Kisah Pasien Positif Corona: “COVID Ini Musibah, Bukan Aib!”
Elshinta
Sabtu, 12 September 2020 - 09:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kisah Pasien Positif Corona: “COVID Ini Musibah, Bukan Aib!”
DW.com - Kisah Pasien Positif Corona: “COVID Ini Musibah, Bukan Aib!”

Dari 8 anggota keluarga yang sempat divonis positif COVID-19, Niko Alfian Pratama (30) jadi satu-satunya pasien yang hingga kini masih belum dinyatakan sembuh. Sang buah hati yang berusia 11 bulan sebelumnya juga ikut terpapar corona.

Niko yang sebelumnya masih menjalani masa isolasi mandiri di rumah, kini harus berpisah sementara dengan keluarga untuk menjalani masa isolasi di salah satu rumah sakit di Bekasi, Jawa Barat. Kepada DW, ia pun mengisahkan bagaimana awal mula sampai kemudian hampir seluruh keluarganya divonis positif COVID-19.

Rutin rapid test dan hasilnya negatif

Niko mengaku tidak menyangka dirinya akan terkena COVID-19. Apalagi selama bulan Juli, hampir setiap minggu ia rutin melakukan rapid test dan hasilnya negatif. Sampai kemudian di akhir bulan Juli, Niko, istrinya, dan salah satu iparnya dengan inisial DF sama-sama mengalami demam. Ketiganya lantas menjalani tes darah karena memiliki gejala tifus.

“Tanggal 5 Agustus saya sama istri tes darah ternyata memang tifus, dan setelah minum obatnya tanggal 7 Agustus itu (kami) sudah mendingan. Tapi berbeda cerita sama ipar saya yang DF,” kata Niko melalui wawancara skype dari kamar perawatan di rumah sakit, Selasa (25/08).

“Dia (DF) ada keluhan sesak napas, perutnya kalau dipegang sakit, tentunya ada batuk juga, lalu masuk rumah sakit IGD lalu dicek tes darah juga, ternyata gejala tifusnya terlalu kecil jadi tidak mungkin membuat sakit seperti itu. Akhirnya di rontgen setelah di-rontgen dilihat hasilnya terjadi pneumonia, jadi di paru-parunya ada putih-putih gitu yang biasa khas COVID,” tambahnya.

DF akhirnya menjalani tes swab dan ternyata hasilnya positif COVID-19, kata Niko.

Biaya tes swab sekeluarga gratis

Kabar ini tak pelak membuat Niko panik. Alasannya, ada 10 orang anggota keluarga yang juga tinggal bersama DF, termasuk anaknya yang masih balita dengan usia 11 bulan. Biaya besar yang harus dikeluarkan untuk tes swab seluruh keluarga juga sempat membuat Niko khawatir.

“Kita ada 9 orang, kalau misalnya pukul rata deh ya swab yang harganya mungkin 1,5 juta kali 9 orang itu 13,5 juta,” jelasnya.

Namun, setelah koordinasi dengan pihak puskesmas dan pihak kecamatan, ia diberi tahu bahwa tes swab untuk seluruh anggota keluarganya gratis tanpa biaya.

“Jadi sebenarnya kalau prosedur yang benar adalah ketika keluarga ada yang positif COVID-19 itu lapor RT, lalu Pak RT koordinasi dengan camat Pondok Melati, lalu biar cepat juga kita koordinasi juga sama puskesmas, puskesmas akan dengan senang hati untuk datang ke rumah,” ujarnya.

Hingga akhirnya, dari sembilan anggota keluarganya yang menjalani tes swab pertama pada 10 Agustus, tujuh orang dinyatakan positif COVID-19, termasuk anaknya yang masih berusia 11 bulan.

Namun, setelah menjalani masa isolasi mandiri di rumah, kini seluruh anggota keluarganya sudah dinyatakan sembuh, termasuk DF (ipar Niko) dan mertuanya yang sempat dirawat di rumah sakit. “Dari 10 orang sisa hanya 1 saja yang positif yaitu saya,” katanya.

“Covid ini bukan aib!”

Niko sadar betul bahwa banyak orang yang mungkin takut mengakui bahwa dirinya positif COVID-19. Takut dikucilkan dan mendapat stigma dari masyarakat. Namun, Niko dan keluarga memilih terbuka termasuk dengan masyarakat sekitar tempatnya tinggal.

“COVID ini musibah, pandemi ini adalah musibah bukan aib!” ujarnya.

Tak disangka-sangka, ternyata respons positif mereka dapatkan dari masyarakat, terutama selama masa isolasi mandiri di dalam rumah.

“Mereka nolongin kita, sabun, keperluan mandi habis mereka mau belanjain, sayur habis mereka mau beliin juga ada yang kirim makanan, ada yang kirim vitamin,” kata Niko. “Menurut saya itu rejeki punya lingkungan yang bagus”.

Bagi Niko, pentingnya kejujuran jadi salah satu pelajaran yang bisa ia bagikan dari pengalamannya terpapar corona.

“Jangan denial bahwa Covid ini tetap sebenarnya ada,” pungkasnya

“Lebih baik jujur biar semuanya berhasil di-tracing karena dengan jujur kita menyelamatkan tenaga medisnya juga, menyelamatkan pasien lain dan juga menyelamatkan ekonomi si pasien juga kan biar ditanggung negara,” tambahnya.

Niko hanyalah salah satu dari kasus aktif COVID-19 yang kini ada di Indonesia. Sampai Kamis (03/09), Indonesia telah mencatat sebanyak 184.268 kasus positif dengan pasien sembuh sebanyak 132.055. Sementara angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia masih menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara yaitu sebanyak 7.750 orang.

(gtp/vlz)



Nyaris seluruh keluarga Niko (30) divonis positif COVID-19. Namun, dari 8 orang yang positif, ia jadi satu-satunya yang hingga kini masih belum sembuh. Dari kamar perawatan di rumah sakit, ia berbagi kisah kepada DW.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
Phillis Wheatley Merdeka dari Perbudakan Berkat Kepiawaian Berpuisi
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Anak perempuan berkulit hitam itu usianya diperkirakan baru sekitar tujuh atau delapan tahun ketika ...
Cuci Tangan Sebagai Ritual Keagamaan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Dalam masa pandemi Covid-19, mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh merupakan salah satu langk...
Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Satu dari sepuluh orang di dunia hidup di dalam kemiskinan ekstrim. Nasib mereka kian runyam selama ...
Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Gatot Nurmantyo (Akmil 1982) terus berikhtiar mencari jalan menuju kekuasaan. Segala cara dia tempuh...
Tajuk: Dialog Antaragama Semakin Relevan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Ironisnya justru Arab Saudi, negeri yang mengabaikan hak sipil, membatasi kebebasan beragama dan ber...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV