Transplantasi Tinja Untuk Sembuhkan Penyakit
Elshinta
Rabu, 23 September 2020 - 12:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Transplantasi Tinja Untuk Sembuhkan Penyakit
DW.com - Transplantasi Tinja Untuk Sembuhkan Penyakit

Jarang orang membicarakan tinja atau kotoran manusia secara serius. Bahkan kebanyakan merasa jijik jika membahas tema ini. Namun dalam dunia kedokteran, sistem pencernaan dan tinja jadi tema riset penting. Apa yang disebut riset mikrobiom, setelah bertahun diabaikan kini mulai jadi topik penting.

Mikrobiom ibaratnya sidik jari yang unik untuk setiap inividu. Dalam usus tiap manusia hidup milyaran bakteri dan mikroorganisme lainnya. “Mikrobiom menjelaskan semua gen dari mikroorganisme yang menghuni tubuh manusia“, ujar Maria Vehreschild pimpinan bagian infeksiologi di Rumah Sakit Universitas Frankfurt.

“Organismenya disebut mikrobiota dan memainkan peranan sangat penting dalam meregulasi fungsi tubuh manusia. Nyaris tidak ada organ tubuh yang fungsinya tidak terpengaruh komposisi mikrobiom“, papar pakar infeksiologi Vareschild. Bagaimana komposisi flora usus itu, tercermin dari kotoran atau tinja yang dikeluarkan tubuh.

Karena itu para ilmuwan dalam beberapa tahun terakhir menetapkan berbagai istilah ilmiah yang menjelaskan poros organ tubuh dengan mikrobiom. “Ada poros usus-otak, poros usus-hati atau poros usus-ginjal. Poros ini menunjukkan adanya interaksi antara mikrobiota dengan beragam organ tubuh“, demikian kata pakar mikrobiom itu.

Terapi transplantasi tinja

Terkait interaksi mikrobiom dengan berbagai organ tubuh, adalah logis jika dunia medis kini membidik tema ini untuk tujuan terapi atau pengobatan. Sejauh ini transplantasi tinja atau Fecal Microbiota Transplantation-FMT masih dikategorikan dalam tahapan riset, dan hanya diterapkan dalam kasus sangat terbatas.

Salah satunya yang sudah dilakukan dalam koridor “upaya pengobatan pribadi“ adalah transplantasi tinja untuk pengidap infeksi Clostridium difficile. Infeksi bakteri ini menyebabkan radang usus dan memicu diare berdarah-darah. Penyebabnya adalah pemberian antibiotika yang membunuh sejumlah “bakteri baik“ dan menyisakan bakteri Clostridium difficile, yang kemudian berkembang biak dan menyebar.

Dalam kondisi tidak ada lagi rujukan cara pengobatan konvensional, maka transplantasi tinja bisa dilakukan. Prosedurnya sangat ketat dan rumit, jauh lebih ketat dari transfusi darah. Sebelum dilakukan transplantasi, pendonor dan resipien atau penerima, harus melewati sejumlah tes medis maupun wawancara.

“Jika semua cocok, donor datang ke laboratorium untuk menyumbangkan tinjanya. Kemudian tinja diolah dengan cara difilter dan disentrifugal, untuk mendapatkan bakteri yang diperlukan. Selanjutnya bakteri dimasukkan kapsul untuk diberikan kepada pasien bersangkutan“, demikian peneliti mikrobiom medis Vareschild menggambarkan prosedurnya.

Belum mendapat izin prosedural

Walaupun metode pengobatan dengan cara transplantasi tinja bagi pasien penderita infeksi Clostridium difficile menunjukan keberhasilan hingga 75%, sejauh ini dinas kesehatan di Jerman belum memberikan izin penggunaan prosedurnya secara luas.

Juga diakui karena metodenya relatif baru, masih banyak riset yang perlu dilakukan untuk penerapan metode Fecal Microbiota Transplantation-FMT ini. Terutama untuk mencegah transmisi penyakit lain yang berbahaya, yang terbawa oleh kotoran manusia alias tinja. Misalnya apakah ada kemungkinan metode ini justru memicu munculnya penyakit kanker, yang diuntungkan dengan konstelasi mikrobiom dan flora usus tertentu.

Sejauh ini, metode FMT hanya dilakukan, jika metode konvensional lainnya gagal mengatasi penyakit yang diketahui muncul akibat tergangguya poros usus dan organ tubuh lain. Itupun harus dilakukan dengan tatacara sangat ketat dan rumit, untuk meminimalkan efek negatif yang mungkin muncul.

(as/hp)



Orang jarang membicarakan usus dan tinja. Padahal usus adalah organ terpenting tubuh. Jika fungsinya terganggu, bisa muncul masalah serius. Kadang transplantasi tinja bisa menyembuhkan.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Apa yang Kita Pelajari dari Tikus Lucu Arktik ini?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Benua Arktik di Kutub Utara terus mencair dan membawa perubahan muram pada ekosistem Bumi. Perkemban...
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Serangan Teror di Paris Picu Diskusi Soal Islam di Prancis
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Pernyataan kecaman itu dibacakan saat Syeikh al-Tayeb berpidato di hadapan pemuka agama Kristen, Yah...
Akui Hak Berkeluarga Pasangan LGBT, Paus Fransiskus Imbau Dibuat UU Ikatan Sipil
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan dukungan paling eksplisit kepada pasangan homoseksual sejak ...
Pergulatan Prancis Melawan Islamisme  
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Akhir September lalu Prancis dikejutkan oleh serangan senjata tajam terhadap pejalan kaki di depan b...
Rasa Keadilan di Balik Sikap Paus Fransiskus Soal Ikatan Homoseksual
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Paus Fransiskus kembali membuat geger usai menyatakan dukungan atas ikatan sipil sebagai kerangka hu...
Ancaman Kepunahan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Bahasa adalah jati diri bangsa. Itu slogan lama yang sering didengungkan oleh para pamong praja atau...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV