Selamat Hari Ceng Beng: Kerinduan di musim semi
Di Indonesia, masyarakat sering berkata, "Bersama leluhur, hidup selaras dengan alam." Di Tiongkok, ada juga sebuah perayaan yang memadukan keduanya dengan indah, yaitu Hari Ceng Beng.
Ceng Beng adalah hari raya masyarakat Tiongkok di musim semi. Perayaan ini tidak dipenuhi duka, melainkan penuh rasa syukur dan harapan. Setiap bulan April, saat alam mulai hidup kembali dan tunas-tunas bermunculan, masyarakat Tiongkok melakukan dua hal, yaitu mengenang leluhur dan menyambut datangnya musim semi.
Pada hari ini, orang-orang membawa bunga dan kue hijau (qingtuan) ke makam leluhur, membersihkan nisan dengan lembut, dan berkabung. Ini bukan ratapan duka yang berat, melainkan ungkapan syukur yang hangat, dan berterima kasih kepada leluhur atas kehidupan yang diberikan, atas ajaran dan kasih yang ditinggalkan. Setelah itu, sekeluarga akan berjalan-jalan ke taman, menerbangkan layang-layang, bermain ayunan, dan berjalan-jalan menikmati keindahan bunga, merasakan semangat hiduo musim semi. Anak-anak berlarian di padang rumput, tawa mereka berbaur dengan harumnya bunga yang terbawa angin musim semi.
Ceng Beng adalah perayaan tentang "koneksi". Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menghubungkan yang telah tiada dengan yang masih hidup, juga menghubungkan manusia dengan Bumi. Masyarakat Tiongkok percaya, akhir kehidupan bukanlah titik akhir, melainkan sebuah perubahan wujud menjadi tanah di musim semi, menjadi bunga yang mekar, bahkan menjadi angin sejuk yang terus menemani orang-orang tercinta.
"Saat Ceng Beng tiba, hujan pun turun." Rintik hujan membasahi bumi, dan membasahi kerinduan. Seperti halnya setelah musim hujan di Nusantara, selalu ada tunas-tunas baru yang muncul dari tanah.
Inilah makna dari Hari Ceng Beng, mengenang sambil terus bertumbuh, bersyukur sambil terus melangkah. Di musim semi ini, kami menyampaikan salam hangat dari Tiongkok kepada setiap insan yang mencintai kehidupan.
Semoga kita semua senantiasa ingat dari mana kita berasal, dan berani melangkah jauh ke depan.




