Hari Rabu Libur: Meningkatkan Produktivitas dengan Kerja Empat Hari Seminggu
Elshinta
Rabu, 23 September 2020 - 12:24 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Hari Rabu Libur: Meningkatkan Produktivitas dengan Kerja Empat Hari Seminggu
ABC.net.au - Hari Rabu Libur: Meningkatkan Produktivitas dengan Kerja Empat Hari Seminggu

Semakin banyak pekerja di negara-negara Barat yang meminta agar diperbolehkan kerja empat hari seminggu, dengan sisa satu hari kerja dihabiskan untuk kegiatan yang kreatif, bukan bermalas-malasan.

Inilah yang dilakukan Bryn Davies, seorang perencana kota yang sekarang tinggal di Melbourne, setelah pernah tinggal di Jerman dan Amerika Serikat.

Setelah menamatkan pendidikan master di Amerika Serikat di tahun 2016, Bryn, usia 32 tahun, tinggal selama setahun di Berlin, ibukota Jerman.

"Selama setahun, saya menghabiskan waktu dengan teman-teman di taman, pergi ke klub, dan menikmati kehidupan saya sepenuhnya," katanya.

Setelah kembali ke Melbourne, Bryn kemudian bekerja sebagai penasehat menteri urusan perencanaan kota dan merasa hidupnya begitu terkungkung dengan pekerjaan.

Pekerjaannya penuh dengan stress dan kecemasan" dan selama 10 bulan dia merasa kesehatan jiwanya terganggu.

"Setelah Berlin, Melbourne terasa membosankan, semuanya hanya kerja, kerja, tidak ada hiburan sama sekali."

"Namun kemudian saya menyadari karena gaya hidup saya memang berubah [dengan hanya bekerja]."

Melipatgandakan pendapatan

Setelah itu Bryn mengajukan usulan kepada kantornya agar dia boleh bekerja empat hari seminggu.

Hari kelima kemudian menjadi apa yang disebutnya hari romansa, hari yang digunakanya untuk melakukan hal yang disukainya.

Membuat perabotan rumah dari bahan-bahan daur ulang dan bahkan menjadikan sebuah perahu tua menjadi sebuah pub adalah diantara hal yang ia lakukan.

Pengaturan kerja seperti ini mungkin tidak bisa dilakukan di semua sektor, namun banyak manfaat yang dirasakan jika karyawan diberi kesempatan untuk melakukan hal-hal yang kreatif.

Penelitian membuktikan mereka yang terlibat dalam kegiatan kreatif kurang mengalami stress, lebih bersemangat dalam bekerja, dan bisa meninggalkan kerjaan ketika harus berhenti .

Kath Blackham mengalami hal ini, setelah ia menerapkan kerja empat hari seminggu di perusahaan kreatif digital miliknya yang bernama Versa.

Dengan bekerja 10 jam per hari, empat hari seminggu, staf bisa mengambil liburan sehari di tengah pekan, dan menurut Kath membuat produktivitas dan keuntungan perusahaan meningkat.

"Sejak kami memberlakukan hari Rabu libur, pendapatan kami menignkat dua kali lipat, keuntungan naik tiga kali lipat, jumlah staf yang sakit juga berkurang sekali dan semua hal terjadi peningkatan," katanya.

Memang tidak sesederhana seperti rencana awal

Kath pertama kalinya mengurangi hari kerja sebagai bentuk eksperimen jangka pendek dalam mencegah masalah kesehatan mental di kantornya.

"Sebenarnya semua orang perlu waktu istirahat secara pribadi, namun kami sekarang membuatnya menjadi bagian resmi dari kegiatan usaha," katanya.

"Namun dalam waktu bersamaan, tidak semua orang mau dan bersedia libur satu hari di tengah minggu, jadi kami juga membuat kegiatan khusus bernama crafternoons dan entrepreneur club di hari Rabu bagi mereka yang ingin bekerjasama dengan yang lain di kantor."

Namun menurut Profesor Herman Tse dari Monash University di Melbourne, memberikan satu hari ekstra bagi staf untuk tidak bekerja tidaklah sesederhana seperti diduga.

"Kita harus berpikir lebih berhati-hati mengenai kerja empat hari, apakah berarti kerja 38 jam seminggu dibagi menjadi 4 hari atau mengurangi jam kerja keseluruhan," katanya.

"Banyak perusahaan masih memperhitungkan jam sesuai kontrak untuk menentukan pensiun, cuti jangka panjang, cuti tahunan, jadi seluruh sistem kita masih tergantung pada struktur ini."

Tidak bisa berlaku umum

Kath mengaku jika bisnisnya tidak akan bisa berkembang jika ia mengizinkan staf bekerja empat hari namun kerja empat hari seminggu.

Dia mengatakan perubahan secara struktural memang harus dilakukan oleh pemerintah.

"Terakhir kali kita membuat perubahan serius mengenai jam kerja adalah yang dilakukan Henry Ford 100 tahun lalu," kata Kath

Professor Isabel Metz dari Melbourne Business School mengatakan satu hari libur di tengah pekan mungkin tidak akan cocok bagi semua orang, khususnya yang tidak mau bekerja lebih dari 8 jam sehari.

"Beberapa orang mungkin akan senang dengan waktu istirahat dua jam dalam sehari walau kerja lima hari seminggu," katanya.

"Cara orang bekerja berbeda-beda, ada yang lebih kreatif di malam hari, ada yang di pagi hari dan ada yang suka hari yang lebih pendek."

Banyak manfaatnya bila diterapkan dengan tepat

Bagi Bryn bisa mendapatkan hari romansa satu hari dalam seminggu untuk kegiatan kreatif sangat membantu dirinya.

"Apa yang saya lakukan di hari itu ada hubungan langsung dengan pekerjaan saya sebagai perencana kota, seperti mengubah rumah tua menjadi baru, menggunakan bahan-bahan kayu untuk didaur ulang untuk kegunaan baru," katanya.

Dia juga berhasil menggapai mimpinya mengubah sebuah perahu layar kuno menjadi bar yang dinamakannya ear/or.

"Kalau kita punya perusahaan dan ingin mendapatkan orang berbakat, kita harus percaya dengan mereka, kalau tidak mereka akan bekerja di tempat lain," kata Bryn.

"Pada umumnya mereka yang berbakat mau melakukan sesuatu yang kreatif, mereka tidak perlu dibelenggu di meja mereka, jadi memberikan kesempatan berbeda akan sangat berguna."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga telah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo dan keduan...
Warga Asal Meksiko Mendapat Diskriminasi Saat Hendak Sewa Rumah di Australia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Viry, seorang warga asal Meksiko yang tinggal di Canberra, mulai ragu apakah dia harus mengungkapkan...
Dorothy, Perempuan Australia Berusia 107 Tahun yang Tak Khawatir Virus Corona
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perempuan berusia 107 tahun dan ibu dari 11 anak yang selamat dari perang dunia, flu Spanyol, dan De...
Mengapa Ada Orang yang Secara Sukarela Mau Terinfeksi Virus Corona?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Robert Hatfield menawarkan diri kepada ilmuwan untuk menularkan COVID-19 kepadanya demi membantu pen...
John Chardon, Terpidana Kematian Istri Asal Surabaya Meninggal di Penjara Brisbane
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
John William Chardon (73), terpidana kasus kematian wanita asal Indonesia Novy Chardon, meninggal da...
Menikmati Kerja: Warga Indonesia di Australia yang Belum Pensiun di Usia 70 Tahun
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Sepuluh hari lagi, Sjahrir Laonggo akan meniup lilin ulang tahunnya ke-70, namun pria Indonesia yang...
Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar Backpacker Segera Didatangkan
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Kalangan petani dan pelaku usaha pariwisata Australia mendesak pemerintah untuk memperbolehkan peker...
Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Ketika Elly, bukan nama sebenarnya, meninggalkan rumah di pinggiran kota Melbourne tempatnya berlind...
Ketika Sebagian Kita Harus Pensiun, Pensiun Dini, di-PHK di Tengah Pandemi
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Pandemi COVID-19 sudah menjungkirbalikkan keadaan dunia selama beberapa bulan terakhir, termasuk di ...
Pertama Kali Dalam Empat Bulan Tidak Ada Kasus Baru COVID-19 di Melbourne
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Negara bagian Victoria, Australia, hari Senin (26/10) melaporkan tidak ada kasus baru dan kematian a...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV