Ilmuwan: Riset Kehilangan Penciuman Bisa Bantu Pengobatan Covid-19
Elshinta
Sabtu, 12 September 2020 - 09:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ilmuwan: Riset Kehilangan Penciuman Bisa Bantu Pengobatan Covid-19
DW.com - Ilmuwan: Riset Kehilangan Penciuman Bisa Bantu Pengobatan Covid-19

Sebuah riset jaringan tisu hidung, diyakini bisa membantu pengembangan terapi baru Covid-19. Metodenya dengan menjelaskan bagaimana orang yang terinfeksi virus corona kehilangan indera penciuman mereka, ujar tim ilmuwan internasional, Rabu (19/8).

Riset jaringan tisu hidung dari 23 pasien yang menjalani operasi, kemungkinan bisa menjelaskan bagaimana Covid-19 bisa memicu kasus berat kehilangan indera penciuman tanpa ada simptoma lainnya. Demikian dirilis tim ilmuwan itu dalam European Respiratory Journal. 

Para peneliti menemukan level tinggi sebuah enzim yang bisa jadi merupakan “jalan masuk“ virus corona ke dalam sel orang yang terinfeksi. Apa yang disebut angiotensin converting enzyme II (ACE-2) ditemukan dalam konsentrasi tinggi hanya pada sel terluar epithel olfactroy, yakni area di dalam hidung dimana tubuh mendeteksi bebauan.

Jalan masuk virus corona

“Hasil riset memberikan perkiraan, bahwa areal dalam hidung ini adalah lokasi dimana virus corona mendapat jalan masuk ke dalam tubuh“, kata Mengfei Chen peneliti US Johns Hopkins University School of Medicine dan salah satu penulis laporan ilmiah itu.

“Epithel olfactory merupakan bagian tubuh yang paling mudah diserang virus untuk memasuki tubuh. Bagian ini tidak tersembunyi cukup dalam di tubuh kita. Dan level tinggi ACE-2 yang kami temukan di sana, bisa menjelaskan mengapa sangat mudah terinfeksi Covid-19“, ujar Chen memaparkan lebih lanjut.

Salah satu penulis laporan ilmiah lainnya, Andrew Lane mengatakan, tim periset Johns Hopkins terus meneliti apakah virus corona memang menggunakan sel itu untuk mengakses dan menginfeksi tubuh. “Jika kasusnya memang begitu, kita mungkin bisa melawan infeksinya dengan terapi antivirus yang diarahkan langsung ke dalam hidung“, pungkas Lane.

Tidak pengaruhi pemulihan indera penciuman

Sementara itu sebuah riset ilmiah terpisah di Hong Kong melaporkan, level virus corona dalam hidung dan tenggorokan, tidak berkorelasi dengan hilangnya indra penciuman dan pengecapan yang disebut sindroma olfactory dan gustatory. Juga tidak ada kaitan, dengan seberapa lama kedua indra ini kembali pulih ke tingkat normal.

Sejauh ini diketahui, level virus corona dalam hidung dan tenggorokan punya korelasi dengan beratnya gejala infeksi Covid-19. Temuan ilmuwan Hong Kong itu dipublikasikan dalam journal Laryngoscope.

Risetnya dilakukan terhadap 39 pasien Covid-19 di Hong Kong yang mengalami masalah dengan indra penciuman dan pengecapan. Empat sampai enam minggu kemudian, sekitar 72% pasien melaporkan kemampuan mereka mencium pulih kembali. Dan 83% pasien melaporkan pulihnya indra pengecap.

Disebutkan, tidak ada statistik yang signifikan menyangkut korelasi antara level tinggi virus dan beratnya gejala sakit, dengan jangka waktu pemulihan kemampuan mencium dan mengecap tersebut.

as/gtp (Reuters,dpa)



Salah satu gejala khas Covid-19 adalah hilangnya kemampuan indra penciuman dan pengecapan. Kini para peneliti menemukan, gejala kehilangan penciuman justru bisa membantu pengembangan terapi baru Covid-19.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
Phillis Wheatley Merdeka dari Perbudakan Berkat Kepiawaian Berpuisi
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Anak perempuan berkulit hitam itu usianya diperkirakan baru sekitar tujuh atau delapan tahun ketika ...
Cuci Tangan Sebagai Ritual Keagamaan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Dalam masa pandemi Covid-19, mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh merupakan salah satu langk...
Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Satu dari sepuluh orang di dunia hidup di dalam kemiskinan ekstrim. Nasib mereka kian runyam selama ...
Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Gatot Nurmantyo (Akmil 1982) terus berikhtiar mencari jalan menuju kekuasaan. Segala cara dia tempuh...
Tajuk: Dialog Antaragama Semakin Relevan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Ironisnya justru Arab Saudi, negeri yang mengabaikan hak sipil, membatasi kebebasan beragama dan ber...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV