Membuat Pagar Pemisah: Tingginya Stigma Terhadap Pasien COVID-19 di Indonesia
Elshinta
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Membuat Pagar Pemisah: Tingginya Stigma Terhadap Pasien COVID-19 di Indonesia
ABC.net.au - Membuat Pagar Pemisah: Tingginya Stigma Terhadap Pasien COVID-19 di Indonesia

Saat Ibu dari Ari Harifin Hendriyawan dinyatakan positif terinfeksi virus corona, tetangganya mengambil palu dan paku dan membuat pagar pemisah.

Dari rumahnya di kaki bukit di Jawa Barat, pria berusia 23 tahun itu mengatakan kepada Reuters jika ia mengetahui keberadaan pagar pemisah beberapa hari setelah menerima hasil tes negatif dan berada di rumah karena sedang menjalani isolasi mandiri.

"Tentu saja saya marah," katanya, "Jika saya tidak ditahan [oleh kerabat], saya tidak tahu apa yang mungkin terjadi."

Para ahli kesehatan publik mengatakan penularan virus corona di Indonesia telah membawa stigma, yang menyebabkan warga enggan dites karena takut dijauhi, sehingga mempersulit penanganan pandemi.

Juru bicara satuan tugas COVID-19 Indonesia, Wiku Adisasmito mengatakan pemerintah berupaya untuk melawan stigma itu.

"Stigma hanya dapat dihapus dengan kampanye kesehatan yang gencar untuk meningkatkan kesadaran tentang infeksi dan empati untuk membantu mereka yang membutuhkan," katanya.

Indonesia telah menuai kritik dari para pakar kesehatan karena angka tes yang relatif rendah, pembatasan sosial hasil kompromi, dan daftar penanganan yang tidak ilmiah tapi malah dipuji oleh para menteri.

Petugas kesehatan juga menjadi korban stigma

Para petugas kesehatan juga tidak lepas dari stigma COVID-19, menurut hasil survei Fakultas Ilmu keperawatan Universitas Indonesia dan Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia.

Jajak pendapat tersebut dilakukan terhadap 2.050 tenaga medis di seluruh Indonesia pada awal April 2020.

"135 perawat pernah diminta meninggalkan tempat tinggalnya. 66 responden mengalami ancaman pengusiran," kata mantan tim komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Reisa Broto, bulan Juli lalu.

Sementara itu, sebanyak 140 perawat pernah merasa dipermalukan karena bertugas di rumah sakit penanganan COVID-19.

Bentuk stigma lain antara lain adalah diacuhkan oleh warga, seperti yang dialami 161 perawat dan pengucilan oleh masyarakat yang terjadi pada 71 perawat lainnya.

Puluhan petugas kesehatan dari berbagai tempat di Indonesia mengatakan stigma seputar virus corona telah mempersulit pekerjaan mereka atau, dalam beberapa kasus, malah meningkatkan risiko.

Di kota tepi sungai Banjarmasin di Kalimantan, pegawai negeri berpakaian hazmat lengkap mengatakan kedatangan mereka menyebabkan kepanikan di jalanan.

Mereka sekarang memilih untuk mendatangi puskesmas untuk menghindari perhatian yang tidak diinginkan dari masyarakat, meskipun itu dapat meningkatkan risiko kontak dan penularan.

Dari Medan, Sumatera Utara, perawat menceritakan mereka diusir dari sebuah desa pada bulan Maret dan diberi tahu jika virus itu adalah berita palsu.

Sementara yang lain menerima panggilan telepon yang kasar dari orang tua yang tidak terima ketika mendengar anak mereka dinyatakan positif COVID-19.

Konvoi malam hari

Di Papua Barat, sejumlah perawat memilih mengantar pasien COVID-19 ke tempat karantina pada tengah malam dengan konvoi sepeda motor.

"Para pasien sendiri yang memintanya," kata perawat Yunita Renyaana kepada Reuters.

"Mereka akan berkata, Suster, jangan datang besok, datanglah malam ini sehingga tidak ada yang tahu ... Mereka takut akan stigma, dipandang sebagai aib, atau sumber penularan."

Survei yang dilakukan lembaga Lapor COVID-19 dan para peneliti di Universitas Indonesia bulan lalu menemukan 33 persen dari 181 responden merasa telah dikucilkan setelah tertular virus corona.

"Fenomena stigma ini merugikan kesehatan masyarakat dan juga kesehatan mental mereka," kata Dicky Pelupessy, psikolog yang terlibat dalam survei tersebut.

"Ada kasus di mana orang tidak ingin dites, karena tidak ingin terlihat tertular virus."

Di pulau Jawa, Sulawesi, dan Bali, keluarga yang berduka juga memaksa masuk ke rumah sakit untuk mengambil jenazah korban COVID-19, karena khawatir kerabat mereka tidak akan dimakamkan sesuai dengan aturan agama mereka.

Insiden itu menyebabkan puluhan orang kemudian diketahui tertular virus corona.

Pemerintah tidak berbuat cukup

Di antara berbagai inisiatif pemerintah Indonesia untuk mendidik masyarakat tentang COVID-19, salah satunya adalah kerja sama dengan Johns Hopkins Center for Communication.

Dalam program tersebut, 25.000 petugas lapangan dikerahkan untuk membantu membagikan informasi tentang virus corona, termasuk melalui Facebook, dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan melawan berita palsu dan stigma.

Namun, sosiolog di Nanyang Technological University di Singapura, Sulfikar Amir, mengatakan inisiatif yang sudah ada tidaklah cukup.

"Pemerintah tidak berbuat cukup untuk benar-benar mendidik masyarakat," kata dia.

"Itulah salah satu alasan kita melihat reaksi ekstrem [dari masyarakat]."

Buktinya, berbulan-bulan setelah pandemi, banyak yang masih merasa terisolasi.

Ibu dari Ari sekarang tidak lagi menunjukkan gejala dan tinggal diisolasi selama lebih dari sebulan, tetapi menurutnya dia masih merasa dijauhi oleh tetangga.

Berkaca dari pengalaman, Ari yang kini menganggur akibat warung makan tempatnya bekerja tutup, mencurahkan isi hatinya.

"Saya pikir mereka takut … mungkin bagi mereka virus corona itu sebesar gajah," ujarnya.

Diproduksi oleh Hellena Souisa dan Natasya Salim dari artikel Reuters

Ikuti berita seputar pandemi COVID-19 dunia lewat situs ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga telah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo dan keduan...
Warga Asal Meksiko Mendapat Diskriminasi Saat Hendak Sewa Rumah di Australia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Viry, seorang warga asal Meksiko yang tinggal di Canberra, mulai ragu apakah dia harus mengungkapkan...
Dorothy, Perempuan Australia Berusia 107 Tahun yang Tak Khawatir Virus Corona
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perempuan berusia 107 tahun dan ibu dari 11 anak yang selamat dari perang dunia, flu Spanyol, dan De...
Mengapa Ada Orang yang Secara Sukarela Mau Terinfeksi Virus Corona?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Robert Hatfield menawarkan diri kepada ilmuwan untuk menularkan COVID-19 kepadanya demi membantu pen...
John Chardon, Terpidana Kematian Istri Asal Surabaya Meninggal di Penjara Brisbane
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
John William Chardon (73), terpidana kasus kematian wanita asal Indonesia Novy Chardon, meninggal da...
Menikmati Kerja: Warga Indonesia di Australia yang Belum Pensiun di Usia 70 Tahun
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Sepuluh hari lagi, Sjahrir Laonggo akan meniup lilin ulang tahunnya ke-70, namun pria Indonesia yang...
Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar Backpacker Segera Didatangkan
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Kalangan petani dan pelaku usaha pariwisata Australia mendesak pemerintah untuk memperbolehkan peker...
Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Ketika Elly, bukan nama sebenarnya, meninggalkan rumah di pinggiran kota Melbourne tempatnya berlind...
Ketika Sebagian Kita Harus Pensiun, Pensiun Dini, di-PHK di Tengah Pandemi
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Pandemi COVID-19 sudah menjungkirbalikkan keadaan dunia selama beberapa bulan terakhir, termasuk di ...
Pertama Kali Dalam Empat Bulan Tidak Ada Kasus Baru COVID-19 di Melbourne
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Negara bagian Victoria, Australia, hari Senin (26/10) melaporkan tidak ada kasus baru dan kematian a...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV