Pembicaraan Damai Afghanistan: Meski Hadapi Kesulitan, Ada Harapan bagi Perdamaian
Elshinta
Jumat, 25 September 2020 - 12:49 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pembicaraan Damai Afghanistan: Meski Hadapi Kesulitan, Ada Harapan bagi Perdamaian
VOA Indonesia - Pembicaraan Damai Afghanistan: Meski Hadapi Kesulitan, Ada Harapan bagi Perdamaian
Meskipun Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menegaskan kembali tuntutannya untuk gencatan senjata, beberapa pihak yang menyaksikan pembicaraan damai di Doha mengharapkan tanggapan positif dari Taliban." Rakyat Afghanistan memiliki prioritas yang jelas dan mendesak: gencatan senjata. Diakhirinya segera kekerasan akan memberi kita kesempatan untuk maju," kata Ghani dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rabu (23/9). Tanggapan Taliban jelas. "Jika kita berhenti berperang, lalu apa yang tersisa untuk dibicarakan," kata seorang anggota tim perunding Taliban di Doha kepada NBC News, sebagaimana laporan yang diterbitkan awal pekan ini. Sementara perundingan bersejarah antara Taliban dan tim Afghanistan, termasuk perwakilan pemerintah, memasuki minggu ketiga, pembicaraan tersebut terhenti pada pertanyaan paling mendasar, seperti bagaimana menggambarkan perang dua dekade di Afghanistan. Taliban ingin menyebutnya "jihad". Pihak lainnya tidak setuju. Namun, mereka yang menyaksikan dan menganalisis konflik itu menyebutnya sebagai perkembangan yang positif. "Penolakan Taliban untuk gencatan senjata segera, bahasa yang digunakan untuk membahas hukum Islam Sunni non-Hanafi, hak-hak perempuan dan peran masa depan ini merupakan masalah yang sama yang menjadi realitas konflik setiap hari selama bertahun-tahun," kata Andrew Watkins dari International Crisis Group, organisasi nirlaba independen yang bekerja untuk mencegah konflik. Memulai diskusi sulit tentang bagaimana mengubah sesuatu, katanya, merupakan langkah maju. Amerika yang mempersiapkan landasan pembicaraan damai ini dengan mengadakan negosiasi sendiri selama 18 bulan dengan Taliban serta menandatangani kesepakatan bersejarah dengan kelompok militan yang pernah disebutnya sebagai "teroris," memahami, kekerasan yang berlanjut mungkin bisa menjadi masalah. "Dengan ukuran apa pun, tingkat kekerasan saat ini terlalu tinggi," kata Zalmay Khalilzad, pejabat AS yang bertanggung jawab untuk berunding dengan Taliban, kepada anggota DPR AS minggu ini. Namun, Khalilzad juga tampaknya yakin cara terbaik untuk mengurangi kekerasan adalah melalui perundingan saat ini. [my/lt]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Belarus dan Rusia Dikabarkan akan Menanggapi Ancaman Eksternal Bersama
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Presiden Belarusia Alexander Lukashenko mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo lewat ...
Infeksi Covid-19 di Eropa, AS Bertambah
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Infeksi virus corona terus merangkak di banyak bagian AS dan Eropa, sementara korban tewas di seluru...
Bentrokan Demonstran dan Pasukan Irak, Sedikitnya 39 Luka
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Sedikitnya 39 orang luka-luka ketika pasukan keamanan Irak bentrok dengan demonstran anti-pemerintah...
Zelenskiy dan Poroshenko Berikan Suara di TPS
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Warga Ukraina, Minggu (25/10), memberikan suara untuk pemilu lokal, yang dipandang sebagai uji coba ...
Redam Lonjakan Pandemi, Spanyol Berlakukan Jam Malam Nasional
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, Minggu (25/10), mengumumkan status darurat kedua dan memberla...
Paus Umumkan 13 Kardinal Baru
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Paus Fransiskus, Minggu (25/10). mengumumkan 13 kardinal baru, termasuk Uskup Agung Washington DC Wi...
Atasi Pengaruh China, India Beri Kapal Selam untuk Myanmar
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
India telah memberikan kapal selam kepada Myanmar sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengaruh mi...
Jelang Sidang Khusus Parlemen, Demonstran Kembali Padati Pusat Kota
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Ribuan demonstran berkumpul di pusat perbelanjaan di Bangkok, Thailand, Minggu (25/10), setelah Perd...
Singapura Tangguhkan Dua Vaksin Flu Setelah Kematian di Korsel
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Singapura telah menghentikan sementara penggunaan dua vaksin influenza sebagai tindakan kewaspadaan....
Warga Taiwan Pawai, Tuntut Pembebasan 12 Demonstran Hong Kong
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Ratusan orang berpawai di Taipei, Ibu Kota Taiwan, Minggu (25/10). Mereka menuntut pembebasan 12 dem...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV