Masa Pandemi Corona: Tantangan bagi Teokrasi Iran
Elshinta
Selasa, 22 September 2020 - 09:37 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Masa Pandemi Corona: Tantangan bagi Teokrasi Iran
DW.com - Masa Pandemi Corona: Tantangan bagi Teokrasi Iran

Kekecewaan menyelimuti warga Syiah di Iran. Mereka tidak diizinkan untuk ambil bagian dalam prosesi festival peringatan Syiah, Arbain di Irak, yang jatuh pada tanggal 7 Oktober tahun ini. Larangan itu telah diumumkan Presiden Iran, Hassan Rouhani pada awal September lalu.

Perayaan Arbain yang dimaksud adalah hari yang menandai akhir dari empat puluh hari berkabung untuk Husain bin Ali bin Abi Thalib as, imam Syiah ke-3 yang merupakan cucu Nabi Mohammad. Dalam peringatan tersebut, jutaan peziarah Iran biasanya melakukan prosesi perjalanan dari Najaf ke Karbala. Disebutkan dalam sejarah, Husain bin Ali bin Abi Thalib as, terbunuh dalam pertempuran pada tahun 680. Sejak saat itu, tempat ini menjadi salah satu situs suci Syiah.

Khamenei menempatkan dirinya di belakang para ahli kesehatan

Pihak berwenang Iran telah memperingatkan umat Syiah untuk berhati-hati pada tahun ini. Hari Asyura, peringatan kematian Hussein, yang jatuh pada tanggal 28-29 Agustus diizinkan, tetapi umat harus tunduk pada kondisi keamanan yang ditentukan.

Semua upacara keagamaan dan pertemuan harus mengikuti rekomendasi yang dikemukakan oleh para petugas kesehatan profesional.

Pemimpin spiritual negara itu, Ali Khamenei, mengatakan: “Apa yang diumumkan Satgas Nasional Penanggulangan Corona harus diikuti pada saat masa berkabung,” ujarnya di awal bulan Muharram. "Saya menyarankan semua umat untuk mengikuti pedoman negara. Jika tidak, akan ada bencana besar," demikian Khamenei memperingatkan. Media pemerintah memperlihatkan dia duduk sendirian di sebuah aula besar dan wajahnya mengenakan masker sambil mendengarkan khotbah.

Rezim membutuhkan festival keagamaan sebagai legitimasi

Pembatasan perayaan keagamaan karena pandemi corona adalah masalah sensitif bagi kepemimpinan Iran, karena dengan mengatasnamakan "Republik Islam Iran" negara itu mengakui landasan keagamaannya. Konstitusinya didasarkan pada hukum syariat, dan posisi kekuasaan yang menentukan dipegang oleh ulama.

"Agama dengan kebutuhannya hadir di mana-mana di ruang publik," kata ilmuwan politik Behrouz Khosrozadeh, yang mengajar di Institut Penelitian Demokrasi di Universitas Göttingen, "bahkan sering dimanfaatkan secara hipokrit dan untuk formalitas."

Dalam edisi 4 September, surat kabar yang berafiliasi dengan pemerintah "Tehran Times" memuji Festival Asyura sebagai "puncak prinsip moral, di mana kesempurnaan karakter manusia, keagungan kesabaran, dan kecerdasan kepemimpinan" dirayakan.

Namun, ilmuwan politik Khosrozadeh meragukan apakah instrumentalisasi agama memenuhi tujuannya sejauh yang diinginkan: "Agama dan kekuatan politik terus terkonsolidasi melalui apa yang disebut 'peristiwa massa'. Keuntungannya ini hanya dinikmati untuk kepentingan partai, yang merupakan segelintir minoritas absolut dari populasi yang diwakili."

Banyak orang Iran ingin pemisahan agama dan negara

Sebuah survei baru-baru ini oleh GAMAAN (Group for Analyzing and Measuring Attitudes in Iran) di Universitas Tilburg, yang memfokuskan risetnya pada Iran, menunjukkan bahwa banyak warga di Iran mendukung pemisahan yang lebih kuat antara negara dan agama.

Menurutnya, 68 persen orang Iran yang diwawancarai berpendapat bahwa peraturan agama harus dipisahkan dari undang-undang negara bagian. Ini juga harus berlaku jika mereka mendapat suara mayoritas di parlemen. Hanya 14 persen yang mendukung bahwa hukum nasional harus konsisten dengan peraturan agama. Lebih dari separuh responden mendukung anak-anak mereka mengenal agama yang berbeda di sekolah. 72 persen dari mereka yang disurvei menentang kewajiban jilbab wajib bagi perempuan di ruang publik.

Pandemi corona dapat memperkuat sikap politik antiteokratis di antara warga negara, ujar sarjana agama Iran di Belanda, Pooyan Tamimi Arab dari Universitas Utrecht.

Semakin jelas bahwa pendekatan ilmiah yang rasional diperlukan untuk memberantas pandemi. Hal ini berkorelasi dengan semakin berkurangnya interpretasi religius yang lebih persuasif atas pandemi dan dengan demikian secara tidak langsung legitimasi agama dari kepemimpinan negara juga ikut meredup.
Behrouz Khosrozadeh, editor buku "Iran, Destabilisator: 41 Tahun Republik Islam, Berapa Lama Lagi?", yang diterbitkan pada musim semi tahun ini, juga berpandangan serupa. Suara pendukung pemerintah yang bermotivasi religius dimenangkan dengan diperbolehkannya memperingati Asyura, meskipun tergantung pada persyaratan kesehatan. Pembiaran ini melawan keberatan dari para kaum yang skeptis. Tetapi kemenangan mereka dapat menyebabkan kekecewaan dalam jangka panjang, demikian diyakini Khosrozadeh: Kepercayaan warga Iran terhadap konpetensi pemerintah juga menurun, sebagaimana pula pada legitimasi keilahian kepemimpinan Iran.




Pemerintah Iran sebenarnya tidak ingin melarang perayaan keagamaan nasional meskipun wabah corona masih membayangi. Mereka khawatir jika melarangnya, maka akan meruntuhkan legitimasi negara.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
Phillis Wheatley Merdeka dari Perbudakan Berkat Kepiawaian Berpuisi
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Anak perempuan berkulit hitam itu usianya diperkirakan baru sekitar tujuh atau delapan tahun ketika ...
Cuci Tangan Sebagai Ritual Keagamaan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Dalam masa pandemi Covid-19, mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh merupakan salah satu langk...
Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Satu dari sepuluh orang di dunia hidup di dalam kemiskinan ekstrim. Nasib mereka kian runyam selama ...
Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Gatot Nurmantyo (Akmil 1982) terus berikhtiar mencari jalan menuju kekuasaan. Segala cara dia tempuh...
Tajuk: Dialog Antaragama Semakin Relevan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Ironisnya justru Arab Saudi, negeri yang mengabaikan hak sipil, membatasi kebebasan beragama dan ber...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV