Top
Begin typing your search above and press return to search.

Memahami Visi dan Tanggung Jawab Negara Besar dari Hiruk Pikuk Diplomatik

Pada tanggal 14-15 April lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping berturut-turut mengadakan pertemuan dan pembicaraan dengan Putra Mahkota Abu Dhabi UEA Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, serta Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam yang juga Presiden Vietnam To Lam yang sedang mengunjungi Tiongkok.

Atas undangan Presiden Xi Jinping, Presiden Mozambik, Daniel Francisco Chapo tiba di Hunan pada tanggal 16 April lalu untuk memulai kunjungannya di Tiongkok.

Kunjungan padat para pemimpin asing ke Tiongkok merupakan epitome dari upaya berbagai negara untuk berkerja sama di tengah situasi internasional yang kompleks dan penuh tantangan, sekaligus sepenuhnya menunjukkan visi dan tanggung jawab Tiongkok sebagai negara besar.

“Rasa saling percaya” merupakan salah satu kata kunci dalam “hiruk pikuk diplomatik” Tiongkok belakangan ini.

Dalam pertemuan dan pembicaraan tersebut, Presiden Xi Jinping dengan tekad strategisnya merancang hubungan bilateral, sereta mengajukan saran Tiongkok untuk meningkatkan komunikasi dan memperdalam rasa saling percaya politik satu sama lain.

Tiongkok dan UEA “harus saling mendukung dalam isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan inti dan perhatian utama masing-masing, menjaga pertukaran tingkat tinggi, dan memperkokoh rasa saling percaya strategis satu sama lain”; Tiongkok dan Spanyol “harus meningkatkan komunikasi, memperkokoh rasa saling percaya dan mempererat kerja sama”; Tiongkok dan Rusia “harus mengimplementasikan kesepahaman penting yang dicapai kedua pemimpin negara secara menyeluruh, mengintensifkan komunikasi strategis dan mempererat koordinasi diplomatik”; Tiongkok dan Vietnam “harus sepenuhnya mengembangkan peran khusus jalur antarpartai, mempererat pertukaran tingkat tinggi, serta memperkokoh rasa saling percaya politik satu sama lain”.

Pendirian-pendirian tersebut telah mendapatkan resonansi dan pengakuan luas.

Dunia sedang berada di persimpangan jalan yang baru. Berolidaritas dan bekerja sama demi kemenangan bersama, atau kembali ke hegemoni dan hukum rimba? Mempertahankan multilateralisme, keterbukaan dan inklusivitas, atau menuju ke unilateralisme dan proteksionisme?

Perhatian dunia berpusat ke Timur.

Ketika mengadakan pertemuan dengan PM Spanyol Pedro Sanchez, Xi Jinping menunjukkan bahwa “Tiongkok dan Spanyol sama-sama adalah negara yang berprinsip dan menjunjung keadilan, serta menentang dunia kembali ke hukum rimba, kedua negara bersama-sama membela multilateralisme sejati, menjaga sistem internasional dengan PBB sebagai intinya, serta tata tertib internasional yang berbasis hukum internasional.”

Dalam pertemuannya dengan Menlu Rusia Lavrov, Xi Jinping menunjukkan bahwa menghadapi situasi internasional yang kompleks dan bergejolak, Tiongkok dan Rusia harus meningkatkan koordinasi multilateral, dengan tegas menjaga dan mempraktikkan multilateralisme, serta bergandengan tangan membangkitkan kembali otoritas dan vitalitas PBB.

Situasi Timur Tengah menarik perhatian seluruh dunia. Ketika mengadakan pertemuan dengan Putra Mahkota Abu Dhabi UEA Khaled, Xi Jinping menekankan prinsip dan pendirian Tiongkok dalam mendorong perundingan perdamaian, serta menegaskan kembali bahwa Tiongkok akan terus memainkan peranan konstruktifnya dalam hal ini.

Di bawah bimbingan strategis diplomasi kepala negara, Tiongkok selalu memberikan lebih banyak kepastian dan energi yang positif kepada dunia yang penuh dengan perubahan dan gejolak dengan kepercayaan dirinya yang teguh dalam melangkah maju, kelapangan dadanya untuk berbagi peluang pembangunan, dan tanggung jawabnya untuk menegakkan keadilan internasional.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire