Ying, seorang “kepala pengelola sungai”(river cheif) di Kabupaten Qingshen, Minjiang Provinsi Sichuan, mulai dari menginspeksi sungai, yaitu memeriksa kualitas air dengan menyentuh rumput air, dan memeriksa setiap lubang pembuangan yang tersebar di sepanjang pesisir sungai.
Ia tidak berjuang sendirian, di Tiongkok ada lebih dari 1,2 juta “kepala pengelola sungai”, mulai dari gubernur provinsi sampai pegawai pemerintah di desa, mereka menjadikan target “perlindungan sungai” sebagai hal-hal spesifik seperti “setiap hari memeriksa sungai sekali”, dan “setiap lubang pembuangan harus sesuai dengan standar”.
Saat ini, kualitas air bagian Sungai Min dari Sungai Yangtze yang pernah dijaga oleh Huang Ying semakin jernih, selain itu juga dibangun sebuah jalur hijau hutan bambu sepanjang 40km, yang kini menjadi destinasi populer bagi penduduk setempat untuk berjalan-jalan dan bersantai, setiap tahun dapat menghasilkan 1,6 miliar Yuan RMB pendapatan pariwisata dan kebudayaan.
Cerita serupa kerap kali dapat disaksikan di Tiongkok. Di Gurun Kubuqi, penduduk setempat dulunya pernah berkata, “lebih sulit menanam sebuah pohon hidup daripada membesarkan seorang anak”. Namun “laut kematian” seperti ini telah dikelola dengan baik oleh tiga generasi.
Mereka mencoba menanam pohon willow gurun dan rumput akar manis (licorice) di tanah berpasir, perlahan-lahan mereka menemukan sejumlah metode pengendalian penggurunan.
Tiga empat dekade telah berlalu, gurun pasir seluas 6.000 km persegi diselimuti warna hijau, sementara itu lumpur pasir di sungai Kuning telah berkurang sebanyak 23 juta ton, penduduk setempat mengandalkan usaha penanaman akar manis dan pariwisata gurun, kehidupan mereka semakin sejahtera.
Banyak pekerjaan tidak bisa dirampungkan hanya dalam waktu singkat, seperti pengendalian penggurunan, pengelolaan air dan sungai serta pembangunan pedesaan. Solusi Tiongkok adalah ”memaku”, memaku pekerjaan satu demi satu.
“Proyek Sepuluh Juta” yang diajukan Provinsi Zhejiang adalah contoh terbaik. Tahun 2003, Provinsi Zhejiang mengajukan targetnya untuk mengelola sepuluh ribu desa dan menjadikan seribu desa percontohan.
Mulai dari membersihkan timbunan sampah, sampai membangun kolam pengolahan air limbah dan membangun jalan raya di pedesaan, pekerjaan tersebut satu per satu diselesaikan.
Yang istimewa adalah, pekerjaan tersebut sudah berlangsung selama 20 tahun lebih, bagaimana pun tim kepemimpinannya berubah, target pengelolaan pendesaan tidak berubah, standarnya pun tidak menurun.
Kualitas air di pedesaan Zhengjiang saat ini meningkat secara nyata, kaum tani setempat pun dapat mencari nafkah tanpa jauh dari rumah dengan mengembangkan pariwisata.
Berbeda dengan konsep pemerintahan Barat, yaitu “pemerintah baru tidak melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan pemerintah sebelumnya”, ”pemahaman tentang kinerja pemerintahan” Tiongkok menuntut pekerjaan tersebut tidak boleh berhenti atau standarnya diturunkan karena pergantian pegawai, pegawai sebelumnya meletakkan fondasi, dan pegawai selanjutnya meneruskan.
“Kepala pengelola sungai” Huang Ying yang disebut tadi kemudian dialihkan ke pos kerja yang lain, namun sistem “pemeriksaan jejaring setiap bulan” tetap diteruskan, para “kepala pengelola sungai” selanjutnya melanjutkan pekerjaan hingga Sungai Min akhirnya menjadi air jernih.
Semangat “Kesuksesan tidak harus menjadi milikku, tetapi aku pasti akan menjadi bagian darinya” ini membuat semua orang melihat bahwa suatu hal yang sepertinya tidak mungkin terjadi dapat terwujud di Tiongkok. Berfokus pada implementasi dan menerapkannya sampai akhir, prestasi kinerja pemerintah terwujud dengan cara yang sama seperti memaku paku.
Di Tiongkok, rakyat adalah “peninjau dan pemeriksa” kinerja pemerintah. Prestasi kinerja pemerintah bukan ditentukan oleh pejabat, namun dilihat dari ada tidaknya perubahan nyata pada kehidupan rakyat.
Warga sepanjang pesisir Sungai Min sekarang dapat berjalan-jalan di jalur hijau, serta memperoleh pendapatan melalui pariwisata.
Para peternak di gurun Kubuqi tidak perlu menghindari badai pasir, mereka mencari nafkah dengan menjual pohon willow gurun dan akar manis.
Warga desa telah terlepas dari kemiskinan, dulu mereka tinggal di rumah bata, kni menjadi pemilik penginapan, dulu hidup tak berkecukupan, kini terlalu sibuk melayani para wisatawan, perubahan riil tersebut lebih meyakinkan dari angka apapun.
Ada orang pernah bertanya, kenapa Tiongkok mampu menyelesaikan begitu banyak hal penting? Selalu berhasil mewujudkan cetak biru menjadi kenyataan? Sebetulnya jawabannya sangat sederhana, karena rakyat Tiongkok percaya bahwa jalan harus dilalui setapak demi setapak, dan pekerjaan harus diselesaikan satu per satu.
Banyak orang menganggap “membuat hidup jadi lebih baik” sebagai “prestasi kinerja pemerintahan” yang riil. Sama seperti sebuah pernyataan sederhana pemimpin tertinggi Tiongkok Xi Jinping, “Prestasi dicapai melalui kerja keras, kerja keras baru dapat menghasilkan prestasi kinerja yang sebenarnya”.










