Ini Soal Harga Diri: Warga Papua Kembalikan Uang Beasiswa Veronica Koman
Elshinta
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ini Soal Harga Diri: Warga Papua Kembalikan Uang Beasiswa Veronica Koman
ABC.net.au - Ini Soal Harga Diri: Warga Papua Kembalikan Uang Beasiswa Veronica Koman

Permintaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) agar pengacara hak asasi manusia Veronica Koman mengembalikan uang beasiswa untuk menempuh studinya di Australia telah terpenuhi.

Tim Solidaritas Ebamukai, atau uang sukarela, untuk Veronica Koman mendatangi kantor LPDP di Jakarta Pusat untuk mengembalikan uang beasiswa Veronica Koman kepada LPDP Kementerian Keuangan hingga lunas, hari Rabu (16/09).

Peromohonan audiensi sudah disampaikan sejak dua hari yang lalu, namun saat didatangi oleh tim solidaritas, kantor LPDP ternyata tutup.

Tim solidaritas kemudian bergeser ke kantor Kementerian Keuangan yang juga tak ada perwakilan yang menemui mereka.

Akhirnya mereka mendatangi kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM untuk menitipkan beberapa benda simbolis kepada petugas keamanan untuk diserahkan ke Menkopolhukam, Mahfud MD.

Selain memberikan bukti transfer dana pengembalian beasiswa, tim solidaritas yang diwakili mantan tahanan politik, Ambrosius Mulait dan Dano Tabuni, didampingi pengacara hak asasi manusia, Michael Himan juga mengembalikan Bendera Merah Putih.

Mereka juga membawa salinan Undang-Undang Otsus sebagai simbol pengembalian status Otonomi Khusus dan uang recehan sebesar Rp1 juta yang melambangkan pengembalian dana Otonomi Khusus.

Dana pengembalian beasiswa yang diberikan adalah hasil penggalangan lewat daring melalui Perkumpulan Jubi dan chuffed.org untuk menutup kekurangan dana yang sudah dua kali dicicil Veronica sebelumnya.

Dari pantauan ABC Indonesia di situs chuffed.org hingga Kamis malam (17/09), ada 327 pemberi sumbangan dengan dana yang terkumpul sebesar $18.449 dari target $72.500.

Upaya penggalangan dana juga dilakukan secara langsung di Papua dan pernah dibubarkan paksa sebanyak dua kali oleh kepolisian yakni di Nabire dan Jayapura.

"Begitu mendengar kabar bahwa pemerintah Indonesia menghukum Veronica Koman … rakyat Papua dengan segera menggalang dana baik dengan mendirikan posko, mengumpulkan uang di pasar dan lampu merah, maupun secara online," demikian kutipan keterangan yang diterima ABC Indonesia.

Total dana beasiswa yang diklaim LPDP harus dikembalikan oleh Veronica Koman adalah Rp773.876.918.

Menurut Victor Mambor dari Perkumpulan Jubi, salah satu penampung dana solidaritas, jumlah sumbangan yang masuk bervariasi, "mulai dari sepuluh ribu hingga puluhan juta rupiah."

Penggalangan dana ini juga diinisasi oleh berbagai kalangan di Papua, mulai dari mahasiswa sampai kalangan rohaniwan.

"Kami, 57 pastor pribumi, memberi sedikit persembahan kasih dari uang persembahan yang umat berikan kepada kami untuk Vero," kata Pastor John Bunai, Koordinator 57 Imam Pribumi Papua sekaligus Koordinator Jaringan Damai Papua.

Pengembalian uang dilakukan melalui transfer ke rekening LPDP.

Tim solidaritas Ebamukai untuk Veronica Koman kemudian menyerahkan bukti transfer pengembalian uang, sekaligus surat kuasa yang diberikan oleh Veronica kepada pihak LPDP dan Kementerian Keuangan.

Veronica Koman juga telah mengirimkan konfirmasi pembayaran melalui email kepada LPDP.

Fokus untuk melakukan advokasi internasional

Sejak awal tersiar kabar sanksi pengembalian dana beasiswa, Veronica mengatakan banyak orang Papua yang meyakinkan dirinya jika aksi solidaritas akan berhasil mengumpulkan dana sesuai permintaan LPDP.

"Vero, kamu tidak sendiri. Kami yang akan bayar," kata Veronica mengutip salah seorang orang Papua yang menghubunginya.

Veronica mengaku banyak dihubungi oleh orang Papua untuk menyatakan dukungan mereka sambil mengatakan bantuan yang mereka berikan memiliki kaitan dengan harga diri orang Papua.

Ia mengaku terharu dengan usaha menggalang dana untuk membayar uang beasiswanya dan tidak sampai hati menolaknya.

"Karena ini soal harga diri mereka, otomatis saya sudah tidak ada di posisi bisa menolak bantuan tersebut," ujar Veronica kepada ABC Indonesia.

"Kalau saya tolak, berarti saya menganggap mereka tidak mampu untuk melakukan [pengembalian dana] ini."

Menurut Veronica, gerakan solidaritas warga Papua menjadi sebuah bentuk komitmen solidaritas yang "luar biasa", apalagi dilakukan di masa pandemi COVID-19.

Kepada ABC Indonesia, Veronica mengatakan akan tetap konsisten dalam mengadvokasi hak-hak asasi manusia.

"Dalam situasi saya yang eksil seperti ini, pilihan saya adalah fokus untuk melakukan advokasi internasional [soal hak asasi manusia Papua]," kata Veronica yang kini berdomisili di Australia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Untuk Pertama Kalinya Penumpang Internasional Masuk Australia Tanpa Karantina
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Pesawat pertama dari tiga penerbangan asal Selandia Baru telah mendarat di Bandara Sydney. Untuk per...
Warga Melbourne Akhirnya Bisa Keluar Rumah Untuk Potong Rambut
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Setelah menjalani lockdown tahap keempat yang ketat selama sekitar 100 hari, warga Kota Melbourne, A...
Alasan Sejumlah Warga Asal China Tinggal di Pedesaan Australia
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Mayoritas warga Australia tinggal di kota besar seperti Sydney dan Melbourne, dan migran baru pun le...
Burung yang Cerdas: Apa yang Anda Ketahui Tentang Kakatua Berjambul Kuning?
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Burung kakatua dikenal sebagai salah satu hewan yang pintar. Tapi tahukah Anda jenis kakatua jambul ...
Banyak yang Pilih Pulang, Pengiriman Barang dari Australia ke Indonesia Naik
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Beberapa penyedia layanan kargo di Melbourne mengaku telah mendapat lonjakan permintaan pengiriman b...
Akibat Buruknya Penanganan COVID: Pengaruh Diplomatik RI Anjlok di Tahun 2020
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Pengaruh diplomatik Indonesia anjlok sebesar 5,2 persen akibat buruknya penanganan COVID-19, namun m...
Apa yang dilakukan Kepolisian Australia Saat Anggotanya Sendiri Terlibat KDRT?
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Polisi di Australia seringkali gagal menindak para polisi lain yang melakukan Kekerasan dalam Rumah ...
Unjuk Rasa di Thailand Memasuki Hari Keenam. Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Pemerintah Thailand berusaha membendung protes yang sedang berlangsung dengan ancaman akan menyensor...
Nasib Pertanian Jika Pemerintah Australia Tak Mengampuni Pekerja Gelap
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Pemerintah Australia memutuskan untuk tidak memberikan pengampunan kepada para pekerja gelap. Keputu...
Santi Whiteside, Perempuan Berdarah Batak yang Ikut Pilkada di Melbourne
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Santi Whiteside sudah tinggal di Australia lebih dari 20 tahun dan kini ia menjadi salah satu kandid...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV