Terapi Sel Punca Buka Harapan bagi Pengidap Diabetes
Elshinta
Sabtu, 12 September 2020 - 09:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Terapi Sel Punca Buka Harapan bagi Pengidap Diabetes
DW.com - Terapi Sel Punca Buka Harapan bagi Pengidap Diabetes

Diabetes tipe 1 adalah penyakit genetika, dimana sistem kekebalan tubuh menyerang sel beta di dalam klaster pankreas yang disebut pulau langerhans. Kebanyakan penderitanya adalah anak-anak dan remaja.

Sel beta bertanggung jawab untuk mengontrol kadar gula dalam darah dan memproduksi insulin untuk menjaga tetap stabil. Tanpa sel beta, para penderita diabetes harus mendapat suntikan insulin.

Salah satu cara pengobatan diabetes tipe 1 adalah dengan transplantasi pulau langerhans dari donor. Namun, prosesnya sangat rumit dan punya banyak kendala, termasuk kelangkaan donor.

Pulau langerhans seringkali gagal melakukan koneksi dengan suplai darah. Jika berhasil terkoneksi, ada risiko lain yang muncul, yakni diserang oleh sistem kekebalan tubuh resipien, sama seperti tindakan cangkok organ tubuh lainnya.

Untuk menghindari serangan, pasien harus minum obat yang menekan sistem kekebalan tubuh untuk melindungi sel transplantasi. Tapi ini menjadi potensi terpaparnya bagian tubuh lain oleh penyakit.

Cangkok sel punca organoid

Para ilmuwan kini mencoba melewati semua kendala itu dengan terapi cangkok sel punca yang memproduksi organoid mirip pulau langerhans manusia atau HILO. Sel ini jika tumbuh dalam lingkungan 3 dimensi, akan meniru pankreas dan setelah itu diberi perangkat “turbo“ berupa saklar genetika.

Sel ini terbukti sukses memproduksi insulin dan meregulasi kadar gula darah pada tikus percobaan di laboratorum. “Sebelumnya, fungsi seperti ini baru tercapai setelah beberapa bulan sel yang ditransplantasi menjadi dewasa dalam tubuh tikus percobaan,“ ujar Ronald Evans, direktur Gene Expression Lab di Salk Institue for Bilogical Studies, AS.

“Terobosan yang tercapai, memungkinkan produksi HILO yang fungsional dan aktif dari hari pertama transplantasi. Ini memicu kami makin dekat pada aplikasi klinisnya,“ ujar Evans yang memimpin riset kepada AFP.

Atasi penolakan oleh sistem imunitas

Setelah menemukan cara potensial untuk mengatasi kendala pasokan sel donor, para ilmuwan kini memfokuskan perhatian, untuk mengatasi masalah penolakan oleh sistem kekebalan tubuh. Mereka membidik apa yang disebut protein checkpoint PD-L1, yang diketahui memblokir respons kekebalan tubuh.

Pada terapi kanker, obat yang diberikan kadang memblokir protein PD-L1 untuk mendongkrak respons kekebalan tubuh terhadap sel kanker. Kini para ilmuwan membalik prosesnya, dengan menginduksi HILO untuk meniru protein itu, dengan tujuan memblokir penolakan sistem imunitas.

“Biasanya sel tubuh manusia yang disisipkan pada tikus percobaan akan dihancurkan dalam waktu sehari atau dua hari,“ papar Evans. “Kami telah menemukan cara untuk menciptakan perisai imunitas, yang membuat sel manusia itu tidak terlihat oleh sistem kekebalan tubuh,“ tambah ilmuwan ini.

Dengan metode itu, sel punca organoid yang dicangkokkan dapat terus memproduksi insulin yang meregulasi kadar gula darah pada tikus percobaan hingga lebih 50 hari.

Lebih lanjut Evans menjelaskan, dengan kemampuan menumbuhkan sel yang memproduksi insulin dan melindunginya dari serangan sistem kekebalan tubuh, membuat semakin dekat pada kemungkinan mempunyai potensi terapi untuk pasien diabetes tipe 1.

as/rap (afp)



Sekitar 422 juta orang di seluruh dunia mengidap penyakit gula atau diabetes tipe 1 dan tipe 2. Kini ilmuwan AS kembangkan terapi cangkok sel punca untuk memproduksi sel produsen insulin buat penderita diabetes tipe 1.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
Phillis Wheatley Merdeka dari Perbudakan Berkat Kepiawaian Berpuisi
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Anak perempuan berkulit hitam itu usianya diperkirakan baru sekitar tujuh atau delapan tahun ketika ...
Cuci Tangan Sebagai Ritual Keagamaan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Dalam masa pandemi Covid-19, mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh merupakan salah satu langk...
Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Satu dari sepuluh orang di dunia hidup di dalam kemiskinan ekstrim. Nasib mereka kian runyam selama ...
Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Gatot Nurmantyo (Akmil 1982) terus berikhtiar mencari jalan menuju kekuasaan. Segala cara dia tempuh...
Tajuk: Dialog Antaragama Semakin Relevan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Ironisnya justru Arab Saudi, negeri yang mengabaikan hak sipil, membatasi kebebasan beragama dan ber...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV