Menjual Foto atau Kencan Virtual: Kegiatan Sugar Baby Indonesia Saat Pandemi
Elshinta
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Menjual Foto atau Kencan Virtual: Kegiatan Sugar Baby Indonesia Saat Pandemi
ABC.net.au - Menjual Foto atau Kencan Virtual: Kegiatan Sugar Baby Indonesia Saat Pandemi

Lola* lahir di keluarga yang serba berkecukupan sehingga punya kesempatan sekolah di Singapura.

Tapi ia mengaku tetap mengambil kesempatan menjadi sugar baby untuk meningkatkan gaya hidupnya.

Sejak Oktober 2019, Lola mulai bekerja sebagai sugar baby, yang menurutnya seperti menjadi "teman kencan" untuk para pria.

Sejauh ini, ia sudah memiliki tiga sugar daddy, yang rata-rata berusia hampir 60 tahun atau pria yang kembali melajang karena perceraian.

"Mungkin mereka sibuk sekali, kesepian, dan butuh seseorang untuk menemani mereka begitu?" kata Lola.

"[Punya] seorang perempuan cantik yang dapat memenuhi kebutuhan mereka itu semacam fantasi juga kan? Dan mereka punya banyak uang untuk melakukannya."

Lola mengaku jika kegiatan yang dilakukan "cuma makan malam berdua" dengan penghasilan yang pernah ia dapatkan mencapai SGD$4,000, atau Rp43 juta, dalam satu bulan.

Uang tersebut ia gunakan untuk berbelanja, makan di restoran mewah, dan mempercantik diri, apalagi karena para sugar daddy atau sugar mommy menurutnya berasal dari kelas ekonomi yang lebih tinggi darinya.

Jadi kami harus berpenampilan baik, terlihat berkelas, dan cantik," katanya.

Dibayar $600 per video

Lola mengatakan pembatasan aktivitas di tengah pandemi COVID-19 telah menghambatnya melakukan pekerjaan sampingannya yang membutuhkan tatap muka.

Ia juga mengatakan jika beberapa sugar baby lain yang ia kenal juga menemukan cara baru dalam bekerja.

"Ada yang menjual foto diri mereka, atau virtual dates. Saya pernah ditawarkan sex video call dan dibayar $600 per video, tapi saya tidak mau," kata Lola.

Penolakan tersebut ia lakukan karena kebutuhannya yang kini sudah tercukupi selama tinggal dengan orangtuanya di Jakarta.

Selain itu, Lola yang kini mengambil kelas online merasa tidak punya waktu untuk melakukan pekerjaan yang menurutnya membutuhkan persiapan.

"Kami harus mendedikasikan beberapa hari dalam seminggu untuk bekerja, untuk menghabiskan waktu dengan sugar daddy," kata dia.

"Beberapa teman saya, yang sepengetahuan saya adalah sugar baby, berhenti karena sibuk kuliah … kebanyakan kalau sudah masuk tahun kedua dan mulai susah pelajarannya."

Murni untuk alasan finansial

Sejak awal, Lola telah menetapkan batasan keras tentang aktivitas yang dapat dilakukannya dengan sugar daddy.

Ini terutama karena ia sedang dalam status berpacaran.

"Dari pertama, sebelum memulai hubungan, saya menetapkan batasan, dan secara terang-terangan mengatakan bahwa saya tidak mau terlibat dalam hubungan romantis ataupun seksual," katanya.

"Jadi bahkan sebelum memulai hubungan, mereka sudah tahu batasan saya dan bahwa [hubungan ini] murni untuk alasan finansial."

Walau menurut Lola hubungan ini sah-sah saja, hukum di Indonesia berkata lain.

Seksolog klinis Zoya Amirin mengatakan pekerjaan sebagai sugar baby tidak sah secara hukum di Indonesia.

Namun, tidak ada dasar untuk menjatuhkan hukuman bagi mereka yang melakukannya, kecuali dengan alasan yang spesifik.

"Kalau misalnya pun terjadi perselingkuhan di mana sugar daddy sudah menikah, iya paling itu bisa ditindak secara hukum jika ada pelaporan dari istri sugar daddy tersebut," katanya.

Aturan hukum yang dimaksudkan oleh Zoya adalah pasal 284 KUHP tentang perbuatan zina dengan ancaman penjara sembilan bulan.

"Tapi kalau sugar daddy nya masih single, itu kan ada perjanjian kedua belah pihak, suka sama suka."

Apakah sama dengan prostitusi?

Menurut Zoya, pekerjaan sugar baby terhitung sebagai "prostitusi yang terselubung".

"Prostitusi kan sex for sale ya? Kalau sugar baby menjadi prostitusi terselubung karena ada uang jasa menemani," katanya.

"Bedanya tidak ada legalisasi agama, seperti kawin kontrak."

Tapi menurut Lola sendiri prostitusi dan pekerjaan sugar baby adalah dua hal yang berbeda.

"Yang membedakan prostitusi dengan sugaring relationship adalah fakta bahwa dengan menjadi sugar baby, kami tidak harus berhubungan seks dengan sugar daddy," kata dia.

"Jadi, di situlah perbedaan pentingnya. Its not just a one time thing [bukan hanya untuk satu waktu saja]".

Menurut salah satu situs pencarian sugar baby terbesar di dunia bernama Seeking Arrangement, Jakarta menyumbang jumlah sugar daddy dan sugar baby terbanyak di Indonesia, disusul dengan Bandung dan Surabaya.

Annette Joseph, juru bicara Seeking Arrangement di kawasan Asia Tenggara mengatakan para sugar baby menikmati hubungan dengan para pria mapan karena adanya perbedaan emosional dan kesejahteraan yang tidak bisa mereka temukan jika berkencan dengan pria lain yang usianya tidak jauh berbeda.

"Mereka merasa terdorong, sukses dan diberdayakan saat berkencan dengan orang-orang yang sudah mapan secara finansial dan yang dapat meningkatkan gaya hidup mereka," ujarnya kepada ABC Indonesia.

*Nama telah diganti sesuai permintaan narasumber.

Ikuti berita seputar pandemi lainnya di ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Untuk Pertama Kalinya Penumpang Internasional Masuk Australia Tanpa Karantina
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Pesawat pertama dari tiga penerbangan asal Selandia Baru telah mendarat di Bandara Sydney. Untuk per...
Warga Melbourne Akhirnya Bisa Keluar Rumah Untuk Potong Rambut
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Setelah menjalani lockdown tahap keempat yang ketat selama sekitar 100 hari, warga Kota Melbourne, A...
Alasan Sejumlah Warga Asal China Tinggal di Pedesaan Australia
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Mayoritas warga Australia tinggal di kota besar seperti Sydney dan Melbourne, dan migran baru pun le...
Burung yang Cerdas: Apa yang Anda Ketahui Tentang Kakatua Berjambul Kuning?
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Burung kakatua dikenal sebagai salah satu hewan yang pintar. Tapi tahukah Anda jenis kakatua jambul ...
Banyak yang Pilih Pulang, Pengiriman Barang dari Australia ke Indonesia Naik
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:15 WIB
Beberapa penyedia layanan kargo di Melbourne mengaku telah mendapat lonjakan permintaan pengiriman b...
Akibat Buruknya Penanganan COVID: Pengaruh Diplomatik RI Anjlok di Tahun 2020
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Pengaruh diplomatik Indonesia anjlok sebesar 5,2 persen akibat buruknya penanganan COVID-19, namun m...
Apa yang dilakukan Kepolisian Australia Saat Anggotanya Sendiri Terlibat KDRT?
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Polisi di Australia seringkali gagal menindak para polisi lain yang melakukan Kekerasan dalam Rumah ...
Unjuk Rasa di Thailand Memasuki Hari Keenam. Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Pemerintah Thailand berusaha membendung protes yang sedang berlangsung dengan ancaman akan menyensor...
Nasib Pertanian Jika Pemerintah Australia Tak Mengampuni Pekerja Gelap
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Pemerintah Australia memutuskan untuk tidak memberikan pengampunan kepada para pekerja gelap. Keputu...
Santi Whiteside, Perempuan Berdarah Batak yang Ikut Pilkada di Melbourne
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:14 WIB
Santi Whiteside sudah tinggal di Australia lebih dari 20 tahun dan kini ia menjadi salah satu kandid...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV