Ini Soal Harga Diri: Warga Papua Kembalikan Uang Beasiswa Veronica Koman
Elshinta
Senin, 21 September 2020 - 13:20 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ini Soal Harga Diri: Warga Papua Kembalikan Uang Beasiswa Veronica Koman
ABC.net.au - Ini Soal Harga Diri: Warga Papua Kembalikan Uang Beasiswa Veronica Koman

Permintaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) agar pengacara hak asasi manusia Veronica Koman mengembalikan uang beasiswa untuk menempuh studinya di Australia telah terpenuhi.

Tim Solidaritas Ebamukai, atau uang sukarela, untuk Veronica Koman mendatangi kantor LPDP di Jakarta Pusat untuk mengembalikan uang beasiswa Veronica Koman kepada LPDP Kementerian Keuangan hingga lunas, hari Rabu (16/09).

Peromohonan audiensi sudah disampaikan sejak dua hari yang lalu, namun saat didatangi oleh tim solidaritas, kantor LPDP ternyata tutup.

Tim solidaritas kemudian bergeser ke kantor Kementerian Keuangan yang juga tak ada perwakilan yang menemui mereka.

Akhirnya mereka mendatangi kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM untuk menitipkan beberapa benda simbolis kepada petugas keamanan untuk diserahkan ke Menkopolhukam, Mahfud MD.

Selain memberikan bukti transfer dana pengembalian beasiswa, tim solidaritas yang diwakili mantan tahanan politik, Ambrosius Mulait dan Dano Tabuni, didampingi pengacara hak asasi manusia, Michael Himan juga mengembalikan Bendera Merah Putih.

Mereka juga membawa salinan Undang-Undang Otsus sebagai simbol pengembalian status Otonomi Khusus dan uang recehan sebesar Rp1 juta yang melambangkan pengembalian dana Otonomi Khusus.

Dana pengembalian beasiswa yang diberikan adalah hasil penggalangan lewat daring melalui Perkumpulan Jubi dan chuffed.org untuk menutup kekurangan dana yang sudah dua kali dicicil Veronica sebelumnya.

Dari pantauan ABC Indonesia di situs chuffed.org hingga Kamis malam (17/09), ada 327 pemberi sumbangan dengan dana yang terkumpul sebesar $18.449 dari target $72.500.

Upaya penggalangan dana juga dilakukan secara langsung di Papua dan pernah dibubarkan paksa sebanyak dua kali oleh kepolisian yakni di Nabire dan Jayapura.

"Begitu mendengar kabar bahwa pemerintah Indonesia menghukum Veronica Koman … rakyat Papua dengan segera menggalang dana baik dengan mendirikan posko, mengumpulkan uang di pasar dan lampu merah, maupun secara online," demikian kutipan keterangan yang diterima ABC Indonesia.

Total dana beasiswa yang diklaim LPDP harus dikembalikan oleh Veronica Koman adalah Rp773.876.918.

Menurut Victor Mambor dari Perkumpulan Jubi, salah satu penampung dana solidaritas, jumlah sumbangan yang masuk bervariasi, "mulai dari sepuluh ribu hingga puluhan juta rupiah."

Penggalangan dana ini juga diinisasi oleh berbagai kalangan di Papua, mulai dari mahasiswa sampai kalangan rohaniwan.

"Kami, 57 pastor pribumi, memberi sedikit persembahan kasih dari uang persembahan yang umat berikan kepada kami untuk Vero," kata Pastor John Bunai, Koordinator 57 Imam Pribumi Papua sekaligus Koordinator Jaringan Damai Papua.

Pengembalian uang dilakukan melalui transfer ke rekening LPDP.

Tim solidaritas Ebamukai untuk Veronica Koman kemudian menyerahkan bukti transfer pengembalian uang, sekaligus surat kuasa yang diberikan oleh Veronica kepada pihak LPDP dan Kementerian Keuangan.

Veronica Koman juga telah mengirimkan konfirmasi pembayaran melalui email kepada LPDP.

Fokus untuk melakukan advokasi internasional

Sejak awal tersiar kabar sanksi pengembalian dana beasiswa, Veronica mengatakan banyak orang Papua yang meyakinkan dirinya jika aksi solidaritas akan berhasil mengumpulkan dana sesuai permintaan LPDP.

"Vero, kamu tidak sendiri. Kami yang akan bayar," kata Veronica mengutip salah seorang orang Papua yang menghubunginya.

Veronica mengaku banyak dihubungi oleh orang Papua untuk menyatakan dukungan mereka sambil mengatakan bantuan yang mereka berikan memiliki kaitan dengan harga diri orang Papua.

Ia mengaku terharu dengan usaha menggalang dana untuk membayar uang beasiswanya dan tidak sampai hati menolaknya.

"Karena ini soal harga diri mereka, otomatis saya sudah tidak ada di posisi bisa menolak bantuan tersebut," ujar Veronica kepada ABC Indonesia.

"Kalau saya tolak, berarti saya menganggap mereka tidak mampu untuk melakukan [pengembalian dana] ini."

Menurut Veronica, gerakan solidaritas warga Papua menjadi sebuah bentuk komitmen solidaritas yang "luar biasa", apalagi dilakukan di masa pandemi COVID-19.

Kepada ABC Indonesia, Veronica mengatakan akan tetap konsisten dalam mengadvokasi hak-hak asasi manusia.

"Dalam situasi saya yang eksil seperti ini, pilihan saya adalah fokus untuk melakukan advokasi internasional [soal hak asasi manusia Papua]," kata Veronica yang kini berdomisili di Australia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga telah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo dan keduan...
Warga Asal Meksiko Mendapat Diskriminasi Saat Hendak Sewa Rumah di Australia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Viry, seorang warga asal Meksiko yang tinggal di Canberra, mulai ragu apakah dia harus mengungkapkan...
Dorothy, Perempuan Australia Berusia 107 Tahun yang Tak Khawatir Virus Corona
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perempuan berusia 107 tahun dan ibu dari 11 anak yang selamat dari perang dunia, flu Spanyol, dan De...
Mengapa Ada Orang yang Secara Sukarela Mau Terinfeksi Virus Corona?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Robert Hatfield menawarkan diri kepada ilmuwan untuk menularkan COVID-19 kepadanya demi membantu pen...
John Chardon, Terpidana Kematian Istri Asal Surabaya Meninggal di Penjara Brisbane
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
John William Chardon (73), terpidana kasus kematian wanita asal Indonesia Novy Chardon, meninggal da...
Menikmati Kerja: Warga Indonesia di Australia yang Belum Pensiun di Usia 70 Tahun
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Sepuluh hari lagi, Sjahrir Laonggo akan meniup lilin ulang tahunnya ke-70, namun pria Indonesia yang...
Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar Backpacker Segera Didatangkan
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Kalangan petani dan pelaku usaha pariwisata Australia mendesak pemerintah untuk memperbolehkan peker...
Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Ketika Elly, bukan nama sebenarnya, meninggalkan rumah di pinggiran kota Melbourne tempatnya berlind...
Ketika Sebagian Kita Harus Pensiun, Pensiun Dini, di-PHK di Tengah Pandemi
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Pandemi COVID-19 sudah menjungkirbalikkan keadaan dunia selama beberapa bulan terakhir, termasuk di ...
Pertama Kali Dalam Empat Bulan Tidak Ada Kasus Baru COVID-19 di Melbourne
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Negara bagian Victoria, Australia, hari Senin (26/10) melaporkan tidak ada kasus baru dan kematian a...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV