Jejak Kaki Manusia Purba di Arab Saudi dan Drastisnya Perubahan Iklim
Elshinta
Rabu, 23 September 2020 - 12:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Jejak Kaki Manusia Purba di Arab Saudi dan Drastisnya Perubahan Iklim
DW.com - Jejak Kaki Manusia Purba di Arab Saudi dan Drastisnya Perubahan Iklim

Sebuah temuan oleh ilmuwan baru-baru ini menunjukkan bahwa sekelompok kecil homo sapiens pernah berburu mamalia besar seperti unta, kerbau dan gajah di wilayah yang kini termasuk bagian utara Arab Saudi. Temuan ini menunjukkan drastisnya perubahan iklim yang telah dialami oleh planet ini.

Saat ini, Jazirah Arab berciri khas pemandangan gurun pasir yang luas dan gersang, sebuah daerah yang tidak ramah untuk didiami manusia purba dan hewan yang mereka buru.

Tetapi penelitian selama dekade belakangan menunjukkan bahwa tampaknya kondisi geografis bumi tidak selalu seperti ini. Karena variasi iklim alami, pada sekitar 120.000 tahun lalu atau yang juga dikenal sebagai periode interglasial terakhir, keadaan alam di sana jauh lebih hijau dan lebih lembab.

“Pada waktu tertentu di masa lalu, gurun yang mendominasi bagian dalam semenanjung pernah berupa padang rumput yang luas dengan danau dan sungai air tawar permanen," ungkap Richard Clark-Wilson, salah satu penulis studi terbaru yang diterbitkan di jurnal ilmiah Science Advances.

Menumpang makan dan minum

Nenek moyang manusia pada saat itu berhenti untuk sekadar minum dan mencari makan di sekitar danau dangkal yang juga sering dikunjungi unta, kerbau, dan gajah yang lebih besar daripada jenis yang ada sekarang.

Sekelompok manusia purba ini memanfaatkan adanya lubang berair untuk membantu mereka bisa bertahan dalam menempuh perjalanan jauh. Gambaran kehidupan manusia purba di daerah itu secara terperinci direkonstruksi oleh para peneliti dalam studi itu.

Sebelumnya, ditemukan juga jejak kaki manusia dan hewan purba di Gurun Nefud di Arab Saudi. Jejak ini memberi petunjuk baru tentang rute yang diambil leluhur manusia saat mereka menyebar keluar dari benua Afrika.

Bentuk fosil unik

Penulis utama makalah tersebut yakni Mathew Stewart, dari Institut Max Planck untuk Ekologi Kimia di Jerman, mengatakan bahwa jejak kaki itu ditemukan selama penelitian program doktoralnya pada tahun 2017, setelah adanya erosi sedimen di atas sebuah danau purba yang dijuluki 'Alathar' (yang dalam bahasa Arab berarti "jejak").

"Jejak kaki adalah bentuk unik bukti fosil yang memberikan gambaran singkat pada saat itu, biasanya mewakili beberapa jam atau hari,” ujar Steward.

Usia jejak kaki tersebut dikalkulasi dengan menggunakan teknik yang disebut pendaran terstimulasi optik. Cara ini memendarkan cahaya pada butiran-butiran kuarsa dan dapat mengukur jumlah energi yang dipancarkan darinya.

Para ilmuwan percaya bahwa tujuh dari ratusan jejak kaki yang ditemukan dapat diidentifikasikan sebagai hominin, yaitu jejak sekelompok manusia baik yang ada saat ini maupun yang telah punah. Empat di antaranya, dengan mempertimbangkan jarak, perbedaan ukuran dan orientasi arah yang sama, ditafsirkan sebagai dua atau tiga individu yang tengah bepergian bersama.

Bukan peninggalan manusia Neanderthal

Para peneliti berpendapat bahwa secara anatomis dan berdasarkan perkiraan tinggi dan massa yang disimpulkan dari cetakan jejak kaki, jejak ini adalah milik manusia modern yang anatomis berbeda dengan manusia Neanderthal. Selain itu, ilmuwan juga mempertimbangkan bahwa manusia Neanderthal tidak diketahui pernah berada di wilayah Timur Tengah yang lebih luas pada saat itu.

"Kami tahu bahwa manusia mengunjungi danau ini pada saat yang sama dengan hewan-hewan ini, dan, tidak seperti biasanya di daerah tersebut, tidak ada peralatan yang terbuat dari batu," kata Stewart. Menurutnya, temuan ini mengindikasikan bahwa di sana manusia telah membuat daerah pemukiman dalam jangka panjang.

“Tampaknya orang-orang ini mengunjungi danau untuk mencari sumber air dan untuk mencari makan pada saat yang sama dengan para hewan," dan mungkin juga untuk memburu hewan-hewan itu.

Gajah, yang punah di wilayah Levant sekitar 400.000 tahun yang lalu, diperkirakan pernah menjadi mangsa empuk bagi manusia pada masa lalu. Keberadaan kawanan gajah purba menunjukkan adanya sumber air tawar dan tanaman hijau yang melimpah di suatu wilayah. Levant adalah istilah historis yang secara luas mengacu pada wilayah geografis di daratan pesisir Mediterania timur Asia Kecil dan Fenisia atau yang saat ini termasuk wilayah Turki, Suriah, dan Lebanon.

Nenek moyang manusia susuri pedalaman

Selain jejak kaki, para ilmuwan juga menemukan sekitar 233 buah fosil. Kemungkinan ada juga karnivora tertarik akan keberadaan herbivora di Danau Purba Alathar. Jenis herbivora di sana pada saat itu diduga mirip dengan jenis yang ada di sabana Afrika saat ini.

Sebelumnya diketahui bahwa manusia purba menyebar ke Eurasia lewat Yunani selatan dan melalui wilayah Levant. Dalam perjalanannya ini, manusia purba mengeksploitasi sumber daya pesisir yang mereka lewati. Tetapi penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa "rute pedalaman, menyusuri danau dan sungai, mungkin juga sangat penting," kata Stewart.

"Kehadiran hewan besar seperti gajah dan kuda nil, bersamaan dengan adanya padang rumput terbuka dan sumber air yang besar, mungkin telah membuat Arabia utara menjadi tempat yang sangat menarik bagi manusia yang bergerak antara Afrika dan Eurasia," tambah penulis senior studi tersebut Michael Petraglia dari Max Planck Institut untuk Ilmu Sejarah Manusia.

ae/vlz (AFP, ancient.eu)



Ratusan ribu tahun lalu, Jazirah Arab lebih hijau dan lembab, dihuni hewan besar macam gajah dan kerbau. Temuan jejak kaki jadi bukti manusia purba pernah mampir, numpang makan dan minum di sana.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Apa yang Kita Pelajari dari Tikus Lucu Arktik ini?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Benua Arktik di Kutub Utara terus mencair dan membawa perubahan muram pada ekosistem Bumi. Perkemban...
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Serangan Teror di Paris Picu Diskusi Soal Islam di Prancis
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Pernyataan kecaman itu dibacakan saat Syeikh al-Tayeb berpidato di hadapan pemuka agama Kristen, Yah...
Akui Hak Berkeluarga Pasangan LGBT, Paus Fransiskus Imbau Dibuat UU Ikatan Sipil
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan dukungan paling eksplisit kepada pasangan homoseksual sejak ...
Pergulatan Prancis Melawan Islamisme  
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Akhir September lalu Prancis dikejutkan oleh serangan senjata tajam terhadap pejalan kaki di depan b...
Rasa Keadilan di Balik Sikap Paus Fransiskus Soal Ikatan Homoseksual
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Paus Fransiskus kembali membuat geger usai menyatakan dukungan atas ikatan sipil sebagai kerangka hu...
Ancaman Kepunahan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Bahasa adalah jati diri bangsa. Itu slogan lama yang sering didengungkan oleh para pamong praja atau...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV