Ilmuwan Malaysia Berusaha Kembalikan Badak Sumatera dari Kepunahan
Elshinta
Sabtu, 12 September 2020 - 09:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ilmuwan Malaysia Berusaha Kembalikan Badak Sumatera dari Kepunahan
DW.com - Ilmuwan Malaysia Berusaha Kembalikan Badak Sumatera dari Kepunahan

Ilmuwan dari Malaysia tengah berupaya mengembalikan keberadaan badak sumatera di Malaysia dengan menggunakan teknologi sel induk eksperimental yang berasal dari sisa-sisa sel kulit badak yang telah meninggal.

“Saya sangat yakin," ujar ahli biologi molekuler Muhammad Lokman Md Isa kepada Reuters di laboratorium tempatnya bekerja di Universitas Islam Internasional Malaysia. "Jika semuanya berfungsi, bekerja dengan baik, dan semua orang mendukung kami, itu bukan hal yang mustahil."

Iman, badak sumatera betina terakhir di Malaysia, pada November 2019 lalu telah mati di sebuah cagar alam di pulau Kalimantan akibat kanker. Kematian Iman hanya berselang enam bulan setelah kematian badak jantan terakhir Malaysia yang bernama Tam. Saat ini, yang tersisa dari keberadaan Iman adalah sampel kulit, telur, dan beberapa jaringan.

Badak sumatera adalah badak terkecil di dunia dan satu-satunya badak Asia yang bercula dua. Dahulu, badak sumatera hidup bebas di alam liar mulai dari wilayah Himalaya timur di Bhutan, bagian timur India, Myanmar, Thailand, hingga ke Indonesia dan Malaysia.

Badak sumatera dan badak jawa sama-sama berstatus hampir punah, namun badak sumatera mengalami ancaman kepunahan yang lebih besar lagi akibat perburuan, hilangnya habitat dan terisolasi dari badak lainnya. Badak-badak yang tersisa bertahan hidup dalam populasi kecil yang terpisah sehingga menyulitkan mereka untuk menemukan badak lain dan berkembang biak. Saat ini ada 80 ekor badak sumatera yang tersisa, semuanya hidup di wilayah Indonesia.

Rencana kembangkan bayi tabung badak

Ketika masih hidup, para ilmuwan dan pegiat konservasi berupaya membuat Iman dan Tam berkembang biak, tetapi tidak berhasil.

"Dia ibarat seorang laki-laki berusia 70 tahun, jadi tentu saja Anda tidak mengharapkan spermanya bisa sebaik itu," kata John Payne dari Borneo Rhino Alliance (BORA), yang telah berkampanye menyelamatkan badak di Malaysia selama sekitar empat dekade.

“Tampaknya jelas, untuk meningkatkan peluang keberhasilan berkembang biak, harus ada sperma dan telur dari badak di Indonesia. Namun hingga saat ini, Indonesia masih belum tertarik dengan hal tersebut.”

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia membantah tuduhan bahwa persaingan lintas batas telah mengakibatkan badak di Malaysia punah. Kementerian KLHK mengatakan terus melakukan pembicaraan untuk bekerja sama para konservasionis di Malaysia.

“Karena ini bagian dari hubungan diplomatik, pelaksanaannya harus sesuai dengan regulasi masing-masing negara,” ujar Indra Exploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian KLHK.

Para ilmuwan Malaysia berencana menggunakan sel dari badak yang mati untuk menghasilkan sperma dan telur yang akan menghasilkan bayi tabung untuk ditanamkan ke dalam hewan hidup atau spesies yang memiliki hubungan kekerabatan yang cukup dekat seperti kuda. Rencana ini serupa dengan upaya konservasi badak putih utara di Afrika yang jumlahnya hanya tinggal dua ekor.

Namun proses ini masih jauh dari kemungkinan untuk dapat melahirkan hewan baru, kata Thomas Hildebrandt dan Cesare Galli, ilmuwan yang memimpin penelitian tersebut. Bahkan jika berhasil, kurangnya keanekaragaman genetik pada hewan yang diproduksi dengan cara ini dapat mengancam kelangsungan hidup mereka dalam jangka panjang, kata Galli.

Ilmuwan Indonesia, Arief Boediono, termasuk salah satu ilmuwan yang terlibat dalam proses ini di Malaysia. Ia berharap kesuksesan proses tersebut dapat memberikan pelajaran untuk membantu perkembangbiakan badak di Indonesia.

“Mungkin butuh lima, 10, hingga 20 tahun, saya tidak tahu,” ujar Arief. "Tapi sudah ada beberapa keberhasilan yang melibatkan tikus laboratorium di Jepang, jadi itu berarti ada peluang."

Sebelumnya, para peneliti di Jepang telah berhasil menumbuhkan gigi dan organ lain seperti pankreas dan ginjal menggunakan sel induk embrio dari tikus dan mencit untuk menumbuhkan organ pengganti bagi manusia.

ae/vlz (Reuters, worldwildlife.org)



Upaya para ilmuwan kembalikan populasi badak sumatera di Malaysia meliputi penggunaan sel-sel badak yang baru saja mati tahun lalu. Namun upaya mereka terkendala birokrasi dan diplomasi.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
Phillis Wheatley Merdeka dari Perbudakan Berkat Kepiawaian Berpuisi
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Anak perempuan berkulit hitam itu usianya diperkirakan baru sekitar tujuh atau delapan tahun ketika ...
Cuci Tangan Sebagai Ritual Keagamaan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Dalam masa pandemi Covid-19, mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh merupakan salah satu langk...
Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Satu dari sepuluh orang di dunia hidup di dalam kemiskinan ekstrim. Nasib mereka kian runyam selama ...
Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Gatot Nurmantyo (Akmil 1982) terus berikhtiar mencari jalan menuju kekuasaan. Segala cara dia tempuh...
Tajuk: Dialog Antaragama Semakin Relevan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Ironisnya justru Arab Saudi, negeri yang mengabaikan hak sipil, membatasi kebebasan beragama dan ber...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV