Tren Populasi Global, Perlindungan Lingkungan dan Sejarah Kelam Pengendalian Kepadatan Penduduk
Elshinta
Sabtu, 12 September 2020 - 09:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Tren Populasi Global, Perlindungan Lingkungan dan Sejarah Kelam Pengendalian Kepadatan Penduduk
DW.com - Tren Populasi Global, Perlindungan Lingkungan dan Sejarah Kelam Pengendalian Kepadatan Penduduk

Tingkat kesuburan menurun, populasi semakin menua, itulah tren kependudukan yang terlihat di negara-negara industri maju. Perkembangan populasi itu juga akan terjadi di negara-negara ambang industri pada beberapa dekade mendatang, kata sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Lancet.

Kalau beberapa dekade lalu para ahli kependudukan mengkhawatirkan kepadatan penduduk yang mengancam ekologi dunia, situasi sekarang mulai berbalik. Di banyak negara, jumlah populasi muda justru menyusut. Para ahli demografi sekarang bertanya, bagaimana mengatasi masalah penyusutan populasi dan makin kurangnya generasi muda yang akan mencetak generasi masa depan?

Studi dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) memproyeksikan, jumlah populasi Bumi akan mencapai puncaknya pada empat dekade mendatang, mencapai pada 9,7 miliar penduduk, sebelum kemudian turun menjadi 8,8 miliar penduduk pada akhir abad ini.

Masalah ekonomi dan sosial

Dalam 80 tahun mendatang, populasi di negara-negara seperti Spanyol dan Jepang akan berkurang setengahnya. Cina juga akan mengalami tren penyusutan penduduk yang hampir sama besarnya. Hanya di 12 negara, termasuk Somalia dan Sudan Selatan, akan ada cukup bayi untuk menjaga populasi penduduk agar tetap stabil. Tahun 2050, lebih 150 negara diperkirakan akan mengalami masalah penduduk yang semakin menua.

Penggalakkan pendidikan dan penggunaan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan akan menyebabkan penyusutan populasi global sebanyak 1,5 miliar orang sampai tahun 2100 dibandingkan saat ini, kata penelitian IHME.

Pergeseran demografis itu akan mengubah masyarakat dan membangkitkan masalah ekonomi-sosial baru. Siapa yang akan membayar perawatan kesehatan penduduki lanjut usia? Apakah negara-negara akan memperebutkan migran muda? Bagaimana dengan usia pensiun, kalau konsep pensiun memang masih ada?

Penyusutan populasi berarti penurunan emisi karbon?

Apakah penyusutan penduduk global lalu otomatis berdampak positif bagi perlindungan lingkungan? Jumlah populasi yang berkurang akan berarti lebih sedikit emisi karbon. Kebutuhan pangan rata-rata juga akan turun sehingga ekologi tidak terlalu terbebani seperti saat ini.

Persoalannya tidak semudah itu, kata para ilmuwan. Pertumbuhan populasi selama ini memang telah meningkatkan emisi gas rumah kaca. Tetapi emisi itu tidak terbagi secara merata. Menurut Panel Internasional Perlindungan Iklim PBB, IPCC, penduduk di negara-negara industri terkaya mengeluarkan emisi 50 kali lebih banyak daripada mereka yang berada di negara-negara termiskin justru meningkat cepat. Artinya, emisi karbon rata-rata per kapita akan makin rendah lagi.

Pendidkan juga memainkan peran dalam perkembangan demografi. Perempuan yang bersekolah rata-rata memiliki anak lebih sedikit daripada perempuan yang tidak bersekolah. Mereka juga punya akses lebih besar terhadap alat dan cara-cara kontrasepsi. Itu berarti, tingkat kesuburan perempuan yang bersekolah juga lebih rendah.

Dua model perkembangan populasi yang berbeda

Sementara studi IHME menunjukkan akan terjadi penyusutan penduduk secara global pada tahun 1964. PBB justru sampai pada kesimpulan berbeda dan memprediksikan kenaikan penduduk dunia sampai tahun 2100. Perbedaan model kependudukan IHME dan PBB cukup besar, yaitu sekitar 2 miliar orang.

Model kependudukan PBB misalnya memprediksikan bahwa tingkat kesuburan akan naik, semakin makmur suatu negara. Model kependudukan IHME justru memprediksikan perkembangan sebaliknya.

"Proyeksi PBB mewujudkan optimisme bahwa kemajuan manusia yang panjang akan terus berlanjut," kata Sara Hertog, seorang ahli demografi di PBB, dan menambahkan bahwa perubahan tingkat kesuburan itu sendiri bukanlah kabar baik atau kabar buruk, tetapi lebih "mencerminkan jumlah anak yang diinginkan orang."

Politik pengendalian kepadatan penduduk dengan "sejarah kelam"

Survei misalnya menunjukkan, bahwa perempuan di seluruh Eropa dan Amerika Utara memiliki lebih sedikit anak daripada yang mereka inginkan, karena ada hambatan seperti perawatan anak yang mahal, tekanan pekerjaan, dan pria yang tidak mengambil bagian yang adil dari pekerjaan rumah tangga. Dengan menghilangkan beberapa hambatan ini, negara seperti Jerman misalnya telah mengalami sedikit peningkatan kesuburan.

Di lain pihak, kebijakan pengendalian kepadatan penduduk di masa lalu juga punya dampak negatif dan "sejarah kelam". Cina misalnya, untuk mengatasi kepadatan penduduk sejak akhir 1970-an menerapkan kebijakan ketat berupa denda, sterilisasi, dan aborsi paksa di bawah kebijakan satu anak yang berlangsung selama beberapa dekade.

Amerika Serikat dan Kanada secara paksa mensterilkan perempuan pribumi pada paruh kedua abad ke-20, sementara Australia melakukan hal yang sama untuk penyandang disabilitas. India mensterilkan 6,2 juta pria yang sebagian besar kaum miskin pada tahun 1976, didorong oleh donor asing yang mengaitkan bantuan dengan kebijakan pengendalian populasi.

(hp/rap)



Penurunan kesuburan diperkirakan bisa menyebabkan populasi dunia dalam beberapa dekade mendatang menyusut, di Spanyol dan Jepang bahkan sampai setengahnya. Tapi ada juga prediksi lain dengan model berbeda.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
Phillis Wheatley Merdeka dari Perbudakan Berkat Kepiawaian Berpuisi
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Anak perempuan berkulit hitam itu usianya diperkirakan baru sekitar tujuh atau delapan tahun ketika ...
Cuci Tangan Sebagai Ritual Keagamaan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Dalam masa pandemi Covid-19, mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh merupakan salah satu langk...
Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Satu dari sepuluh orang di dunia hidup di dalam kemiskinan ekstrim. Nasib mereka kian runyam selama ...
Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Gatot Nurmantyo (Akmil 1982) terus berikhtiar mencari jalan menuju kekuasaan. Segala cara dia tempuh...
Tajuk: Dialog Antaragama Semakin Relevan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Ironisnya justru Arab Saudi, negeri yang mengabaikan hak sipil, membatasi kebebasan beragama dan ber...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV