Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 
Elshinta
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 
DW.com - Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 

Satu dari sepuluh orang di dunia hidup di dalam kemiskinan ekstrim. Nasib mereka kian runyam selama resesi ekonomi akibat pandemi. Namun wabah corona juga membantu mengurangi penetrasi manusia terhadap alam, demikian kesimpulan sebuah laporan yang disusun lebih dari 20 ilmuwan.

“Salah satu cara mengendurkan tekanan itu dan mengentaskan kemiskinan adalah dengan mengakui dan mengoptimalkan peran kritis hutan dan pohon sebagai sekutu utama dalam memerangi kemiskinan,” tulis Alexander Buck, Direktur Eksekutif Serikat Internasional Organisasi Penelitian Hutan, di dalam laporan tersebut.

Para ilmuwan mencatat, lebih dari 1,6 miliar manusia hidup dalam jarak 5 kilometer dari hutan, termasuk 250 juta penduduk paling miskin di dunia, yang seringkali bergantung hidup dari hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan pangan, obat-obatan dan sumber energi.

Di banyak negara tropis, hutan menyumbang 20-25% terhadap pemasukan penduduk lokal, setara dengan sektor pertanian.

Hutan, menurut Johan Oldekop, Guru Besar di University of Manchester, merupakan jaminan keamanan bagi penduduk dalam mengelola risiko ekonomi dan iklim. Hasil hutan bisa memenuhi separuh kebutuhan dasar penduduk miskin.

Namun mereka yang paling miskin justru mendapatkan jatah paling sedikit dari industrialisasi hutan, lantaran ketiadaan hak tanah atau minimnya hak bersuara dalam menentukan bagaimana hutan digunakan, keluh Oldekop.

“Komunitas-komunitas ini menggantungkan hidup dari hasil hutan dan sering tidak dilibatkan dalam proses pembahasan. Hal ini dibutuhkan untuk bisa mengelola hutan secara berkelanjutan di seluruh dunia,” kata dia kepada Reuters.

Dalam banyak kasus, penduduk lokal yang harus menanggung beban kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri, atau hilangnya hak memasuki kawasan yang dilindungi.

Konsep global, solusi lokal

Daniel C. Miller, Guru Besar Ilmu Lingkungan dan Sumber daya di Universitas Illinois, AS, menulis dalam laporan itu, ilmu pengetahuan belum mampu menawarkan “satu solusi pamungkas” untuk semua negara.

Namun begitu para ilmuwan menemukan sejumlah konsep yang sudah teruji mampu mengurangi kemiskinan dengan mengandalkan hutan.

Laporan itu mengutip proyek di Burkina Faso, di mana serikat petani dan pelaku usaha biji shea melatih kaum perempuan bercocoktanam. Sementara di Madagaskar, budidaya vanila dengan konsep ramah hutan sudah menjadi sumber pemasukan utama bagi petani.

Adapun di Nepal, sebagian hutan sudah dikelola oleh komunitas lokal, meski kaum miskin dan berkasta rendah mendapat jatah paling kecil.

Jika komunitas tidak dilibatkan, kata Oldekop, “maka mereka terancam termarjinalkan dan kita menciptakan lebih banyak kerugian ketimbang keuntungan.”

Salah satu sektor bisnis yang ikut terimbas dampak negatif wabah corona adalah pariwisata ekologis, yang di banyak negara menjadi sumber pemasukan utama penduduk setempat. Hal ini bisa disimak di Costa Rica atau Thailand.

Sejauh ini belum ada penelitian mengenai dampak negatif pandemi Covid-19 terhadap hutan dan kelangsungan hidup masyarakat lokal, klaim studi.

Priya Shyamsundar, ekonom senior di lembaga lingkungan, The Nature Convservancy, menilai pandemi menjadi tantangan besar bagi warga paling miskin, antara lain berupa berkurangnya akses layanan kesehatan dan hilangnya pemasukan tambahan dari keluara yang bekerja di luar kota atau di luar negeri

“Pandemi ini adalah ancaman eksistensial bagi kelangsungan hidup mereka,” kata dia.

rzn/ap (Reuters)




Hutan selama ini dibabat dengan alasan mengentaskan kemiskinan. Padahal menurut ilmuwan, hutan yang asri memiliki potensi ekonomi raksasa bagi penduduk miskin, meski belum sepenuhnya dipahami, terlebih dimanfaatkan. 
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
World Cities Day: Upaya Kota-kota Dunia Atasi Perubahan Iklim
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Jumlah orang yang tinggal di perkotaan diperkirakan akan membengkak pada dekade mendatang, menambah ...
Bernyanyi Jadi Berbahaya di Zaman COVID-19?
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Di sebuah studio di kota München, sebuah tim melakukan penelitian terhadap kandungan virus COVID-19...
Amsterdam Ingin Wujudkan Ekonomi Sirkuler
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Ibukota Belanda, Amsterdam berusaha mewujudkan ekonomi sirkuler hingga tahun 2050. Jadi upaya pengur...
Surga Unik di Siprus
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Bangunan mewah dan berwarna-warni di dekat Limassol, Siprus ini adalah karya seorang seniman lokal b...
Perempuan Diimbau Aktif Redakan Kebencian Lewat Dialog 
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Dialog menutup pintu kebencian, begitulah salah satu kesimpulan akhir yang dibahas selama konferensi...
Hegel, Filsuf Jerman Sumber Inspirasi Karl Marx
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Georg Wilhelm Friedrich Hegel, adalah salah satu pemikir paling terkenal dari Jerman Ia percaya bahw...
Irak: Tatkala Upacara Pemakaman Dipindahkan ke Facebook Selama Pandemi Corona 
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Ketika infeksi COVID-19 meningkat ke level yang mengkhawatirkan di Irak, komunitas-komunitas muslim ...
Ini Yang Dikatakan Obama Tentang Angela Merkel Dalam Buku Terbarunya
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Dalam buku memoar terbarunya yang dirilis Selasa (17/11),mantan presiden AS Barack Obama menyebut An...
“Universitas Jihad“ Pakistan Berbangga atas Alumninya
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Maulana Yousaf Shah tersenyum lebar saat dia menyebutkan daftar mantan siswa yang kini telah menjadi...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV