Warga Palestina Merasa Perjanjian Negara Arab dengan Israel Sebuah Pengkhianatan
Elshinta
Rabu, 23 September 2020 - 12:25 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Warga Palestina Merasa Perjanjian Negara Arab dengan Israel Sebuah Pengkhianatan
ABC.net.au - Warga Palestina Merasa Perjanjian Negara Arab dengan Israel Sebuah Pengkhianatan

Dua negara Arab, Bahrain dan Uni Emirat Arab menandatangani perjanjian bersejarah untuk melakukan hubungan dengan Israel.

  • Ratusan orang hadir di Gedung Putih menyaksikan penandatanganan perjanjian dengan Israel
  • Sebelumnya Mesir dan Yordania sudah menandatangani perjanjian damai dengan Israel
  • Aktivis Palestina mengelar unjuk rasa dan militan menembakkan dua roket ke Israel dari Gaza

Kedua negara tersebut merupakan negara Arab pertama selama 25 tahun terakhir yang menjalin hubungan dengan Israel, hal yang dilihat sebagai langkah strategi di Timur Tengah untuk melawan Iran.

Presiden AS Donald Trump menyaksikan upacara penandatanganan di Gedung Putih di Washington, dan memunculkan dirinya sebagai tokoh perdamaian internasional di tengah kampanye pemilihan presiden saat ini di AS.

"Kita berkumpul sore ini untuk mengubah perjalanan sejarah," kata Presiden Trump.

"Setelah puluhan tahun perpecahan dan konflik, kita menandai fajar baru di Timur Tengah."

Di depan tamu undangan beberapa ratus orang, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menandatangani perjanjian dnegan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Sheikh Abdullah bin Zayed al-Nahyan dan Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdullatif al-Zayani.

Perjanjian ini menjadikan Uni Emirat Arab dan Bahrain menjadi negara Arab ketiga dan keempat yang menjalin hubungan dengan Israel, setelah Mesir melakukanya di tahun 1979 dan Yordania di tahun 1994.

Namun perjanjian tersebut tidak menyebut penyelesaikan konflik Israel dan Palestina, dimana Palestina melihat ini adalah pengkhianatan dari sesama negara Arab terhadap perjuangan mereka menjadikannya negara Palestina.

Dalam perjanjian tersebut, masing-masing negara akan mengirimkan duta besar dan bekerja sama dalam berbagai bidang diantaranya pendidikan, kesehatan, perdagangan dan keamanan.

Palestina mengecam perjanjian tersebut

Palestinians protest against diplomatic deal between Israel and two Gulf Arab nations Video: Palestinians protest against diplomatic deal between Israel and two Gulf Arab nations (ABC News)

Di Tepi Barat, para aktivis Palestina melakukan unjuk rasa dengan menginjak-ngijak dan membakar bendera dan gambar Presiden Trump, PM Netanyahu dan para pemimpin UEA dan Bahrain.

Beberapa orang membawa plakat bertuliskan "pengkhianatan" dan "perjanjian yang memalukan".

Plakat menyebut hubungan diplomatik dengan Israel merupakan "gempa bumi sunyi yang menghancurkan Palestina".

Di Jalur Gaza, militan Palestina menembakkan dua roket ke arah wilayah Israel, dalam waktu bersamaan dengan upacara di Washington.

Militer Israel mengatakan roket itu ditembakkan dari Gaza dan satu berhasil ditangkal oleh pertahanan udara.

Sebelumnya ketika bertemu dengan PM Netanyahu di kantornya, Presiden Trump mengatakan "ada sedikitnya lima atau enam negara yang akan segera" mencapai perjanjian dengan Israel.

Kepada wartawan, Presiden Trump mengatakan Arab Saudi akan mencapai persetujuan dengan Israel "di saat yang tepat".

Dalam reaksinya kabinet Saudi mengatakan perlunya "solusi yang adil dan menyeluruh" bagi masalah Palestina.

Baik PM Netanyahu dan Presiden Trump tidak menyebut Palestina dalam pernyataan mereka, namun Menlu Bahrain dan Uni Emirat Arab berbicara mengenai pentingnya adanya negara Palestina.

Tidak ada konflik saat ini yang akan dihentikan karena perjanjian, namun Israel dan Amerika Serikat berharap akan ada perubahan kebijakan besar di Timur Tengah, jika Arab Saudi mengikuti jejak Bahrain dan UEA.

Oman, Sudan dan Maroko adalah tiga negara yang diduga akan kemungkinan mengakui Israel.

Rasa skeptis mengenai dampak perjajian

Sejumlah pihak menyatakan rasa skeptisme mereka terhadap dampak dari perjanjian, termasuk pengamat masalah dan juga mantan pejabat di Timur Tengah.

Bahkan di Israrel, dimana perjanjian pada umumnya disambut baik, sebagian mengkhawatirkan jika perjanjian ini akan membuat Amerika Serikat menjual senjata ke Bahrain dan UEA.

Presiden Trump mengatakan dia tidak keberatan untuk menjual pesawat militer ke Uni Emirat Arab.

Perjanjian ditandatangani setelah upaya diplomatik selama beberapa bulan yang dilakukan Jared Kushner, menantu laki-laki Presiden Trump yang juga adalah penasehat senior, menjadi utusan Presiden Amerika Serikat untuk masalah perundingan internasional Avi Berkowitz.

Tanggal 31 Agustus 2020, perjanjian Israel dengan Uni Emirat Arab diumumkan yang diikuti penerbangan komersial pertama antar kedua negara.

Sementara perjanjian Bahrain dengan Israel ditandatangani pada tanggal 11 September.

Di Amerika Serikat, Partai Demokrat yang sekarang menjadi oposisi pada umumnya menyambut baik perjanjian, termasuk calon presiden Joe Biden.

ABC/wires

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga telah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo dan keduan...
Warga Asal Meksiko Mendapat Diskriminasi Saat Hendak Sewa Rumah di Australia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Viry, seorang warga asal Meksiko yang tinggal di Canberra, mulai ragu apakah dia harus mengungkapkan...
Dorothy, Perempuan Australia Berusia 107 Tahun yang Tak Khawatir Virus Corona
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perempuan berusia 107 tahun dan ibu dari 11 anak yang selamat dari perang dunia, flu Spanyol, dan De...
Mengapa Ada Orang yang Secara Sukarela Mau Terinfeksi Virus Corona?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Robert Hatfield menawarkan diri kepada ilmuwan untuk menularkan COVID-19 kepadanya demi membantu pen...
John Chardon, Terpidana Kematian Istri Asal Surabaya Meninggal di Penjara Brisbane
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
John William Chardon (73), terpidana kasus kematian wanita asal Indonesia Novy Chardon, meninggal da...
Menikmati Kerja: Warga Indonesia di Australia yang Belum Pensiun di Usia 70 Tahun
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Sepuluh hari lagi, Sjahrir Laonggo akan meniup lilin ulang tahunnya ke-70, namun pria Indonesia yang...
Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar Backpacker Segera Didatangkan
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Kalangan petani dan pelaku usaha pariwisata Australia mendesak pemerintah untuk memperbolehkan peker...
Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Ketika Elly, bukan nama sebenarnya, meninggalkan rumah di pinggiran kota Melbourne tempatnya berlind...
Ketika Sebagian Kita Harus Pensiun, Pensiun Dini, di-PHK di Tengah Pandemi
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Pandemi COVID-19 sudah menjungkirbalikkan keadaan dunia selama beberapa bulan terakhir, termasuk di ...
Pertama Kali Dalam Empat Bulan Tidak Ada Kasus Baru COVID-19 di Melbourne
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Negara bagian Victoria, Australia, hari Senin (26/10) melaporkan tidak ada kasus baru dan kematian a...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV