Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo
Elshinta
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo
DW.com - Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo

Gatot Nurmantyo (Akmil 1982) terus berikhtiar mencari jalan menuju kekuasaan. Segala cara dia tempuh, termasuk bila harus menyusuri lorong sempit dan terjal sekali pun. Sampai akhirnya Gatot mengeluarkan senjata pamungkas, yaitu mengenakan Baret Merah dengan label empat bintang, dalam sebuah kegiatan di TMP Kalibata, awal Oktober lalu.

Mengapa saya menyebutnya senjata pamungkas? Baret Merah bagi Gatot sejatinya adalah sekadar kehormatan, sebab dia bukanlah perwira yang berdinas di Kopassus sejak awal. Lalu mengapa dia tetap memakai baret tersebut? Tampaknya Gatot sudah mati angin, kehormatan apa lagi yang masih bisa dimunculkan. Salah satunya dengan memakai baret legendaris tersebut.

Prabowo bukan rujukan

Merujuk pada Prabowo merupakan misleading. Para purnawirawan yang berniat terjun ke ranah politik praktis , umumnya berdasar kekaguman pada Prabowo, dan kemudian dijadikan sebagai rujukan. Prabowo ibarat “bayi ajaib” dalam politik Indonesia, sehingga perjalanan kariernya – baik sebagai perwira maupun politisi -- tidak bisa ditiru orang lain.

Ada logika terbalik dalam memahami Prabowo, bahwa dia berbeda dengan perwira tinggi pada umumnya dalam hal kekayaan pribadi, bukan hanya soal jumlah, namun yang lebih penting dicatat adalah bagaimana cara mendapatkannya. Karena latar belakang keluarganya, Prabowo sudah kaya sejak sebelum masuk level perwira tinggi.

Sebanyak apa pun dana pribadi Gatot, tetaplah sulit mengimbangi kekuatan Prabowo. Ketimbang Gatot sibuk “bakar duit” yang akhirnya sia-sia belaka, lebih baik dana tersebut digunakan untuk kegiatan sosial, semisal untuk membangun sekolah unggulan untuk warga tidak mampu, beserta asramanya. Kelak nama Gatot akan selalu dikenang, dan pahala bagi dirinya akan terus berjalan.

Gatot perlu belajar pada pengalaman Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto (Akmil 1970, juga mantan KSAD), yang di masa lalu juga acapkali melakukan manuver politik, namun tidak menghasilkan apa-apa. Perjalanan politik Tyasno sudah pantas disebut tragedi seorang jenderal, mengapa pula Gatot seolah mengikuti kesia-siaan yang dulu pernah ditempuh Tyasno.

Seperti juga Tyasno di masa lalu, sudah tak terhitung pula berapa kali Gatot aksi langsung turun ke jalanan. Sementara memang belum ada hasilnya atas apa yang mereka perjuangkan di jalanan, namun setidaknya telah memberi pembelajaran, bahwa dunia sipil memiliki logika sendiri. Berbeda dengan dunia militer, masyarakat sipil tidak bisa dimobilisasi melalui sistem komando, masyarakat sipil baru bergerak bila ada sarana dan logistik pendukung.

Tidak semua mantan KSAD memiliki karier politik mulus, seperti yang juga pernah terjadi pada Hartono (Akmil 1962), Endriartono Sutarto (Akmil 1971) dan Pramono Edhi Wibowo (Akmil 1980, almarhum). Hartono pernah mencoba membentuk partai di era reformasi ini, namun tidak berbunyi apa-apa di ajang pemilu. Demikian pula dengan E Sutarto dan Pramono Edhi, yang pernah merintis jalan sebagai capres melalui konvensi sebuah partai, namun hasilnya juga kurang menggembirakan.

Ibrahim Saleh sebagai trendsetter

Keterlibatan purnawirawan dalam ranah politik praktis sudah seumur dengan usia republik, jadi tidak perlu dipersoalkan lagi. Pada zaman yang semakin demokratis, siapa pun boleh meraih kekuasaan, asal memperoleh kepercayaan rakyat. Namun khusus bagi purnawirawan pati, seolah memang ada sedikit privilese, sebagai warisan politik era Orde Baru.

Di negeri kita, perwira tinggi adalah warga kelas satu, di mana-mana selalu mendapat penghormatan, dan status itu terus berlanjut ketika sang jenderal pensiun. Purnawirawan pati biasa berkumpul di tempat-tempat spesial, yang tidak mudah diakses sembarang orang, seperti lapangan golf, klub eksklusif, restoran kelas atas, dan seterusnya.

Segala citra kehormatan itu menjadi berantakan, ketika muncul figur Brigjen (Purn) Ibrahim Saleh (Atekad 1960), yang sejak berstatus purnawirawan menjadi “rajin” turun ke jalanan, dia
aktif dalam berbagai aksi demonstrasi. Ibrahim Saleh pensiun pada tahun 1994, artinya dia sudah ikut aksi (jalanan) saat rezim Orde Baru masih berkuasa. Sekadar mengingatkan, Ibrahim Saleh adalah pelaku interupsi saat Sidang Umum MPR tahun 1988, yang menentang pengangkatan Soedarmono sebagai wapres.

Purnawirawan pati termasuk kelas elite, oleh karenanya ketika Ibrahim Saleh mulai terjun ke jalanan, menjadikan sebagian besar koleganya sedikit kikuk. Ibrahim Saleh dianggap merusak citra purnawirawan pati, yang identik dengan kelas ningrat. Ketika zaman telah berganti, Ibrahim Saleh justru dianggap trendsetter bagi aksi jalanan para purnawirawan.

Dari segi usia dan energi, para purnawirawan juga masih memadai. Kita bisa melihat pada purnawirawan yang berada di seputar Istana, usianya sudah lewat dari 70 tahun, namun tetap memiliki passion untuk terus berkuasa, seperti Hendro Priyono (Akmil 1967), Wiranto (Akmil 1968) dan Luhut Panjaitan (Akmil 1970). Jadi kita bisa membayangkan, purnawirawan zaman now, yang usianya kisaran 60 tahun (generasi Gatot Nurmantyo dan Moeldoko), tentu aspirasi politiknya lebih kuat lagi, mengingat usia dan stamina masih mendukung.

Oleh karenanya perlu ada ruang ekspresi bagi purnawirawan yang tidak terangkut dalam gerbong kekuasaan. Kita bisa menyaksikan sendiri melalui media, bagaimana gemuknya birokrasi di sekitar Istana, sehingga formasi bagi purnawirawan pati menjadi terbatas, itu pun masih harus berbagi tempat dengan pati Polri, rival AD sejak lama.

Kemudian posisi sebagai komisaris BUMN, juga sama terbatasnya, karena masih berbagi tempat dengan figur sipil yang dekat kekuasaan, termasuk masih juga berbagi dengan figur Polri. Entah kenapa, rezim Jokowi terkesan “memanjakan” Polri, baik segi kelembagaan dan figur, yang menjadikan pihak TNI (khususnya AD) menjadi kurang nyaman.

Komisaris BUMN umumnya diisi oleh purnawirawan yang sejak lama memiliki kaitan dengan istana, seperti Jenderal TNI (Purn) Budiman (Akmil 1978, Komisaris Utama Hutama Karya), Laksamana TNI (Purn) Agus Suhartono (AAL 1978, Komisaris Utama PT Bukit Asam), Laksamana TNI (Purn) Marsetio (AAL 1981, sebagai Komisaris Utama Pelindo 3), dan seterusnya. Kita bisa menyaksikan, posisi sebagai komisaris bisa menjadi semacam shelter bagi purnawirawan dalam menikmati masa pensiun, agar lebih bisa tenang. Namun bagi purnawirawan seperti Gatot Nurmantyo, menjadi komisaris sebuah BUMN, bisa jadi belumlah mencukupi.

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Luangkan menulis pendapat Anda atas opini di atas di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.



Kekuasaan ibarat candu, terlebih bagi yang pernah merasakan, selalu ingin merasakannya kembali. Pepatah lama masyarakat Betawi, pangkat dan harta tidak dibawa mati, sama sekali tidak berlaku bagi para pecandu kekuasaan.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
World Cities Day: Upaya Kota-kota Dunia Atasi Perubahan Iklim
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Jumlah orang yang tinggal di perkotaan diperkirakan akan membengkak pada dekade mendatang, menambah ...
Bernyanyi Jadi Berbahaya di Zaman COVID-19?
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Di sebuah studio di kota München, sebuah tim melakukan penelitian terhadap kandungan virus COVID-19...
Amsterdam Ingin Wujudkan Ekonomi Sirkuler
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Ibukota Belanda, Amsterdam berusaha mewujudkan ekonomi sirkuler hingga tahun 2050. Jadi upaya pengur...
Surga Unik di Siprus
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Bangunan mewah dan berwarna-warni di dekat Limassol, Siprus ini adalah karya seorang seniman lokal b...
Perempuan Diimbau Aktif Redakan Kebencian Lewat Dialog 
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Dialog menutup pintu kebencian, begitulah salah satu kesimpulan akhir yang dibahas selama konferensi...
Hegel, Filsuf Jerman Sumber Inspirasi Karl Marx
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Georg Wilhelm Friedrich Hegel, adalah salah satu pemikir paling terkenal dari Jerman Ia percaya bahw...
Irak: Tatkala Upacara Pemakaman Dipindahkan ke Facebook Selama Pandemi Corona 
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Ketika infeksi COVID-19 meningkat ke level yang mengkhawatirkan di Irak, komunitas-komunitas muslim ...
Ini Yang Dikatakan Obama Tentang Angela Merkel Dalam Buku Terbarunya
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Dalam buku memoar terbarunya yang dirilis Selasa (17/11),mantan presiden AS Barack Obama menyebut An...
“Universitas Jihad“ Pakistan Berbangga atas Alumninya
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Maulana Yousaf Shah tersenyum lebar saat dia menyebutkan daftar mantan siswa yang kini telah menjadi...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV