Tiket Terbang Keliling Australia Tanpa Mendarat Laris Terjual Dalam 10 Menit
Elshinta
Senin, 21 September 2020 - 13:20 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Tiket Terbang Keliling Australia Tanpa Mendarat Laris Terjual Dalam 10 Menit
ABC.net.au - Tiket Terbang Keliling Australia Tanpa Mendarat Laris Terjual Dalam 10 Menit

Industri penerbangan dan hotel adalah dua sektor yang termasuk paling terkena dampak akibat pembatasan pergerakan internasional di banyak negara saat pandemi COVID-19.

Sambil menunggu berakhirnya pandemi, muncul ide baru untuk menggerakkan dua industri tersebut dengan menawarkan penerbangan melihat tempat wisata dari udara serta menikmati liburan dari hotel berbintang di kota sendiri.

Maskapai penerbangan utama Australia, Qantas sekarang menawarkan paket bernama Great Southern Land, dengan yang paling murah seharga AU$787, atau sekitar Rp 8 juta, untuk kelas ekonomi.

Penerbangan akan dimulai dari Sydney dan berakhir di Sydney juga.

Di luar dugaan, menurut Qantas, hanya dalam waktu 10 menit sejak ditawarkan, 130 orang sudah membeli tiket untuk penerbangan tersebut.

"Kami tahu penerbangan ini akan populer namun kami tidak menduga akan habis dipesan dalam waktu 10 menit," kata juru bicara Qantas.

"Ini mungkin penerbangan yang terjual paling cepat dalam sejarah Qantas.

"Banyak orang tampaknya memang rindu untuk terbang dan merasakan penerbangan."

Dalam penerbangan selama tujuh jam, penumpang akan dibawa melihat tempat wisata ikonik di Australia, seperti Great Barrier Reef atau Uluru, yang sekarang masih ditutup karena pembatasan perbatasan negara bagian masih diberlakukan.

Dari ketinggian 4 ribu kaki, para penumpang juga akan bisa melihat tempat wisata seperti Kata Tjuta, Byron Bay, Bondi Beach dan Sydney Harbour.

Kapten David Summergreene akan menjadi pilot penerbangan pada 10 Oktober mendatang dan ia mengatakan "senang sekali" bisa terbang lagi setelah beberapa bulan tidak terbang.

"Ini akan mengingatkan saya ke masa dulu di awal saya belajar terbang, dengan pesawat ringan terbang rendah," katanya.

CEO Qantas, Alan Joyce mengatakan penerbangan "Great Southern Land" merupakan salah satu usaha untuk perusahaannya bertahan sejauh ini.

"Penerbangan ini berarti kerja bagi staf, yang tentu lebih bersemangat dibandingkan yang lain untuk bisa melihat pesawat terbang lagi di udara," katanya.

Qantas mengatakan tidak menutup kemungkinan menyelenggarakan penerbangan serupa di masa depan, melihat model penerbangan serupa sudah dilakukan juga oleh maskapai penerbangan di Asia.

Maskapai Taiwan EVA baru-baru ini menyelenggarakan penerbangan serupa memperingati Fathers Day, begitu juga maskapai Jepang ANA yang membawa penumpang mengitari Hawaii selama 90 menit pada bulan lalu.

Singapore Airlines juga sedang mempertimbangkan hal serupa untuk terbang dari dan kembali ke Bandara Changi.

Berlibur di kota sendiri di hotel bintang lima

Sementara itu beberapa hotel berbintang lima di Sydney mulai menawarkan paket liburan bagi warganya untuk berlibur di kota sendiri.

Paket model ini yang disebut sebagai bed and breakfast tidaklah banyak dilakukan oleh hotel bintang lima yang lebih biasa menjamu tamu-tamu internasional dari mancanegara.

Tapi kini Hotel Hyatt Regency, yang merupakan hotel terbesar di Australia dengan 892 kamar mulai menawarkannya.

"Kami memiliki beberapa acara besar yang akan terjadi bulan Maret dan April, namun semua harus dibatalkan ketika perbatasan ditutup," kata manajer umum hotel Jane Lyons.

Sebagian besar hotel di Sydney sepi sejak Maret lalu, karenanya Hyatt Regency sekarang mengincar warga biasa untuk menginap.

"Kita sudah sering bepergian ke luar negeri dan menghabiskan liburan di luar Australia, namun saya kira kita kadang perlu diingatkan mengenai banyaknya hal yang bisa ditawarkan oleh Sydney."

"Kami berusaha menarik pasar keluarga dengan paket bed and breakfast, dimana dulunya secara tradisional hotel-hotel besar tidak melakukannya lagi," tambah Jane.

Ia mengatakan dirinya masih masih optimistis jika para pelancong bisnis akan kembali lagi, meski sekarang semakin banyak orang bekerja dari rumah.

"Saya kira kita tidak bisa menggantikan suasana emosional pertemuan secara langsung, dan itulah yang kami dengar dari mereka yang banyak bergerak di bidang bisnis," jelasnya.

Di awal bulan September tingkat hunian hotel di Sydney turun 64 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, bahkan di bulan Maeret tingkat hunian pernah turun hampir 90 persen.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dengan artikel dalam bahasa Inggris mengenai penerbangan dan hotel

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga telah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo dan keduan...
Warga Asal Meksiko Mendapat Diskriminasi Saat Hendak Sewa Rumah di Australia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Viry, seorang warga asal Meksiko yang tinggal di Canberra, mulai ragu apakah dia harus mengungkapkan...
Dorothy, Perempuan Australia Berusia 107 Tahun yang Tak Khawatir Virus Corona
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perempuan berusia 107 tahun dan ibu dari 11 anak yang selamat dari perang dunia, flu Spanyol, dan De...
Mengapa Ada Orang yang Secara Sukarela Mau Terinfeksi Virus Corona?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Robert Hatfield menawarkan diri kepada ilmuwan untuk menularkan COVID-19 kepadanya demi membantu pen...
John Chardon, Terpidana Kematian Istri Asal Surabaya Meninggal di Penjara Brisbane
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
John William Chardon (73), terpidana kasus kematian wanita asal Indonesia Novy Chardon, meninggal da...
Menikmati Kerja: Warga Indonesia di Australia yang Belum Pensiun di Usia 70 Tahun
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Sepuluh hari lagi, Sjahrir Laonggo akan meniup lilin ulang tahunnya ke-70, namun pria Indonesia yang...
Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar Backpacker Segera Didatangkan
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Kalangan petani dan pelaku usaha pariwisata Australia mendesak pemerintah untuk memperbolehkan peker...
Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Ketika Elly, bukan nama sebenarnya, meninggalkan rumah di pinggiran kota Melbourne tempatnya berlind...
Ketika Sebagian Kita Harus Pensiun, Pensiun Dini, di-PHK di Tengah Pandemi
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Pandemi COVID-19 sudah menjungkirbalikkan keadaan dunia selama beberapa bulan terakhir, termasuk di ...
Pertama Kali Dalam Empat Bulan Tidak Ada Kasus Baru COVID-19 di Melbourne
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Negara bagian Victoria, Australia, hari Senin (26/10) melaporkan tidak ada kasus baru dan kematian a...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV