Produsen Kaca Schott AG, Mata Rantai Penting dalam Produksi Vaksin Corona
Elshinta
Rabu, 23 September 2020 - 12:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Produsen Kaca Schott AG, Mata Rantai Penting dalam Produksi Vaksin Corona
DW.com - Produsen Kaca Schott AG, Mata Rantai Penting dalam Produksi Vaksin Corona

Bahkan sebelum ada pandemi Covid-19, perusahaan kaca dan keramik Schott AG telah memproduksi kemasan farmasi kelas premium dan memainkan peran penting di bidang medis. Perusahaan berusia 130 tahun ini setiap tahun menghasilkan sekitar 11 miliar tabung gelas untuk sektor farmasi dan medis.

Schott AG tidak hanya memproduksi tabung farmasi, tapi berbagai produk gelas dan keramik khusus lain, dari bahan untuk meja dapur sampai material untuk teleskop. Tapi di masa pandemi corona, Schott AG fokus pada produksi tabung vaksin, agar produksi vaksin bisa langsung dipicu, begitu bahan vaksin mendapat izin dari otoritas kesehatan dan perdagangan. Targetnya adalah menyediakan tabung untuk 2 miliar dosis vaksin Covid-19 dalam bulan-bulan pertama.

Schott AG kini sudah menyiapokan kapasitas produksi tambahan sampai 1 miliar tabung di berbagai fasilitas produksinya, termasuk di AS dan di Jerman. Diperkirakan, dunia akan membutuhkan 15 miliar tabung vaksin, dengan asumsi bahwa vaksin yang berhasil adalah vaksin berdosis ganda.

"Kami memiliki kesempatan langka untuk menjadi bagian dari solusi (pandemi). Kami tahu bahwa ada ratusan vaksin yang sedang dikembangkan, dan semua vaksin tersebut membutuhkan pengemasan. Schott siap menyediakan pengemasan itu," kata Fabian Stöcker , Direktur Strategi dan Inovasi di unit farmasi Schott AG. "Ini sangat memotivasi kami, yaitu menjadi bagian dari upaya menghentikan pandemi ini."

Kaca borosilikat - standar emas Schott AG

Schott AG adalah perusahaan milik Carl Zeiss Foundation - spesialis pembuat lensa khusus menggunakan kaca borosilikat. Kaca itu ditemukan oleh Otto Schott, pendiri Schott AG. Campuran yang dia temukan itu sering disebut-sebut sebagai "standar emas" dalam hal kemasan obat, berkat ketahanannya yang ekstrem terhadap panas, bahan kimia dan kelembaman. Kaca borosilikat juga sangat padat, sehingga dianggap paling cocok untuk jadi kemasan vaksin COVID-19, karena menghindari interaksi antara material wadah dan vaksin, yang dapat merusak potensi vaksinnya.

Schott AG saat ini sudah memasok 75 persen botol vaksin untuk semua kandidat vaksin COVID-19 dalam uji klinis fase I, II, dan III, kata Fabian Stöcker.

"Saat ini, belum sepenuhnya jelas kemasan seperti apa yang akan dibutuhkan. Jelas dibutuhkan botol kaca, tetapi dalam beberapa kasus tidak jelas ukurannya. Apakah akan menjadi ukuran 2 mililiter atau ukuran 10-mililiter? Itu tergantung pada bagaimana vaksin akan diberikan nanti. Apakah vaksin itu suntikan tunggal, atau multi-dosis," jelasnya kepada reporter DW.

Bersatu melawan COVID-19

Selama pandemi corona, Schott AG tidak kekurangan order dan tetap beroperasi, karena permintaan botol kaca terus meningkat. Untuk menambah kapasitas produksi, perusahaan meluncurkan program investasi senilai 1 miliar dolar AS.

Tapi Schott AG tidak bekerja sendiri. Pesaing mereka, Gerresheimer dan Stevanato Group, juga sedang memperluas kapasitas mereka. Ketiga produsen kaca ini ingin menghasilkan miliaran botol kaca borosilikat setiap tahun untuk vaksin COVID-19.

"Virus tidak berhenti di perbatasan Jerman, atau di perbatasan AS atau Cina atau India," kata Fabian Stöcker. "Kita menyadari, ini adalah masalah global dan kitamembutuhkan jawaban global juga. Hal itulah yang mendorong banyak pemain di industri ini untuk bekerja sama, mengesampingkan dulu pemikiran persaingan."

(hp/vlz)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Apa yang Kita Pelajari dari Tikus Lucu Arktik ini?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Benua Arktik di Kutub Utara terus mencair dan membawa perubahan muram pada ekosistem Bumi. Perkemban...
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Serangan Teror di Paris Picu Diskusi Soal Islam di Prancis
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Pernyataan kecaman itu dibacakan saat Syeikh al-Tayeb berpidato di hadapan pemuka agama Kristen, Yah...
Akui Hak Berkeluarga Pasangan LGBT, Paus Fransiskus Imbau Dibuat UU Ikatan Sipil
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan dukungan paling eksplisit kepada pasangan homoseksual sejak ...
Pergulatan Prancis Melawan Islamisme  
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Akhir September lalu Prancis dikejutkan oleh serangan senjata tajam terhadap pejalan kaki di depan b...
Rasa Keadilan di Balik Sikap Paus Fransiskus Soal Ikatan Homoseksual
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Paus Fransiskus kembali membuat geger usai menyatakan dukungan atas ikatan sipil sebagai kerangka hu...
Ancaman Kepunahan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Bahasa adalah jati diri bangsa. Itu slogan lama yang sering didengungkan oleh para pamong praja atau...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV